Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Januari 2015

CEMAS


Aku menyadari bahwa selalu ada jalur pada pemikiran, jalur sudut pandang, jalur bias lingkungan dan pengalaman yang terbentuk sendiri pada setiap kepala, atau bahkan itu tidak ada. Pemaknaan ini dihalangi bahasa yang tidak sanggup menampungnya, atau hanyalah kosakata pribadi yang tidak kuketahui, atau bahkan susunan huruf dan kalimat yang masih acakan, abstrak, tidak tercapai. Penyadaran ini hanyalah pembatas melampiaskan. Aku berterimakasih pada pencipta bahasa, bunyi dan lagu, puisi, gerak tubuh, otak-otak yang lain, serta Tuhan yang membantuku untuk melakukan pengungkapan. 

Belakangan ini begitu banyak cemas menghampiri. Cemas ini seolah datang pada masa-masa yang menurut orang adalah sebuah fase. Keadaan yang menurutku juga menakutkan ketika terlibat dalam arus yang terkesan  seolah agak soksok-an, atau hanyalah persepsi yang menjadi-jadi.

Aku merasakan betul berada dalam fase ini, fase anak kuliahan, fase dimana pertanyaan kecil dan besar, sederhana  dan rumit, labil dan kompleks, eksistensi dan murni terus mengalir baik pasif dan aktif, terjawab dan tidak terjawab, terabaikan dan memusingkan. Dunia menjadi teka teki rumit. agama, politik, struktur, sistem, sains, metafisika dan yang lain sungguh tak bisa kujamah. Citra, simbol, konsep, sepertinya tak punya realitas esensial pada dirinya sendiri, sekedar representasi alam material yang nyata. pikiran, kesadaran, jiwa adalah propertis dari alam indrawi dan dinamika saraf. Kebahagiaan adalah kadar dopamine, depresi adalah serotonin disimpul syaraf, gelisah adalah acetylcholine di hippocampus. Dan yang menarik itu semua tidak salah amat

Aku rasanya belum sempurna seAku-aknya, Aku masih berproses menjadi Aku, Aku yang terus dibenturkan oleh lingkungan sekitar dan juga cara, pola, serta pemberian Tuhan yang terus berproses. Menyadari bahwa Aku yang tertulis, kusebutkan, dan kusebutkan bukanlah Aku yang murni, belum lagi jiwa yang sepertinya bersebrangan namun tetap berada pada jalur Aku, atau bahkan tidak. Jiwa yang  mengambang, membuat ruang kosong untuk isi-isian yang terus terganti oleh Liyan. Bebebrapa yang aku tuakan juga mengiyakan, memuntaahkan sedikit ceritanya,, membuat fase-fase baru. Belum lagi muntahan lebih jauh yang aku sebutnya fase umum oleh level selanjutnya. Aku menyadari betul petualangan fikiran, dan rasa ini bisa saja berbeda pada level yang lain atau stag, atau bercampur. Hanyalah pola yang semua manusia akan lewati, atau tidak semua karena pembatas kompleks. Hanya mencoba berimajinasi pada posisi level selanjutnya yang tidak mungkin kulangkahi ketika belum waktunya. Sejauh apapun mencoba, saat ini Aku hanya terdiam di titik ini, pada level ini. Akan kuyakini waktu yang sebenar-benarnya waktu akan menjawab dengan arah yang tidak kuketahui darimana datangnya dan tidak akan kuketahui kapan berpindah. Atau semua itu tidak ada.

Idealisku mulai kupermainkan, kudesain, kurangkai, kadang ambruk, berantakan, bahkan lenyap sekilas. Mencoba melakukan posisi netral pada setiap posisi yang kusadari betul itu akan sungguh rumit bahkan tidak mungkin. Hanya bisa merasa bahwa setiap titik di perjalanku menjadi titik tengah. berada antara yang kaya dan miskin, pintar dan belum pintar, bodoh dan tidak bodoh,  baik dan belum baik, bahkan idealis dan belum idealis. Padahal titik itu sebenarnya masih jauh lebih banyak dari jangkauanku sendiri. titik kaya dan miskin, titik kaya sekali dan kaya, miskin sekali dan miskin, titik ditengahnya lagi yang tak berujung. Bahkan Pandanganku akan posisi netral bisa saja hanyalah sudut pandang pada titik yang jauh dari titik tengahku sekarang. Titik dimana aku sedang bergantung, dan melayang. Dan kupastikan itu bukanlah titik tengah sepenuhnya, sempurna. Semua orang bisa menganggap dirinya berada pada titik mana saja, dan Aku melakukan hal yang sama.

