Jumat, 18 Desember 2015

BAYI


Tiba-tiba dan selalu, jantungku mulai bergerak lebih dan berkata aneh. Membaca sejarah selalu berhasil membawaku pada waktu yang berbeda. Begitu nyata. Hasrat, suasana, ketegangan, kesenangan, kesedihan kadang-kadang menjadikan dirinya jembatan untuk menyentuh apa saja yang kau ingin sentuh.

Gagasan tidak hanya menjadi suatu deskriptif indah. Namun menarik sebuah pemicu emosional dalam bungkusan sejarahnya melalui realitas waktu. Begitu banyak manusia melangkahi tempat yang di injak saat ini, kemudian membagi kisahnya serta konflik yang membawa peradaban dan pemahaman sampai ketitik sekarang.


Persetan dengan sains yang selalu sombong dengan realita, namun begitu menjengkelkan karena berhasil membawa anak tangga menuju kemanusiaan. Sepertinya saya mulai gamblang merasakan semuanya. Terlalu kompleks perjalanan sebuah mahakarya fikiran Tuhan. Sepertinya kebebasan yang sebenarnya ialah fikiran, lalu di penjarakan oleh material yang kemudian kita agungkan sebagai realitas. Sementara perjuangan adalah perwujudan kesadaran. lalu apa? terbaglah kemana mana, kemudian sadari.








Jumat, 11 Desember 2015

ASAP


Saya tidak akan mempertanyakan dengan berlebihan tentang inikah yang disebut jatuh cinta? Karena kebenaran rasa ku begitu menguak, bahwa sepertinya ia telah merasuk ke bagian kecil dari sudut hatiku. Saya tak menyangka akan seintim ini kepadanya. Ia mampu memikat ku dan menenangkan ku dengan janji janji pelukan mesra. Jangan katakan lagi bahwa dia abstrak. Dia adalah Ilmu Psikologi.

Sosok mahakarya dalam sebuah perjalanan sejarah pelik. Dengan panji-panjinya yang selalu membingungkan, membisikkan sebuah aura kebijaksanaan. Memperkenalkanku pada kehidupan sebenarnya, memperlihatkan sisi-sisi kabur dalam perjalanan. Kalau kita sepakat untuk berjalan dengan tongkat-tongkat arah pada kesesuaian, psikologi telah menjadi bagian dariku.

Lalu semunafik apa realitas aturan berjalan? Goblok. Tidak akan bisa menang. Ia hanya mampu bersembunyi pada alasan generalisasi. Sementara memutuskan untuk berfikir membuat yang lainnya sengsara setengah mati. Dunia ini memang sepertinya berjalan dengan sangat kompleks dan membingungkan. Terlalu banyak manusia bisa selalu kujadikan alasan manjur dalam ketenangan meta. Sambil liar mengkonstruksi apa saja yang terasa.

Pada akhirnya saya tidak akan punya pilihan lain selain berjalan pada garis-garis jurang yang telah tersedia. Bahwa bumiku begitu luas, manusia siapa saja mampu melangkah ke arah mana saja, selama Tuhan tetap masih bisa dijadikan sandaran kuat bagi pribadi yang penuh kesepian. Selama itu akan kuteriakkan bahwa penjara-penjara kecil telah kokoh, sambil perlahan diam menjadi asap.




Sabtu, 05 Desember 2015

DIAM


Saya bingung harus membahasakannya seperti apa? saya begitu tertekan pada mereka yang ramai berkumpul, saya begitu tertekan pada mereka yang nyaman bersantai di tempat tidur, saya begitu tertekan dengan tawa mereka, saya begitu tertekan dengan kebahagiaan mereka. Saya begitu tertekan dengan pembunuhan waktu lewat kebiasaan menjemukan.

Ok baiklah, aya sadar. Rasa itu ternyata hanya ketika setelah saya di bombardir fenomena yang kadang berhasil kutangkap maknanya hingga terkesan begitu lebay. Tidak cukupkah masa di belakang banyak dihabiskan dengan perilaku yang sama? Tidakkah kalian mampu merasakan sebuah tanggung jawab besar perlahan mendekat? Tidakkah kalian cemas? Mungkin saja benar kata orang, muka sudah terlihat kusam dan tua.

Satu sisi jawaban langkah itu jelas adanya, namun sisi lain, fisik dan kepribadianku tidak mampu mewujudkan semua. Rambut dan kacamataku sudah terasa semakin berat. Topeng di wajahku mengamuk sedikit meleleh. Tapi diriku tak berdaya.


Oh iya, saya baru saja kedatangan tamu spesial. Semoga adek hebat yang baru tiba disini cepat mempersiapkan diri. Lihatlah semua, dengar semua, rasakan semua. Semua pelajaran berharga



Rabu, 02 Desember 2015

OM SASTRA


Ketika merenung, sepertinya seluruh bacaan berubah menjadi simbol-simbol penuntun ke sebuah muara yang begitu besar. Selalu tersedia petunjuk arah ketika berada di persimpangan. Pertemuan dengan orang, huruf-huruf dalam kertas, atau minimal sayup-sayup mata dan hembusan udara begitu tegas.

