Senin, 09 November 2015

Aniaya Diri


Saya selalu benci bertemu orang hebat, berdiskusi sampai pagi, membaca buku, banyak merenung. Atau apapun bentuknya yang selalu bersifat mengisi. Beban mengetahui dan memahami adalah menjadikan kita secara tidak langsung bertanggung jawab dan diatur oleh rambu-rambu perasaan. Sedangkan semakin mencari dan menemukan, semakin diri ini terlihat kecil dan tak berdaya. Menyatakan diri ini belum siap wajar-wajar saja. Karena dalam hal penilaian, untuk bisa lebih tepat, maka sebaiknya dinyatakan pembandingnya. Terlalu banyak orang hebat yang ditemukan indra, sehingga pergerakan menjadi hal yang berat.

Tantangannya adalah masalah-masalah di depan kita yang mampu berwujud menjadi apa saja. Puisi Gus Mus, “Kau ini bagaimana, atau Aku harus bagaimana”, menjadi bahasa paling mewakili ribetnya segala sesuatu realita fisik dalam gejolak internal pribadi dalam hidup bernasional. Saya seperti hina sekali menjadi manusia. Banyak hal menjadi banyak serba salah.

Disisi lain, menyatakan orang yang dianggap salah memang betul bersalah menjadi bimbang. Siapa suruh manusia diberikan suatu kehendak bebas dan kebutuhan naluriah di berbagai tingkatan. Si bersalah tetap saja berupa manusia yang ruwet untuk dijabarkan tindakan kejamnya. Karena sudut pandang terhadap perilaku terlalu banyak. Kesimpulan tumpul seringkali terjadi karena diri ini tidak akan bisa merasakan seluruh perasaan, fikiran, dan aktivitas empiris manusia lainnya. Kita hanya berhak berhipotesis tak berhingga.

Sekarang segala sesuatunya menjadi lebih membingungkan dari sebelumnya. Menjadi lebih buram dari sebelumnya. Dimana rasionalnya pembakaran hutan yang mengakibatkan penyakit, pencemaran udara, meningkatkan rawan kecelakaan, menghambat banyak aktivitas, mrncucurkan banyak air mata, membuat banyak manusia memelas, menyubang polusi besar kerusakan dunia, mengurangi sumber orksigen dunia, mengancam umur bumi, mengancam generasi manusia, membunuh beberapa manusia, hanya untuk kebutuhan sekunder bahkan mungkin tersier perorangan. Terlalu mahal harga yang harus dibayar. Atau contoh hal lainnya yang membuat rasa ini merintih.

Jika masalah-masalah besar ditarik oleh sebab akibatnya, maka banyak masalah lahir karena “Terlalu banyaknya manusia di bumi ini”. Seandainya manusia sedikit, takkan ada perebutan tanah, takkan ada negara, tak akan ada masalah nasionalisme dan birokrasi yang marak ditemukan manusia. Okelah ada kutipan bahwa “Bumi kita sanggup memenuhi seluruh kebutuhan manusia, tapi tidak mampu memenuhi keinginan satu manusia”. Bagaimanapun pro-kontra berupa imaji yang terjadi selalu hampir tidak membuat apa-apa.

Bisa saja setelah bertemu seseorang, saya akan mengatakan “oh kayaknya memang harus dibakar hutannya ya” “oh kayaknya memang harus sistemnya tumpul diatas tajam kebawah agar...”. namun itu hanyalah kehebatan retorika yang selalu tangguh dan mampu bersifat netral dan elastis digeser ke negatif atau positif. Saya yakin secara naluriah, dan semakin dewasanya manusia, baik dan buruk itu mampu dirasa secara intuisi.


Apa semua ini????? Terlalu banyak hal-hal tidak masuk akal dipaksa terpahami. Beban-beban mulai mampu kutangani, namun pada akhirnya saya sampai pada beban terberat yaitu memahamkan bapak ibu. Mungkin kita hanya butuh komunikasi yang lebih yang selalu gagal via suara. Dekat ini akan kucurahkan semua isi diri kepada bapak dan ibu lewat tulisan, dan semoga mereka bisa memahami. Bahwa anaknya disini bukan robot, bukan anak kecil, anaknya disini adalah manusia yang miris terlahir didunia.