Dalam beberapa lontaran argumen, pendapat, ataupun pertanyaan, Aku menyadari betul bahwa itu murni kelabilan dan rasa ingin tahulu yang masih ingin. Soe Hok Gie adalah bentuk nyata yang masih kuagungkan. Hanyalah kata "aktivis" dan "idealis" yang kadang menghiperbola keadaan, suasana, dan pemaknaan. Melunturkan kemurnian jiwa yang ingin bersuara atau hanya berbisik atau bahkan berteriak. Namun pada posisi ini, lagi-lagi terdapat fase baru, fase yang kubuat sendiri pada titik yang tidak kuketahui dimana letaknya. Fase yang seolah menjadi lawan, tersingkirkan, menyendiri, sok, atau biasa. 

Kecemasan ini sepertinya lebih dari kecemasan, ada banyak bisikan dari luar dan dalam yang memisahkan seluruh rasa dan entah dimana mereka bersatu tercampur aduk. Cemas sebagai fese, titik, atau entah apa namanya. Ada rindu, kecewa, harapan, gelisah, bahagia, nikmat, santai, tegang,bahagia, marah, sepi, ramai dan rasa abstrak lain. Semuanya bersuara. Belum lagi pada hamparan dunia materialistik didepanku yang berbahasa beda. 

Dan ternyata Aku tidak sendiri disini, hanya merasa. Cemas hanyalah cemas yang kuyakini akan berpindah pada dualismenya. Aku disini dengan air dimata dan Aku siap



Selasa, 25 November 2014

OTAK KANAN DAN OTAK KIRI



kalo kita ke toko buku sering kita menemukan banyak buku tentang otak dengan berbagai macam judul. Ada cara berbisnis dengan otak kanan lah, mengoptimalkan otak kanan, keseimbangan otak, aktivasi otak kanan, aktivasi otak tengah ataupun judul-judul lainnya mengenai pembagian otak ini.


Istilah keren dari otak adalah hemisfer, Artinya ada hemisfer kanan dan kiri. Sampai hari ini pun saya masih terkagum-kagum sama materi biologis ini yang beratnya hanya sekitar 3pons untuk orang dewasa rata-rata, berwarna merah muda ke abu-abuan. Secara kondisi fisik bisa kita dikatakan tidak menarik sama sekali. Tetapi mengandung milliaran neuron yang mengontrol seluruh fikiran dan tindakan kita. Meskipun manusia sedang berusaha membuat sebuah komputer yang berusaha meniru kinerja otak dari manusia, itu bisa dikatakan mustahil, bahkan untuk mendekatinya pun itu bisa dikatakan tidak mungkin.


Ada film recomended banget nih yang membahas tentang otak, judulnya “LUCY”. Jadi gambaran besar di film ini adalah menceritakan bahwa  saat ini manusia hanya menggunakan kemampuan otaknya hanya 4%-10%. Akibat sebuah obat-obatan terlarang yang tidak sengaja ia konsumsi akhirnya memancing kemampuan otaknya bertambah. Di film ini lucy yang diperankan oleh Scarlett Johansson mengambarkan apa saja yang bisa dilakukan ketika kemampuan otak bisa di gunakan hingga 100%. Namun pada akhir ceritanya, karena overdosis, lucy mati dan amanat terakhir bahwa sepertinya tidak mungkin manusia bisa mencapai kemampuan ini karena hanya Tuhan yang bisa melakukan apa yang bisa dilakukan di 100% kapasitas otak manusia. Dalam buku “Educational Psychology”oleh Jhon W.Santrock juga  mengatakan bahwa Sinapsis ialah celah kecil antara neuron tempat hubungan antara neuron dibangun dibuat dua kali lebih banyak dibanding jumlah yang kelak akan digunakan.



Memang dibagian kanan dan kiri dari hemisfer ini mempunyai kekuatan tersendiri mengenai fungsi seperti otak kanan yang selalu difungsikan untuk pemahaman hubungan spasial, pola gambar, music, ekspresi wajah, memproses secara global dengan sudut pandang menyeluruh, berbeda dengan si hemisfer kiri dengan logika, kritis, dll. Dalam kasus real di film “Gifted Hands” yang menceritakan dokter bedah hebat bernama Dr.Benjamin Carson yang diperankan oleh   Matt Damon. Dalam kisahnya, ada seorang anak yang mengidap penyakit kejang-kejang yang mengharuskan otak kirinya di angkat. Itu artinya dia akan kesulitan mengenali orang, menulis, dan berbicara. Namun pada kenyataannya sehari setelah operasi dia mampu mengenali orang tuanya dan berbicara. Apa yang selama ini yang kita anggap pekerjaan salah satu bagian otak akhirnya mampu dilakukan dibelahan otak lain dengan latihan. Semua bagian akan memainkan peran secara tandem dikedua hemisfernya. Sebuah kesalahan berfikir bahwa jenis informasi tertentu diproses hanya di hemisfer kanan misalnya. Mereka akan saling bergantung satu sama lain menginterpretasikan dunia.

