Minggu, 15 Januari 2017

TARIAN KOSMIK

Sangat mencerahkan untuk bisa menyaksikan ibu baik yang cerdas ini menyampaikan hasil tampungan dan olahan di kepalanya dalam perjalanannya berusaha meruntutkan pencapaian-pencapaian manusia sampai tiba saatnya dia harus mandiri memposisikan diri terhadap seluruh perjuangannya yang sama seperti perjuangan banyak manusia, untuk mengisi hasrat yang sudah dititipkan dengan jawaban-jawaban penjelasan mengenai kehidupan. Ialah Karlina Supelli dengan jalan pencarian panjangnya melalui jalur sains.  Seorang kosmolog yang juga ahli dalam bidang filsafat serta turut andil dalam gerakan aktivis kemanusiaan yang terlibat perlawanan terhadap rezim militer Orde Baru.

Dalam ceramahnya yang disampaikan pada 18 Juni 2016 yang diselenggarakan oleh Teater Salihara (mohon menyingkirkan sejenak label tentang salihara dan terik manfaat apa yang mereka lakukan) dengan tema “Kosmos dan Masalah Kebebasan Tuhan” (nonton: youtube) , ia mengahiri kebingungannya yang sangat manusiawi dengan argumen bahwa ia cemburu dengan para seniman seperti sastrawan yang lebih bebas dalam melihat dan melaksanakan dunia, sementara sains begitu ketatnya mendasari diri yang akhirnya dikatakan bahwa sebenarnya sains sendiri memberi pesona keindahan yang berbeda dan itu membuat banyak ilmuwan menjadi nyaman untuk tetap melanjutkan perjuangannya melakoni hidup di jalan itu. Karena kosmologi pun menurutnya, mungkin bungkam pada suatu titik dimana ada fakta yang tidak dapat diabaikan yang membawa kerinduan naluriah. Karena sama dengan yang dijelaskan Hawking dalam The Grand Design bahwa seluruh gambaran teori pada akhirnya hanyalah spekulasi yang luarbiasa rentannya menjabarkan realitas asli (baca: realitas).

Karlina Supelli mengakhirinya dengan sedikit puitis, untuk setidaknya menyampaikan pengetahuannya yang secara implisit mengajak serta kehidupannya yang dia sadari tak akan terlepas dengan seluruh berkah berupa perasaan sebagai seorang manusia bahwa “antara Kosmos dan Tuhan barangkali ada jeda yang tiada habis senyapnya. Dan yang paling melegakan, setidaknya bagi saya yang telah habis terbentur-bentur, jatuh berkali-kali, paling tidak berhadapan dengan bahasa sabda yang pasti dan hukum-hukum sains yang nampak pasti seperti itu, berandai-andai menolong saya menemukan ruang umpama. Maka kita mengembangkan imajinasi, dan imajinasi itu bebas”. 

Memang rumit berhadapan dengan dualisme. Barat dan timur, sains dan agama, makan ini atau itu, mencintai kamu atau dia. Maka dengan mengandaikan Tuhannya berada di pojok tak tersentuh bersembunyi membuat Karlina Supelli justru mampu membebaskan dunia yang akhirnya membebaskan Tuhan.

Fritjof Capra, juga telah mengambil sikap yang hampir sama. Setelah pergolakannya yang menghasilkan karya tulisan berupa “The Tao Of Physics” upaya menyingkap kesejajaran antara fisika modern dan mistisme timur. Dengan 6 gagasan akhir Paradigma baru yang sangat mencerahkan lewat sistem swa-organisasi. Yaitu

1. Menghubungkan bagian menjadi keseluruhan dan berakhir lebih simetris. Artinya semua bidang dpahami melalui dinamika dari keseluruhan. Seperti tidak menganggap ilmu yang satu berbeda dari yang lain.
2. Pergesaran berpikir dalam konteks struktur menuju berfikir dalam konteks proses. Artinya bahwa setiap struktur yang kita amati adalah suatu manifestasi dari proses yang mendasarinya.
3. Pergeseran dari sains objektif ke sains epistemic. Bahwa epistemology-pemahaman akan proses berpengetahuan harus disertakan secara eksplisit tentang fenomena alam.
4.  Mengganti fondasi pengetahuan yang dianggap kukuh dimasa depan menjadi perumpamaan jaringan. Maka dengan begitu deskripsi kita baik itu konsep, model, dan teori akan menyusun suatu jaringan yang saling terhubung yang merepresentasikan fenomena yang teramati. karena konsep kita hanya sekedar konsep yang coba dilekatkan pada realitas sebenarnya.
5. Pergeseran dari kebenaran menuju deskripsi-deskripsi aproksimasi (kira-kira). Karena semua terhubung, kita harus memahami semua, tapi bagaimana bisa? Kita sangat terbatas, mustahil. hanya mengira-ngira realitas
6. Pergeseran metode dan nilai dari sikap mendominasi dan kendali atas alam termasuk umat manusia dalam ilmiah menjadi sikap kerjasama dan antikekerasan terhadap manusia, alam, dan cara kita berpengetahuan. Dalam hal ini sejarah mempersonifikasikan pada Francis Bacon yang dengan kelewat bersemangat dan seringkali bernuansa kejam untuk menundukkan alam yang sifatnya liar untuk bisa melayani dan memperbudak. Dengan menyiksa alam untuk maksa memberikan rahasia-rahasianya.