Rabu, 04 November 2015

SEANDAINYA



Kegelisahan umat manusia akan kekuatan yang lebih besar darinya sudah ada, mungkin dari manusia pertama versi  kitab, atau sejak generasi manusia dengan kemungkinan nalar yang memadai mulai lahir versi sains. Membahas masalah seperti ini, berarti akan dan siap dibenturkan dengan jutaan sudut pandang, jutaan gagasan. Satu manusia kecil dari milliaran kesadaran manusia yang pernah terlahir di planet indah namun tidak istimewa ini mencoba berteriak “kesadaran apa ini?” ‘’kenapa saya sadar?” “saya terlalu kecil untuk disadarkan!” “dimana ini?” “apa ini?” “bagaimana ini bekerja?” “dulu bagaimana?” “dulu kenapa?” “sekarang bagaimana?” “sekarang mengapa?” “nanti bagaimana?” “nanti kenapa?”. Seolah hidup manusia dari awal hingga kini dirangkai dengan tujuan bersama mencari jawaban absolut akan pertanyaan tadi.

Kita menjadi kasian. Terlahirkan dengan beban kontinu. Terlahirkan dengan keadaan sesat. Terlahir tidak jelas. Apa yang paling jelas dari kesadaran akan hidup? Sementara estafet ini masih dan akan tetap terus berlangsung, sementara kita diberikan kesibukan sampingan akan rentetan kebutuhan yang disebut nyata dan realis. Padahal kesadaran itu menjadi konflik nyata yang kabur. Karena pada dasarnya kita manusia adalah makhluk yang teraniaya oleh dirinya sendiri, oleh kesadaran itu sendiri.
Kita sesungguhnya tidak sanggup, tidak berdaya. Muncullah dewa-dewi, muncullah mukjizat, muncullah sosok, muncullah misteri, lalu Tuhan menampakkan setitik dirinya. Akulah yang.....Akulah yang.... Akulah yang... Oh ternyata Dialah..... Oh ternyata Dialah..... Oh ternyata Dialah...... kesadaran menerima. Namun kesadaran membantah....... Sains.... sains... sains..... manusia... manusia.. mausia.... kesadaran menerima. Namun kesadaran sadar lagi, ia tapi Dia..... ia tapi Dia..... ia tapi Dia..... kesadaran sadar. Kesadaran bingung. Kesadaran sangat tidak sadar. Kesadaran terlalu sadar!!!!

Seandainya ibrahim dipertemukan dengan Thales, seandainya Yesus dipertemukan dengan Aristoteles dan Plato, seandainya Muhammad dipertemukan dengan Descartes, seandainya Deedat dipertemukan dengan Paus, seandainya Zakir Naik dipertemukan dengan Einstein dan Stephen Hawking.



Sadarlah!!! Bentar sore kamu kuliah. Jangan tidak masuk lagi. Jangan terlalu sadar, nanti tidak realis katanya. Sadarlah!!! 