Sabtu, 22 November 2014

SEBUAH REFLEKSI KEPAHLAWANAN


Kemarin baru saja kita memperingati hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November 2014. Teringat kata-kata Bung Soekarno “JAS MERAH”  yang merupakan singkatan dari “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”.  Tanggal 10 November memang bukan tanpa alasan, Hari itu terjadi perang besar antara tentara Indonesia beserta sukarelawan yang dipimpin oleh Bung Tomo melawan 30.000 tentara sekutu bersenjata lengkap beserta tank, pesawat dan kapal laut di Surabaya.
Tanggal itu hanyalah symbol untuk kita bisa berhenti sejenak, mengingat apa yang telah terjadi di masa lalu, menjadi sebuah refleksi, semangat, serta mempelajari kesalahan untuk bertindak lebih baik.  

Teringat pula nama Ibu Kartini yang turut berperan besar sebagai sosok wanita di Indonesia. lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah. Ia anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat. Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya. Ia juga banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. Surat-surat Kartini  berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar.

Dari kisah kartini ini, saya mengutip sebuah nama yang saya anggap sebagai salah satu pahlawan Psikologi, ia adalah Margaret Floy Washburn. Sosok yang saya baru kenal ketika membaca buku pengantar “Understanding psycholohy” oleh Feldman. Kalo saya melihat fenomena saat ini khususnya  dalam wilayah ilmu Psikologi di Indonesia. Ilmu ini diminati oleh mayoritas perempuan  entah karena sebuah alasan yang saya sendiri tidak ketahui. Padahal Pada awal tahun 1900 wanita yang ingin mempelajari psikologi masih dipandang sebelah mata, terbukti dari beberapa universitas dahulu tidak menerima mahasiswi untuk jurusan psikologi.  Namun pada akhirnya paradigma itu dipatahkan setelah Margaret Floy Washburn di tahun 1939 sebagai  wanita pertama yang berhasil meraih gelar doctor di bidang psikologi. Dan karena itu wanita mulai dipandang di dunia psikologi dan berkonstribusi banyak terbukti dari beberapa nobel berhasil di terima oleh beberapa psikolog wanita.

 
Mari kita berkenalan lebih jauh dengan beliau. Margaret Floy Washburn lahir pada 25 Juli 1871 di New York City. Dia adalah anak satu-satunya. Meskipun dia tidak memulai sekolah sampai dia berusia tujuh tahun, ia belajar membaca dan menulis sebelum itu. Dia menghadiri sekolah umum ketika dia berumur sebelas tahun, dan kemudian Keluarganya pindah ke Sungai Hudson di Kingston, di mana ia menerima pendidikan SMA-nya. Dia lulus dari sekolah tinggi pada usia lima belas pada tahun 1886. Berikutnya ia masuk ke Vassar College di mana dia berkonsentrasi dalam kimia dan bahasa Perancis. Namun, ketika dia lulus pada tahun 1891 minatnya telah berubah menjadi filsafat dan ilmu pengetahuan dan mengkrucut setelah mengenal ilmu baru yaitu psikologi ,dari situ  ia bertekad untuk belajar dengan Cattell di laboratorium psikologi Columbia University yang baru didirikan. Meskipun ia sepenuhnya diterima dan didorong oleh Cattell bahkan, Cattell memperlakukannya sebagai mahasiswa biasa, hal yang ia inginkan agar dirinya diperlakukan sama dengan laki-laki, namun Columbia tidak akan mengakui seorang mahasiswa pascasarjana wanita. Tetapi, setelah tiga bulan usaha ia mendapat dispensasi khusus dari wali diizinkan untuk mendaftar di kelas Cattell sebagai "pendengar."

Pada akhir satu tahun Cattell menyarankan dia untuk mentransfer ke Sage Sekolah Tinggi Filsafat di Cornell University, di mana ia mungkin menerima tidak hanya gelar, tetapi juga beasiswa. Setahun kemudian, pada tahun 1894, ia memperoleh gelar Ph.D. Menurut Washburn, Cornell University adalah tempat yang penuh inspirasi untuk belajar  karena banyak dosen yang begitu muda. Pada tahun 1894, ia dianugerahi gelar Ph.D. oleh Cornell University. Dia adalah wanita pertama yang menyelesaikan gelar Ph.D. di bidang psikologi. Setelah memperoleh gelar doktor, dia pergi ke Universitas Wells menjadi  Profesor Psikologi, Filsafat, dan Etika. Dia tinggal di sana selama sekitar enam tahun. Pada tahun keenam di Wells ia menjadi gelisah, dan merasa bahwa mungkin jika satu tahun belajar  di laboratorium Harvard akan membuat perubahan yang merangsang untuknya. Saat diberi cuti di musim semi  tahun 1900, telegram dari Presiden Schurman membuatnya berubah fikiran saat Dia diminta untuk datang ke Cornell dengan kesempatan untuk bekerja jadi psikolog dengan gaji sebesar seribu lima ratus dolar serta diberi rumah. Oleh karena itu, ia kembali ke Cornell selama dua tahun. Pada tahun 1902, ia menerima posisi di University of Cincinnati sebagai asisten profesor. Dia adalah satu-satunya anggota fakultas wanita.