Akhirnya pun fisika, sebagai imam bagi bentuk sains yang lainnya, kehilangan peran dan berdampak pada sains lain semisal psikologi yang  memakan waktu cukup panjang mencari jati dirinya bahkan sampai saat ini. Desakan umat manusia hari ini untuk menyadari bahwa kita sudah melewati batas akan alam. Dan kita sudah terlalu jauh memanipulasi kesadaran murni dengan perkembangan materialistic.

Capra sudah menyampaikan pentingnya berposisi dalam menjalankan peran masing-masing. Di karya selanjutnya ia kemudian ia menemukan pertentangan kapitalisme global dam perencanaan eco-design yang berwawasan ekologis. Perjalanan keduanya menjadi tabrakan. Ia merasa harus mengubah sistem nilai yang mendasari ekonomi global sebelum terlambat. Dan dengan jelas, jernih  dan  praktis bukunya The Hidden Connections memperlihatkan pada kita bagaimana caranya.

Sama halnya pentingnya kita menemukan diri. Mencari gambaran ritme tarian diri masing-masing untuk sesegera mungkin mampu menghayati dan bergerak dalam proses hidup masing-masing. Dengan begitu, saya pikir setiap saat dalam langkah berkehidupan akan menjadi sebuah doa, harapan, dan perjuangan dengan garis finish yang sama kita rasakan, dimana ujung dari semua ini menjadi hal misterius terbesar yang mendorong kita untuk tetap memperjuangkan hal itu. lagi pula hal apalagi yang menarik bagi manusia jika pencariannya telah usai? Jika segala sesuatu telah menjadi kepastian? Dimana lagi letak estetika hidup? Ketegangan, jatuh cinta, cemburu, gusar, bahagia? padahal dengan instrumen manusia yang ada, membuat hal yang baik  mengalir disetiap partikel kehidupan, pun yang tidak baik untuk dirasakan yang semua akan saling hadir dalam panggung eksistensi bermanusia di proses pencariannya. Maka menemukan diri adalah langkah yang sangat bijak untuk memposisikan diri dalam perannya di dunia.

Apakah kita harus semuanya menjadi ilmuwan dan melakoni setiap detail-detail di laboratorium? Kita saling bahu membahu. Menyampaikan temuan masing-masing. Karena segalanya begitu besar, bisa saja di zaman itu Aristoteles, Plato, atau Galileo mampu mengetahui banyak apa yang terjadi dengan kemajuan pengetahuan saat itu, namun sekarang semua sudut bergerak sangat cepat, sangat luas, sangat dalam, dan hampir dipastikan siapapun dia, bagaimanapun kesungguhannya untuk belajar, selalu saja ada yang luput dan tidak ia ketahui.

Misalkan saja Erie Setiawan sebagai pakar musikologi juga telah memposisikan dirinya. Menemukan dirinya untuk melakoni hidup pada jalur musik. Perbedaan epistemology dan keabstrakan musik malah menjadi salah satu jalur terselubung yang membuahkan arah yang sejalan dalam pencerahan kesadaran bermanusia seutuhnya. Dengan pilihannya memasuki alam musik, ia kemudian banyak memberitakan hasil temuan-temuannya yang sangat indah dan mendidik yang selalu di kabarkan beliau lewat ceramah formal, diskusi, dan dalam tulisan-tulisannya.

Tapi sebentar lagi saya harus melakukan banyak keharusan yang tidak sesuai ritme diriku. Kadang-kadang aku keras terhadap apa yang kuanggap penting untuk kulakukan. Karena mudah saja bagiku untuk membentuk alasan agar tidak mengikuti tarian. Tetapi saya menyadari banyak selimut kemalasan disana. Nietzsche membuktikan keteguhannya dan sangat keras untuk hal itu. Lagian itu semua menjadi Swa-organisasi kehidupan kata Capra. Jadi hadapi saja, tidak dihadapi pun toh tetap penjadi penghadapan dengan cara yang berbeda.