Selasa, 03 November 2015

Si Bapak Dokter Pintar


Kisah nyata ini begitu saja terbersit ketika masih melamun mengimajinasikan betapa cerdasnya pemikir-pemikir dulu seperti Galileo, Aristoteles, Newton dll. Kasusnya mudah saja Aristoteles saat itu beranggapan bahwa keadaan alami suatu benda adalah diam dan benda hanya bergerak kalau didorong suatu gaya atau impuls. Jadi benda berat akan jatuh lebih cepat daripada benda ringan, karena benda berat memiliki gaya tarik (berat benda = gaya penyebab) lebih besar menuju bumi. Inilah gagasan yang menjembatani kajian-kajian ketuhanan, bahwa segalanya (akibat) pasti diawali suatu penyebab. Kita biasa mengatakannya hukum “Sebab-Akibat” atau “Stimulus-Respon” (Kausalitas). Akibat itu bisa terjadi langsung dan tidak langsung. Contohnya kita melempar bola pingpong ke dinding (sebab) maka bola langsung terpantul sesuai energi lemparan dikurang tahanan udara dan gaya gravitasi (akibat). Begitu dinding menyentuh tembok seketika pula bola pantul, itu disebut akibat langsung. Sementara ketika bediri dalam sebuah ruangan besar yang kosong dan berteriak, maka setelah teriakan kita muncul kembali pantulan suara yang disebut gema. Gema ini adalah contoh akibat tidak langsung. Sebab akibat ini tetap berada pada perhitungan ruang dan waktu. Maka Aristoteles mengatakan kita hari ini dan segalanya adalah akibat dari sebab yang saling mengikat satu sama lain. S-A’S-A’S-A...... dan begitu seterusnya. Dan sebab pertama adalah Dialah Tuhan.

Aristoteles mengatakan bahwa semua hukum yang mengatur alam semesta bisa dipelajari dengan pemikiran saja (pembuktian dengan pengamatan tak diperlukan). Itu bisa jadi benar, namun pengukuran Galileo menunjukkan bahwa tiap benda mengalami pertambahan kecepatan (percepatan) yang sama. Penemuan Galileo ini mengilhamkan sesuatu kepada Newton yang kita sebut Hukum Newton. Gagasan Newton dinyatakan tersurat dalam Principia Mathematica yang terbit pada 1687.
HN1 :  “Jika resultan gaya pada suatu benda sama dengan nol, maka benda yang diam akan tetap diam dan benda yang bergerak akan tetap bergerak dengan kecepatan tetap”. Artinya benda yang diam akan mempertahankan kediamannya, benda bergerak akan mempertahankan kecepatannya. Contoh yang paling baik adalah saat mengendarai motor. Pada waktu kita diam diatas motor kemudian seketika menaikkan gas dengan cepat, maka badan akan cenderung mempertahankan kediamannya, sebagai akibatnya badan akan seolah terdorong kebelakang. Sebaliknya, ketika motor dalam kecepatan tinggi dan secara tiba-tiba di rem, motor dan badan tidak akan seketika itu berhenti namun seolah terdorong kedepan karena badan dan motor berusaha mempertahankan kecepatan geraknya.  jika tidak ada gaya total yang bekerja pada sebuah benda, maka benda tersebut akan tetap diam, atau jika sedang bergerak, akan bergerak lurus beraturan (kecepatan konstan).

HN2 : "Percepatan sebuah benda berbanding lurus dengan gaya total yang bekerja padanya dan berbanding terbalik dengan massanya. Arah percepatan sama dengan arah gaya total yang bekerja padanya.". Ketika benda dipengaruhi gaya maka benda akan mengalami percepatan atau perubahan kecepatan sebanding dengan gaya yang memengaruhi. Sederhananya , Suatu gaya total yang diberikan pada sebuah benda mungkin menyebabkan lajunya bertambah. Akan tetapi, jika gaya total nya itu mempunyai arah yang berlawanan dengan gerak benda, gaya tersebut akan memperkecil laju benda. Jika arah gaya total yang bekerja berbeda arah dengan arah gerak benda, maka arah kecepatannya akan berubah (dan mungkin besarnya juga). Karena perubahan laju atau kecepatan merupakan percepatan, berarti dapat dikatakan bahwa gaya total dapat menyebabkan percepatan.

HN3 : "Ketika suatu benda memberikan gaya pada benda kedua, benda kedua tersebut memberikan gaya yang sama besar tetapi berlawanan arah terhadap benda pertama." Maksudnya Hukum ke tiga Newton ini kadang dinyatakan sebagai hukum aksi-reaksi, “untuk setiap aksi ada reaksi yang sama dan berlawanan arah”. sangat penting untuk mengingat bahwa gaya “aksi” dan gaya “reaksi” bekerja pada benda yang berbeda. Misalnya bola pingpong yang dilempar kedinding menghasilkan reaksi yang berlawanan memantul ke arah sebaliknya dengan gaya yang sama”.