Dia kembali ke Vassar College, pada tahun 1903, menandai titik penting dalam kariernya. Pada tahun ini ia diakui sebagai salah satu orang paling penting dalam ilmu pengetahuan. Dia juga ditunjuk sebagai editor bekerja sama dari American Journal of Psychology. Dia memegang gelar itu sampai dia meninggal. Pada tahun 1908. Dia tetap di Vassar selama sisa hidupnya. Dia pensiun sebagai Profesor Emeritus Psikologi pada bulan Juni 1937. Selama tahun-tahun di Vassar dia menjadi seorang profesor dikagumi. Ketika ia mencapai titik tertinggi keberhasilannya sebagai seorang pendidik, ia menerima $16.000 dari murid-muridnya setelah menyelesaikan dua puluh lima tahun layanan untuk Vassar. mereka ingin Floy Washburn menghabiskan dana itu untuk dinikmati sendiri. Namun, ia menghiraukan dan mendirikan dana beasiswa bagi mahasiswa psikologi.

Memang, Washburn adalah seorang guru terkenal.  Tapi dia juga terkenal karena kontribusinya dalam teori pembangunan, pekerjaan eksperimental, perilaku hewan, dan layanan profesional. Dia menerbitkan lebih dari 200 artikel dan ulasan ilmiah. Selain itu, dia menerjemahkan Sistem Etika Wundt pada tahun 1897, dan menulis dua buku: The Animal Mind pada tahun 1908, serta  movement and Mental Imagery pada tahun 1916. Antara tahun 1905 dan 1938, ia menerbitkan enam puluh delapan studi dari Vassar Psikologis laboratorium dengan bantuan 117 siswa.

Dia bekerja sebagai editor Psychological Bulletin dari 1909 sampai 1915. Dia juga menjadi Editor Associate Journal of Animal Behavior tahun 1911 melalui 1917. Menjadi Penasehat Editor dari Psychological Review pada tahun 1916 to1930. Dari Pada tahun 1921, dia menjadi  presiden dari American Psychological Association. Pada  tahun yang sama, ia dihormati dengan diberikannya hadiah sebesar $ 500 oleh Edison phonograph , sebuah Perusahaan penelitian pada efek musik. Penelitian ini tentang "Pengaruh Emosional Instrumental Music”  di Vassar.Margaret Floy Washburn meninggal dunia karena sakit yang dimulai pada tanggal 17 Maret 1937. ia menderita pendarahan otak. Dia meninggal pada tanggal 29 Oktober 1939 di rumahnya di Poughkeepsie, New York, pada usia enam puluh sembilan.

Dari kisa perjalanannya yang panjang dan luarbiasa, saya menanggap Margaret Floy Washburn adalah seorang pahlawan. Ia turut menyumbang sumbangsi tidak hanya di dunia psikologi namun juga mengenai masalah gender.
Sejarah merupakan sebuah refleksi, renungan, dan semangat. Merupakan kumpulan  Kisah-kisah sedih, bahagia, perjuangan, menjadi sebuah drama indah. Sejarah syarat akan energy bagi yang mengikutinya dilevel seolah ia ada dimasa itu. Menjadi sebuah kebanggaan, luka, dan perubahan. Inilah sejarah dimana Pahlawan ku menjadi aktor yang sempurna didalamnya.


SELAMAT HARI PAHLAWAN, 10 NOVEMBER 2014

Rabu, 05 November 2014

PASAR BEBAS AFTA (Asean Free Trade Area) 2015


Sejak dua tahun terakhir ingar-bingar pemberitaan tentang AFTA meluas pesat. Kecemasan mulai menggerogoti fikiran kaum intelektual. AFTA (Asean Free Trade Area) adalah salah  satu  kesepakatan oleh negara-negara di asia tenggara yang telah dilakukan di Singapura pada tahun 1992. Dalam pertemuan ASEAN Summit ke-4 yang di awali oleh enam negara yaitu Brunei,  Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, serta Vietnam, kemudian disusul Laos dan Myanmar pada tahun 1997, serta Kamboja di tahun 1999. Pelaksanaan perjanjian AFTA ini berupa dibentuknya Asean Economic Comunity (AEC), yang diintegrasikan pada tahun 2015. AEC ini akan mengubah ASEAN menjadi daerah dengan pergerakan bebas pada barang, pelayanan, investasi, tenaga kerja yang terampil,dan aliran modal yang lebih bebas juga.