Melelahkan memang berjalan sendiri.Setelah ini, Tidak perlu lagi apa isinya, saya butuh berbicara dengan seseorang sekarang.  Aku sudah mempelajari bagaimana bisa menjinakkan serigala dari setiap cambukan bunyi kata-kata angin, busuk, basi. Namun tak terduga, ada saja makna tersembunyi yang bisa kupetik dari perjumpaan. Dan ini yang membuatku sedikit tenang. Tabrakan dalam dansa menjadi hal yang lucu dan sangat wajar. Karena kita sesungguhnya tidak sedang berkompetisi.

Rabu, 11 Januari 2017

TEMUI AKU BESOK JAM DUA BELAS SIANG



Esok hari, setelah kamis ini, Aku ingin menemui mu seperti seseorang muslim mendatangi pertemuan jumatan. Kau hanya boleh mendengarku dengan bayangan dosa yang dibebankan di setiap kata yang sengaja kau suarakan di ruangan itu. Kau boleh saja mengatakan hal ini sebuah egosentris, karena memang setiap orang sepertinya punya hak memposisikan dirinya untuk berpendapat sesuai pengetahuan dan olahan pikirannya terhadap apa yang dia alami. Walaupun hak seperti itu sebenarnya hanyalah buatan kesepakatan kita tentang bagaimana seharusnya sebagian naluri kita tersalur dalam hal bersikap jika kita mau jujur dalam merenungi. Tapi kalau begitu, akupun berhak mengatakan bahwa selama ini telah ku posisikan diriku sebagai seorang musafir yang menghampiri sebuah masjid di sebuah desa kecil tempat warga sekitar menerima ketenangan akan hari-hari yang sulit dijelaskan, walaupun kita kembali merasa bahwa tidak semua harus dijelaskan, karena tidak semua menerima berarti kekalahan oleh ketidakmampuan dimana banyak gairah diselimuti kemalasan. Aku disini, sampai hari ini, mendengarkan mu. Lebih dari kata mendengar.

Tenang saja, omongan kita nanti tidak akan seperti pengkhotbah yang berkepentingan secara sengaja membicarakan segala hal atas kepentingan akhlak mulia bagi ummat beragama. Tapi Itu tidak berarti tidak penting, hanya saja sepertinya terasa lebih sulit. Aku hanya ingin berbicara besok denganmu.

Baiklah, jadi begini, yang akan kuungkapkan besok, secara garis besar kemungkinan seperti ini, bahwa setiap orang bisa saja berubah dalam sekejap pada suatu saat karena sebuah insight yang bisa menyambar dalam hal-hal sederhana ataupun proses yang panjang. Dan perubahan itu, sesuatu yang sulit digambarkan oleh setiap orang karena kompleksitas dunia yang telah di ramu sedemikian rupa oleh Yang Maha Seni. Aku bisa saja tidak bisa menemuimu dengan orang yang sama jika, bahkan hanya beberapa saat tidak mengikuti hidupmu, apalagi terpisahkan dengan ruang yang jauh.

Tapi itu sepertinya kesimpulan keremajaan ku yang terlalu kekanak-kanakan, karena bentukan hal seperti itu tak terelakkan dalam hidup yang aku pilih. Tetapi seperti banyak bentukan lain, memang otak kita sering bekerja untuk mengkotak-kotakkan realitas. Bentukanku ini pun harus tetap dijadikan sebuah sudut memandang. Aku, sepertinya hari ini, dengan jujur, hanya meyakini untuk membuat banyak ruang berdiri di berbagai sudut tetapi tidak melupakan membuat pula jalur untuk bisa melihat lebih dekat atau menjauh serta lebih tinggi dan rendah untuk bisa melihat kedalaman, keterkaitan, dan hubunganku dengannya.

Namun tenang saja, alismu jangan terlalu cepat kau kerutkan (aku berharap besok tidak seperti itu). Karena hal seperti itu terlalu banyak bermain dengan akal. Sementara kita ras manusia memiliki hal hal sederhana yang selalu tidak mampu dirasionalisasikan. Yang banyak mengikat hubungan manusia dengan kebeningan. Cinta yang baik hati itu dengan mudah terikat kebanyak hal seperti teman, keluarga, benda, kita, dan segalanya yang bisa dirasakan. Kita pun akhirnya bisa bertemu besok dengan diri yang telanjang akan kemurnian masing masing.

Jadi yang perlu kita temukan hanyalah, apakah memang kau dan aku tidak saling menjadi halangan atas kehidupan yang tetap harus dijalani di realitas hari ?. Dan karena hambatan pun tidak selamanya buruk. Maka temui aku besok jam 12 siang, saat matahari terik di atas kepala, dan aku akan melihat matamu. Karena sering kali jawaban disana lebih banyak dari ucapanmu bahkan saat ia menutup.




 
biz.