Dari putaran panjang pemahaman diatas, saya mengingat sebuah kejadian ketika saya mengalami sakit demam dan muntah. Saat itu saya berada di umur-umur kelas satu SMA. Karena sakit yang berkepanjangan, bapak saya memutuskan mengajak saya ke dokter yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Tempat itu adalah rumahnya yang sebagian di sulap menjadi tempat prakteknya. Setelah memeriksa, si dokter yang terlihat tua, sehat dan kaya akan pengalaman banyak bercerita tentang dirinya. Bahwa ia terlahir dari keluarga susah dengan banyak saudara, namun berhasil dalam karirnya. Ia sudah belajar banyak hal terkait medis, pernah belajar dan mengajar di berbagai negara. Tak lupa ia menambahkan “jika praktek dirumah, saya selalu memberi harga yang murah bagi pasien disekitar sini, dan pelanggan saya”. Semua itu cukup menakjubkan diri saya mendengarnya.

Namun seketika saya gugup setelah si dokter cerdas itu melemparkan beberapa pernyataan dan pertanyaan kepada saya. “Sudah kelas berapa kamu? Tinggal dimana? Bagaimana kamu disekolah? Pintar tidak? Oke saya mau kasi kamu pertanyaan yang sudah dibahas ketika kamu masih SMP, apa Hukum Newton yang pertama??? Ini pertanyaan biasa”. Hati dan badan saya gugup, belum lagi bapak disebelah yang menatap dengan senyum kecut seolah berbicara “anak saya ini baik dok!! Dia pasti bisa menjawabnya! Itukan pertanyaan yang kata dokter sudah dipelajari sejak anak saya SMP! Ayo anakku yang cerdas, kamu pasti bisa!!”. Akhirnya kepalaku menggeleng atas jawaban ketidaktahuanku. Pandanganku sedikit berubah bias pertanyaan tentang Hukum Newton.

Rangkaian pertanyaan lain yang coba dia lemparkan kepada saya namun semua itu seperti angin lewat tanpa suara. Kepalaku tunduk dengan emosi kecil. Namun anehnya rasa kesal itu berubah menjadi hal positif saat jalan pulang. Kupeluk bapak karena lemas masih menyelimuti tubuhku. Kapan-kapan kalau saya sakit lagi, saya mau di periksa sama pak dokter yang cerdas itu, dalam hati.

Seandainya dengan fikiran seperti sekarang dokter itu bertanya pertanyaan yang sama. Saya akan bertanya balik. “saya tidak tahu jawaban pertanyaan bapak, tapi bapak bisa jawab tidak pertanyaan saya. Setelan standar senar gitar nomor 1 itu nada apa? Atau nada ke empat scale major kalo C=do itu apa? Atau pertanyaan lain yang sekiranya saya tahu tapi dia tidak tahu”. Menurut saya pengetahuan yang tidak berhasil disimpan dan diingat bukan karena kita bodoh, tapi seberapa penting dan seberapa berminat kita mengenai suatu pengetahuan. Saya bisa menyalahkan guru SMP karena pada saat pelajaran Fisika mengenai Hukum Newton, dia langsung memberikan rumus dengan bahasa yang sulit kucerna, atau mengapa dia menyuruh kita memahami hukum newton tanpa memberi contoh yang menarik mengenai kehidupan kita sehari-hari, agar Hukum ini bisa kita pahami karena dianggap penting dan keren.

Lihat saja sejarah berlangsung. Saya atau kita boleh mengatakan saat itu bahwa Aristoteles benar dalam setiap gagasan yang dikeluarkan. Dengan yakinnya dia bahwa “semua hukum yang mengatur alam semesta bisa dipelajari dengan pemikiran saja (pembuktian dengan pengamatan tak diperlukan)” namun realitanya Galileo berhasil mematahkan itu. Walaupun hukum kausalitas Aristoteles bisa dibenarkan, tapi dia gagal menjelaskan keseluruhan karena ketidakmauannya melakukan ujicoba.