Beberapa tujuan AFTA yakni menjadikan kawasan ASEAN sebagai tempat produksi yang kompetitif sehingga produk ASEAN memiliki daya saing kuat di pasar global, kemudian menarik lebih banyak Foreign Direct Investment (FDI), serta meningkatkan perdagangan antar negara anggota ASEAN (intra-ASEAN Trade). Untuk menyederhanakan AFTA, kita bisa membayangkan ketika barang-barang  akan bebas berputar di negara-negara Asia tenggara tanpa adanya pajak. Pelajar akan bebas berpendidikan dinegara Asiatenggara dan seluruh manyarakat punya hak untuk tinggal dan bekerja dimanapun dikawasan AFTA tanpa visa.

Namun ada tantangan besar yang harus dihadapi Indonesia dalam menyambut AFTA, yaitu yang pertama bagaimana produsen Indonesia dituntut untuk terus dapat meningkatkan kemampuan dalam menjalankan bisnis secara profesional guna dapat memenangkan kompetisi produk, disamping itu pemberdayaan SDM di Indonesia masih jauh tertinggal, dilihat dari catatan BPS pada Agustus 2013, bahwa pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 6,25%. Dari sumber yang sama kita dapati masih ada lebih dari 360 ribu sarjana yang menganggur. Angka yang sangat memprihatinkan, dan berdasarkan indeks kompetensi yang dikeluarkan oleh World Economic Forum pada tahun 2013, bahwa Indonesia menempati urutan ke-50 atau lebih rendah dari Singapura (ke-2), Malaysia (ke-20), dan Thailand (ke-30). Rendahnya kompetensi sumber daya Indonesia diperoleh dari faktor-faktor yang saling berkaitan seperti: tenaga kerja/ahli profesi yang tidak memiliki kualifikasi mumpuni; minimnya pelaksanaan sertifikasi kompetensi; belum sesuainya kurikulum di sekolah menengah dengan keahlian profesi; serta sumber daya manusia di Indonesia yang sangat berlimpah namun belum dapat dioptimalkan oleh pemerintah. Apalagi melihat tamatan SMA, SMP dan SD, tentunya akan mempunyai kesulitan yang lebih dalam persaingan mencari kerja. Dengan adanya diterapkannya AFTA bisa jadi akan ada ledakan pengangguran terdidik yang semakin nyata. Tenaga kerja dari luar negeri akan menjadi tenaga-tenaga ahli, sementara kita hanya akan mengirim mayoritas tenaga kerja kasar seperti pembantu rumah tangga, sopir, dan pekerja pabrik. Apalagi Indonesia adalah target pasar nomor empat didunia, tidak heran ketika Ashwin Pulunga berpendapat, bahwa “sadarkah kita semua bahwa AFTA dan WTO  merupakan grand strategi tinggi para kapitalis dunia untuk menghilangkan kedaulatan sebuah negara?” selain Indonesia sendiri, negara seperti Kamboja, Laos, dan Myanmar sebenarnya juga jika dilihat dari data-data dan hasil survei belum siap akan AFTA.

 Terlepeas dari itu, ada beberapa keuntungan yang bisa didapat Indonesia dengan adanya AFTA, seperti peningkatan dalam memanfaatkan Pariwisata sebagai sumber devisa selain dari sumber daya alam, kerjsama menjalankan bisnis  dengan  pelaku bisnis di negara-negara Asean, peluang pasar yang besar dan luas bagi produk Indonesia.

Saya rasa ini adalah salah satu informasi yang wajib diketahui oleh seluruh masyarakat Indonesia, terutam mahasiswa untuk mempersiapkan diri. Saya paham betul bahwa Indonesia belum siap dengan ini, namun kesepakatan akan tetap terlaksana di tahun depan, 2015 sekitar bulan Desember. Kita punya seribu alasan untuk mengatakan Indonesia tidak siap dengan AFTA, namun mari kita memulai dengan planning diri sendiri untuk menghadapi AFTA, misalnya bercita-cita dan berjuang untuk bisa berpendidikan tinggi di dalam maupun diluar negeri, meghasilkan/menciptakan  produk-produk baru yang bisa bersaing, atau mempersiapkan planning lain yang meningkatkan kualitas diri.

Menyalahkan Indonesia hanyalah gerakan jalan ditempat. Indonesia hanyalah nama, benda mati yang digerakkan oleh manusia-manusia yang bernaung didalamnya. Gerakan persiapan yang bisa ditiru yaitu, seperti negara Brunei Darussalam yang menambahkan kurikulum bahasa Indonesia di SMA untuk meghadapi AFTA. Bahasa Inggris adalah harga mati untuk ini semua.