Pada akhirnya, ilmu pengetahuan jika ingin mudah dicerna dan dipahami serta diingat. Haruslah menarik, penting bagi kita, dengan penjelasan yang bisa dipahami. Kalau salah satu aspek tidak memenuhi, bukan salah manusia. Manusia itu adalah makhluk tercerdas, tidak bodoh. Dan pak dokter pintar, apa kabar? Apa bapak masih sehat? Saya rindu bapak? Suatu saat kalau saya sakit saya mau bapak saya antar ke sana lagi. Semoga bapak sehat. Saya banyak belajar dari saat itu.

lihatlah Om Aristoteles berhasil merangsang Om Galileo, Om Galileo berhasil merangsang Om Newton. Semua punya peran penting. Semua berjalan indah dalam ruang dan waktu. begitupula bapak dokter dan saya.

Minggu, 25 Oktober 2015

Butiran Dalam Hening

Butiran hangat dalam terpaan yang terabaikan

Turut merasa, jauh dalam lubuk hatinya

Merindukan rintik hujan, juga dinginnya malam

Agar menetap , tak perlu berkelana lagi

Tapi waktu singgah tuk menata jarak,

juga tuk merencana

Dan jika hening mampu terlalui

maka hujan kan datang, dengan indahnya

oleh : nanda
Makassar 24 okt 2015


Sabtu, 03 Oktober 2015

SUNYI

Suatu malam aku diserang segerombolan fikiran pada jam sempit sebuah refleksi. Baru kusadari mereka adalah "Aku yang dulu" telah berhasil menemukan kunci penjara yang baru pula kusadari menjadi beban selama ini. Ia merasuki diriku, menggerogoti rasaku, merampas malam ku. Kemudian imajiner imajiner muncul menasehati diriku, mencoba menuntun diriku. Siapa diriku sekarang ini? Aku dengan penuh sesal mulai tersendak haru. Aku betul betul di ambang jurang ketakutan. Aku coba kembali ke sekarang, menggesek diri pada hari hari seperti biasa, namun aku semakin sulit bernafas, "Aku tidak mau dipenjarakan lagi" kata Aku pada ku. Aku butuh pelukan sekarang. Hutan ini begitu lebat menutupi cahaya tempat Aku tersesat di penjarakan. Pohon mulai bersuara, "jangan nangis manja! Hanya bernafas kemudian mati" 

Tuhan yang baik, menuntun aku ke Aku yang dulu. Bisikannya halus penuh kasih sayang. Dia masuk melalui apa saja dalam kacamata rasa. Menyadarkanku dari koma. "Jangan takut sayang, lihatlah aku tidak pernah meninggalkanmu walau sekejap. Sayangku, peganglah hatimu, rasakan betapa hangatnya semua, betapa engkau adalah hamba yang kutitipkan banyak hal. Aku memberikan mu hadiah malam itu. Hadiah yang bisa kau bentuk menjadi apa saja" 

Makasih Tuhan, sekarang aku berpindah. Kurangkul Aku yang dulu. Berjalan bersama, tertatih.. tapi penuh damai.


Disini, mulai kubuka berkas realitas jejak Aku yang dulu. Air mataku hampir saja menetes saat kusadari terlalu jauh kutinggalkn dirinya. Paadahal ia adalah jalan finish dalam arena ini. Aku berjanji akan mengejarmu mulai hari ini, dan mohon libatkan aku pada jalan mu. Dengan bersama, kita akan menjadi bahagia di akhir sana.

Aku dapat bisikan ini dari Aku yang dulu. dan Aku ingin membaginya...
Seluruh manusia sejak awal adalah satu kesatuan manusia seutuhnya yang mencoba menerjemahkan seluruh diluar dirinya dan juga dalam dirinya. Kita hari ini adalah jalur tertinggi dalam perjalanan panjang itu. 