Kita bisa merasakan gerakan semangat menghadapi AFTA yang ditunjukkan lewat seminar dan talkshow beberapa Universitas di Indonesia khususnya Fakultas Psikologi. Seperti di UAD oleh Drs.choirul Anam, M.Si dengan topik “Persaingan Menghadapi AFTA/ASEAN Community 2015”. Ada lagi  di kota Manado yang menjadi tuan rumah event bertaraf nasional dengan gelaran temu ilmiah dan kongres Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) yang mengundang beberapa utusan negara di ASEAN, dengan topik “Pembahasan Integritas, Keberbedaan & Kesejahteraan Psikologi: Psikologi Menjawab Tantangan Nasional, Regional, dan Internasional”. Di antara beberapa tokoh yang akan hadir adalah DR. Goh Chee Leong (President ASEAN Regional Union of Psychological Society), DR. Bambang Widjojanto (Komisi Pemberantasan Korupsi), Prof. Dr. Hamdi Muluk, M.Si (pakar Psikologi Politik Indonesia), serta Seto Mulyadi (psikolog anak dan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak). Kemudian gerakan PSYWEEK oleh BEM Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran dengan topik “Mempersiapkan mahasiswa, umumnya generasi muda, khususnya mahasiswa psikologi, dalam menyambut pelaksanaan dari perjanjian Asean Free Trade Area (AFTA)”.

Sabtu, 25 Oktober 2014

BAGI KALIAN YANG LDR


BAGI KALIAN YANG LDR



Sebenarnya ini tidak hanya terkhusus bagi kalian yang LDR, karena saya rasa setiap dari kalian yang menjalani hubungan apakah itu pacaran sewilayah, atau bahkan yang menjalani hubungan kesepakatan tanpa status dengan modal saling percaya akan membutuhkan informasi ini untuk kelancaran hubungan kalian.


Mari kita focus pada kata distance. Kalau kita lebih mengamati, sebenarnya kita semua yang menjalani hubungan akan menimbulkan jarak. Ada berjarak hanya sekompleks, ada berjarak 5km misalnya dari rumah masing-masing, berjarak kota ataupun yang Long distance nya sampai pisah provinsi, pulau, dan Negara. Dan banyak masalah masalah-masalah kecil yang menjadi fatal akibat adanya jarak. apalagi jarak tidak akan bisa terhindarkan bagi yang menjalin hubungan.


Agar distance atau jarak ini tidak merangsang masalah-masalah yang membuat hubungan kita goyah, biasanya kita membutuhkan dua komitmen yaitu komunikasi lancar dan saling percaya. namun hal ini rasanya agak sedikit kurang lengkap. Kemarin-kemarin saya mencoba menganalisis dan mendalami masalah jarak ini dengan melihat hubungan-hubungan dilingkungan sekitar dan pengalaman atau lewat media. Dan akhirnya saya menemukan sebuah masalah dasar yang disebabkan jarak ini.


Kali ini saya akan menjabarkan teori saya sendiri. Cieee…sok berteori hahaha. Nah, jadi saya sebut Hukum X dan Y, dimana X mewakili rasa wanita, dan Y mewakili rasa yang laki-laki. Saya curi sedikit materi persilangan terkhusus kromosom X dan Y manusia  waktu belajar biologi di SMA.


Pernah tidak kalian merasakan dari yang berhubungan biasa aja, tiba-tiba hati kalian merasakan rindu yang luarbiasa terhadap pasangan, rasanya ingin bertemu, ingin berkomunikasi setiap saat, fikiran hanya berputar dan berimajinasi tentang wajahnya, merasa bahagia, seolah dunia milik berdua dan ingin menghabiskan waktu dengannya. Namun sebaliknya, kadang dari garis biasa saja, tiba-tiba kalian merasa bosan, malas mikir pasangan, apalagi waktu dia kirim sms atau nelpon dan kalian merasa terganggu akan hal itu, lagi pengen main sama teman, lagi malas keluar sama pasangan, dan hal-hal lain yang terasa alamiah tanpa ada alasan seperti pihak ketiga ataupun masalah lainnya. Tenang kalo kalian pernah merasakan hal ini kalian manusia, yang sudah merasakan dinamika berhubungan antar lawan jenis. Dan itu menyenangkan
X dan Y ini adalah perwakilan setiap rasa kalian terhadap objek. rasa ini saya bagi menjadi 3bagian yaitu bahagia, netral, atau bosan. Rasa ini bisa mewakili rasa terhadap orang tua, teman, sahabat, hewan, benda, dan pastinya pacar.