Kata Aku yang dulu, kita hari ini masuk pada kehilangan kemanusiaan. Kita selalu secara tidak sadar mencoba memutuskan estafet perjuangan itu. Kendala paling besar adalah jam jam refleksi merenung kini tidak lagi dianggap sebagai suatu aktivitas. Kesunyian menjadi kenaifan bagi kita. Lihatlah bagaimana kita berlomba lomba meninggikan teknologi untuk mengurangi aktivitas kemanusiaan (renungan-reflektif). Teknologi terus mencari celah agar kesunyian dalam dunia, tempat ruang kemanusiaan itu berlangsung, mulai dipudarkan.


Hai hai, lihatlah kita menertawai sebuah kesunyian menjadi hal negatif. Kesunyian adalah patologi, kesunyian adalah kekalahan intelektual, kesunyian adalah kerendahan sosial, kesunyian adalah kemisteriusan, kesunyian adalah hambatan, kesunyian adalah manusia yang tak berguna. Hei.... lihat bagamana orang terdahulu memanfaatkan aktifitas sunyi sebagai pintu besar untuk merenung dan refleksi sebagai semestinya manusia.

Kesunyian berhasil menerjemahakan dunia perlahan, kesunyian menciptakan tari, kesunyian menciptakan musik, kesunyian menciptakan gagasan, kesunyian menciptakan ide, kesunyian menciptakan kedamaian, kesunyian berhasil mengontrol emosi, kesunyian membangun budaya, kesunyian membuat mandiri, kesunyian menciptakan lampu, mesin, robot, paradigma. Heiiii... lihatlah bagaimana kesunyian berhasil memberi ketentraman, kebahagiaan, kesunyian berhasil membawa sebuah peradaban besar, kesunyian menciptakan budaya yang beraneka, kesunyian adalah bagian dari manusia. Kesunyian adalah rumah asli bagi kita. Kesunyian menjadi pintu pertemuan dengan diri, dan Tuhan. Kesunyian adalah bagian dari semua. Ia menciptakan sebuah ruang yang mampu di tempati bersihggah, beristirahat, berimajinasi, berbagi, menenangkan, memberi energi memberi insight.

Stoplah memandang sunyi adalah kekosongan hina, stop lah bermain dengan waktu. Stop lah dulu dan lakukan sebuah kesunyian, lalu bentuklah semua. menurutku, Bisa jadi suatu saat ketika populasi manusia takterkendali lagi,Akan ada bisnis dimana tempat itu untuk melakukan aktivitas sunyi. Sunyi yang terkomersialkan. Aku juga yakin bahwa manusia saat ini sudah mencapai evolusi otak yang luarbiasa dan itu mumpuni menjadi manusia lebih cerdas. anak anak zaman ini hanya butuh ruang sunyi untuk merenung. merenunglah bagi yang belum merenung, merenunglah lebih bagi yang belum cukup merenung, dan bertindaklah bagi yang mempunyai renungan cukup. Maka lihatlah dunia akan menjadi lebih damai di banding hari ini

Sunyilah dan tetaplah waras

Selasa, 29 September 2015

KEMBALI

Secara samar pola terbentuk kokoh melewati waktu dalam kejatuhan pedih. Mengkonsepkan perlahan dengan pembelajaran keseluruhan aspek yang mampu walaupun makin besar sesuatu itu datang maka keterhausan menjadi berlebihan.

Imajinasi pun mulai menkonstruksi pola pada tingkat yang selalu meninggi. Realitas menjadi pudar, namun empiris akan selalu tetap menyentuh permukaan dunia. Manusia manusia membangun keseluruhan dirinya walaupun tak sadar.

Sungai deras mulai terlihat menjemukan. Lihatlah alirannya merobohkan semua. Membuat banyak ikan ikan kecil terjebak kenestapaan.
Akhirnya muncul manusia sebenarnya pada keaslian murni sifat manusiawinya, mengangkat skat pembatas.

Manusia lupa bahwa ternyata setelah semua menjemukan, ada tempat rumah kecil dalam hutan lebat hati yang abadi. Dia akan memberi senyuman terindah, terhangat, ternyaman ketika kukatakan semua ini ternyata hanya teka teki tak berbatas yang mampu diselesaikan jika saya bersama Dia. Manusia pada titik ini akan tidak mampu berbuat apa apa

Lihatlah ia mampu berubah menjadi semangat, spirit, ketahanan, kecerdasan, kesabaran pada diri ketika kita membalas "setiap dari semua adalah kebersamaan denganNYA" makasih pada hadiah jembatan dalam refleksi terdalam pada gesekan penuh rahasia

Malang, 30 sept 15


Minggu, 16 Agustus 2015

Tao Pingpong


Sekilas nampak terbesit sebuah kecemburuan ketika mengamati mereka yang merasakan benturan hidup pada titik ektrim. Keos hidup pada kenyataannya sudah menjadi hukum kehidupan yang masih dianggap hal yang harus dihindari, padahal cobaan itu sendiri bak bola pingpong yang di lemparkan pada dinding, semakin keras benturan maka semakin jauh lontaran bola itu. Maka berbahagialah kalian dengan pelajaran mendalam dalam gua kenestapaan. Hukum itu akan tetap berlaku. Nantikanlah hal hal besar akan menghampiri.

Aku berterima kasih pada Tuhan yang telah mempertemukanku dengan perempuan indah dan baik. Aku tidak sedikitpun menyangka akan mendapat pandangan-pandangan yang sebelumnya tak terlihat ketika kudapati diriku terlalu jauh mencintai dengan membawa beban ilusi dan kenanganmu hingga jauh, mendalam, menderita. Kisah singkat mu begitu berkesan. Aku tak mampu mengungkapkan terima kasih padamu yang telah menenggelamkan aku kedalam samudra kebencian hingga aku mampu melihat indah dan sejuk kehidupan bawah laut. Aku sangat bersyukur pernah memendam kenangan pahit dan terjebak pada jurang kegelapan yang kau gali untuk membantuku menyadari betapa pentingnya ketenangan pada ruang sunyi. Sadarku pada suatu malam mengetuk, memperlihatkan betapa bodohku untuk terlalu jauh memaknai semua. Memaksakan api keruntuhan moral mengusik pada diam tersunyi. Satu perempuan kawin dengan pemikiran dan rasa berlebihan melahirkan sejuta warna.

Perlahan rasaku mulai tersenyum. Malaikat itu berbisik sebuah rahasia kecil. Lihatlah betapa baiknya Tuhan-Tuhan kebaikan bermunculan. Pemberian indra, perasaan, dan nalar memberi kemampuan kita melihat sesuatu secara utuh menyeluruh sebagai kebutuhan hakiki manusia untuk bersandar pada kekuatan besar. Kesombongan struktur, umat, dan teritorial lah yang membentuk palu besar mulai menghantam kemurnian. Terlalu angkuh dihadapan raksasa kebenaran, padahal sebagian besar ia terlahir dari empirik.

Cinta kebebasan mulai menghiasi. Daun-daun mulai saling menyapa. Perjalanan ini adalah pertarungan melawan diri sendiri. Gerbang cahaya akan muncul pada niat, spirit, dan kecintaannya. Berperspektif satu arah adalah penjara sebenarnya. Judi hidup harus tetap dimainkan dengan melawan hukum arus hingga menjadi kreatif di pijakan anak tangga yang berujung pada tindakan penuh makna. Kita tak akan mampu memecahkan kekeliruan refleks selain menjadi dinamika.

Lihatlah bintang dan bulan malam hari, matahari pada senja, sejuk senyum sapa, kasih keluarga, indah perempuan, teman penuh warna ,bapak budayawan pengayom, pengetahuan sang jembatan, dan cinta Tuhan
Demi masa,

Trima kasih untuk semuanya

 
biz.