Permasalahan biasanya timbul ketika X dan Y tidak saling di posisi netral ataupun bahagia. Kadang X (laki-laki) sedang merasa bosan, sedangkan Y (perempuan) merasakan cinta yang menggebu-gebu ataupun sebaliknya. Cobalah dari sekarang pahami diri sendiri kalian berada diposisi mana? Dan rasakan pasangan anda berada diposisi mana. Ketika kalian yang merasakan rasa X atau Y bosan, cobalah menghargai pasangan kalian yang bisa saja rasanya saat itu bahagia menggebu-gebu, dengan tetap memberi respon yang baik sesuai rasa pasangan. Kalian yang merasakan X atau Y yang bahagia cobalah menghargai rasa pasangan anda yang mungkin saja berada diposisi rasa bosan, dengan menekan komunikasi yang berlebihan, atau ajakan yang terus-menerus. Dari sinilah kata-kata “kamu kayaknya sudah berubah” dimulai. Kalian akan beruntung ketika X dan Y dalam waktu yang sama mendapat posisi rasa bahagia. Karena ini jarang terjadi dan terjadinya biasa hanya di awal pacaran atau step ketika kalian nyambung kembali.


Rasa netral menyebabkan kalian merasakan hubungan kalian terjadi biasa saja, tidak ada something special dari hubungan kalian, dan itu normal-normal saja. Rasa X dan Y bisa dirangsang menjadi bahagia dengan beberapa cara, yang pertama dengan bertemu langsung. Walaupun rasa bosan mungkin sedikit sulit diajak bertemu namun ketika pasangan X dan Y bertemu maka akan saling melemparkan energi yang membuat X ataupun Y menjadi rasa bahagia. Yang kedua adanya momentum, misalnya tanggal-tanggal sakral seperti hari anniversary kalian, atau momen ulang tahun, dan momen-momen lainnya yang datangnya jarang pada masa berhubungan, dan yang terakhir adalah sesuatu yang baru. X dan Y akan mudah terangsang bahagia dengan stimulus-stimulus yang baru dia rasakan, seperti ajakan ke tempat baru yang romantic, perilaku-perilaku pasangan yang baru dengan mengirimkan lagu rekaman, mengirim foto editan, memberi bunga, ataupun hal yang lainnya yang baru dirasakan.


Menurut saya wanita ( X ) mempunyai rasa yang paling cepat berubah, X juga mempunya respon yang sensitive dibanding Y atau laki-laki. Yang pertama karena kromosom wanita menunjukkan dobel X / XX , sementara laki-laki campuran XY. Secara fisik Penelitian lainnya membicarakan mengenai perbedaan ukuran otak laki-laki dan perempuan. Dimana secara keseluruhan laki-laki memiliki ukuran otak lebih besar dibanding perempuan.Tetapi Corpus callosum, serat penghubung dari hemisfer kanan dan kiri lebih besar proporsionalnya oleh perempuan dibanding laki-laki. Ini juga satu alasan persoalan cinta yang biasanya mengatakan bahwa laki-laki dalam berhubungan menggunakan logika lebih banyak, dan perempuan menggunakan perasaan lebih banyak hahaha. Tetapi kita tidak boleh langsung mengambil kesimpulan terbata-bata karena factor lain serta hipotesis lainnya masih banyak, misalnya perbedaan lingkungan dari manusia oleh cara kita menyerap informasi. Namun sampai sekarang saya masih meyakini hal ini.


Semoga informasi tadi yang walaupun terlihat ribet, namun jika kalian paham makna dibaliknya dan bisa mengaplikasikan dengan memanage rasa kalian. Maka hubungan kalian akan berjalan dengan baik. Teman-teman juga bisa menjelaskan kepada pasangan tentang konsep ini agar terjadi pengertian mendalam satu sama lain tidak hanya komunikasi dan saling percaya.


KARENA CINTA ITU ADALAH HIDAYAH DARI TUHAN YANG MISTERIUS DAN LUARBIASA. MAKA PERJUANGKAN CINTA KALIAN



Selasa, 21 Oktober 2014

AKU LEBIH SUKA BELAJAR HAL YANG SULIT DARI PADA BELAJAR HOBI..... Loh Kok Bisa????



AKU LEBIH SUKA BELAJAR MATEMATIKA (SULIT) DIBANDING BELAJAR MUSIK (HOBI)



Judul yang aneh memang, tapi kita sering menemukan kasus seperti ini. Letak permasalahan sebenarnya adalah para pengajar baik itu dosen, guru, atau tentor. Kecendrungan sekarang yang terjadi di masyarakat adalah kesukaan atau rasa minat terhadap suatu pelajaran berbanding lurus dengan sikap dan sifat para pengajarnya. Kita kadang merasa belajar fisika itu lebih asik dan nyaman dengan pengajar yang baik, seru, perhatian, murah senyum, dibandingkan dengan seni yang mayoritas sebenarnya pelajaran yang diminati namun menjadi menjenuhkan ketika pengajarnya bersikap tegang, suka marah, dan sikap lainnya yang membosankan.


Untuk menjelaskan fenomena ini, mari kita kawinkan dengan teori belajar dari Pavlov. Namanya Classical Conditioning atau biasa disebut pengondisian klasik. Untuk menjelaskan teori ini, mari simak Pavlov bekerja. Ketika Pavlov membuka kaleng penutup makanan anjing dan  memberinya makanan, si anjing akan mengeluarkan aktivitas sekeresi asam perut dan salivasi sebagai respon, dan yang anehnya ketika penutup kaleng berbunyipun si anjing sudah memperlihatkan aktivitas sekresi dan salivasi ini. Ia melihat bahwa anjing tersebut tidak hanya merespon berdasarkan kebutuhan biologis (rasa lapar), tapi juga hasil dari proses belajar(bunyi penutup kaleng makanan) sebagaimana hal ini disebut pengondisian klasik. Pengondisian Klasik adalah tipe belajar dimana stimulus netral (seperti suara kaleng makanan) dapat memunculkan respon setelah dipasangkan dengan stimulus (seperti makanan) yang biasanya mengikuti respon tersebut.


Untuk mendemonstrasikan ini, Pavlov memasang sebuah tabung kelenjar ludah ke seekor anjing agar dapat dengan tepat mengukur salivasi yang terjadi pada anjing tersebut. Ia kemudian membunyikan sebuah bel (sebagai stimulus netral) dan memberikan daging(sebagai stimulus respon selevasi) beberapa detik setelahnya. Peristiwa ini di ulangi secara terus-menerus dengan hati-hati dan persen waktu pemberian daging setelah bel hampir sama. Pada awalnya anjing tersebut akan berliur ketika daging didatangkan, tetapi lama kelamaan anjing akan berliur ketika mendengar suara bel. Dan pada kenyataannya bahkan anjing terebut masih berliur ketika hanya mendengar bel.Ini berarti anjing tersebut telah secara klasik terkondisi untuk mengeluarkan air liur setelah mendengar suara bel.


DAGING – SALIVASI

BEL – DAGING – SALIVASI

BEL - SALIVASI


Begitupun pengajar terhadap muridnya. Ketika di awal pertemuan antara pelajar dan pengajar, kita secara tidak sadar akan membangun sebuah pemahaman dari proses belajar pengondisian klasik. Ketika pengajar berwajah murung datang dan dalam prosesnya kita melakukan sebuah kesalahan yang menyebabkan ia marah, makan konsep ini akan tertanam.


SALAH – MARAH – PELAJAR TEGANG

MUKA MURUNG – SALAH – MARAH – PELAJAR TEGANG

MUKA MURUNG – TEGANG

PENGAJAR MASUK – SEMUA TEGANG

Nah ketika semua pelajar sudah merasakan hal ini, maka pelajar akan menanamkan konsep ini kealam bawah sadarnya. Dari alam bawah sadar ini akan membentuk sebuah Mental Block berupa kesulitan menangkap, tegang, cemas, dan hal-hal lain yang pastinya membuat materi yang dibawakan menjadi susah dan tidak menyenangkan.


Lain halnya ketika pengajar menanamkan dari awal sikap dan sifat ramah, baik, pengertian, juga disiplin kepada pelajar. Maka pelajar akan membangun konsep menyenangkan di alam bawah sadar yang akan membuat pelajaran mudah dimengerti, suasana terasa bahagia, dan emosional lainnya yang positif.


Apa sih yang harus kita lakukan sekarang?

Kan tidak mungkin kita memberitahukan kepada guru, tentor, atau dosen bagaimana cara mengajar yang baik dan nyaman. Kita juga bisa memperhatikan sebuah realita, bahwa di institusi manapun kita akan selalu mendapatkan pengajar yang menyenangkan, dan tidak menyenangkan, entah ini sengaja dibuat, atau memang ini adalah hukum alam hahaha. Namun karena sudah mengetahui bagaimana proses penyebab rasa emotional kita terhadap pengajar, maka bangunlah dan tanamkan konsep baru dalam diri masing-masing bahwa ini hanyalah dinammika kehidupan yang membuat hidup dan belajar menjadi lebih dramatis dan seru. Lagipula pengajar-pengajar yang tidak menyenangkan biasanya membantu rasa malas kita menjadi sebuah keharusan yang dimana jika keharusan tersebut terus dilakukan akan menjadi kebiasaan dan pada akhirnya menjadi karakter kita untuk menghadapi dunia dan masalah lainnya.


Bagaimana dengan pengajar yang mencoba insaf dari hal yang membuat pelajar tidak menyenankan ? hahaha

Tenang, Pavlov juga menjelaskan bahwa ada namanya  Kepunahan dalam pengondisian klasik .Dimana kepunahan ini terjadi karena respon yang sebelumnya telah terkondisi menurun dalam hal frekuensi bahkan menghilang. Secara keseluruhan pemusnahan terjadi ketika stimulus terkondisi ditampilkan berulangkali tanpa stimulus tidak terkondisi.

Jadi bagi para pengajar, cobalah untuk membuat sikap dan sifat baru dalam proses belajar mengajar. Ini akan membantu proses anda member materi kepada pelajar agar lebih mudah ditangkap.




 
biz.