Aku benar-benar bingung bagaimana menyampaikan semua ini kepada bapak. Dan ketika terbersit, orang-orang akan menganggap aneh, minimal sombong atau sok.


Lalu dimana aku mampu bersandar? Sementara Aku tetaplah bagian terkecil dari zarah-zarah ciptaan. Siapa yang mampu menyalahkan Pramoedya ananta toer yang kembali dalam rangkaian kata. Toh kertas lebih mampu merasakan tekanan penanya dibanding orang sekitarnya.



Selasa, 01 Desember 2015

SELIMUT HANGAT


Aku merasakan sebuah hubungan intim dengan ilmu pengetahuan. Aku bisa diajak bermain di sebuah air terjun sejuk dengan penuh kebahagiaan ketika bersama buku. Ia mampu hadir menjadi sosok yang melebihi orang-orang disekitarku. Melebihi perempuan yang kucintai. Dia begitu dekat, seperti keakraban terindah bersama keluarga kecil ku. Bapak, ibu, saudara, dan dia.

Ada apa aku ini? Mengapa perabaanku dalam seretan langkah tidak menunjukkan omayoritas orang disekitarku merasakan hal yang sama. Ketika kubaca sejarah, kelahiran teori, perjalanan ilmu, atau kisah perjuangan pelakunya, seperti ada yang memelukku begitu hangat dalam kehidupan. Aku merasa penuh gairah eksistensi hidup dibumi.

Pada titik-titik tertentu, ketika terjebak pada jalanan ini, akan kurebahkan diriku dibawah pohon rindang besar, lalu kubentangkan selimut terhangatku berupa goresan pikiran, mahakarya sejarah kemanusiaan. Aku tidak sesepi itu

Setelah yakin, Aku gemetar.
Pak saya sangat takut
Bahkan hanya untuk sekedar mengetuk pintu sains
Ilmu pengetahuan seperti anak Tuhan


Minggu, 29 November 2015

SEMENTARA


Ternyata Aku harus lebih dewasa menafsirkan lingkungan. Semua mampu berpendapat apa saja, dan merasuki gerbang keputusan. Apa yang mampu kuandalkan selain diajak angin lalu memotret jejak di lumpur penghisap? Kadang-kadang ku asingkan diri walaupun sebatas perasaan di jembatan gantung tempat orang-orang putus asa dan bunuh diri.

Kemudian tawa kecil datang, menarik kumpulan cahaya, lalu melukis wajah dan tubuhku dengan semaunya. Sementara kepalaku di borgol dan dadaku di ikat kencang. Mereka berbicara, sampai kepalaku mengangguk, dan melepaskan perlahan. Membiarkan saya terbang kesana kemari tak berarah.

Aku tersesat....

Setelah kucurahkan semua, Apa yang kudapat? Hanyalah pernak-pernik dan runtuhan bekas bangunan bersejarah. Kukumpulkan semua dan berharap, setidaknya pondasi-pondasi harapan bisa kubangun sendiri.

Dengan teropong, banyak kulihat dari kejauhan rintihan kecil. Mereka memaksa mengirimkan desain bangunan harapan. Padahal diri sendiri masih mengais sisa sisa semangat dalam imajinasi. Terlambat !!! Badai dan angin topan dari belakangku sudah mendekat. Tidak ada kesempatan. Dengan tangan penuh darah, kususun semuanya.


Semoga apa saja keabstrakan di saat nanti, kuharap bangunanku bisa menahan angin kencang itu dari mereka. Aku sedang... sementara....

Anwar – RASA


Tak di sengaja diri ini kembali dipertemukan pada gesekan dalam perjalanan. Rasa benar-benar dipermainkan malam ini. Saya mampu jatuh cinta, mampu benci, mampu resah, mampu jengkel, mampu sedih, mampu ceria dalam sekejap pada gerakan sekitar. “Omah Komunitas – Inspirasi” mengadakan apa yang mereka sebut ‘Soft-Launching’ cafe ataupun wadah sebagai ruang baru mendeklarasikan rasa. Sepertinya

Adalah prosa, teater, monolog, puisi, musik, dan tarikan nafas dari raut wajah yang tercipta pada setiap sosok yang hadir mampu menjatuhkan ku dalam permainan seni. Sementara setiap beban ini masih terus saja membusuk didalam, biarkan hidup tetap hidup.

Pertemuanku kali ini menjadi hal baru dengan Mas Anwar. Ia sosok pelaku seni hidup. Aku tidak paham bagaimana semua berjalan. Manusia benar-benar diambang kesempurnaan makhluk. “Memang benar adanya manusia dengan Kecerdasan Rasa” katanya. Pelaku seni akan terus berjumpa pada asah kepekaan rasa setiap saat. Mereka akan cenderung menjadi perasa yang baik dan cepat. Secepat apapun dalam rasa.

Walaupun rasa itu akan menjadi konsepsi manusia keseluruhan. Namun, melihat hal-hal menjadi begitu dalam dan mempengaruhi diri akan menjadi kunci dalam gerbang sempit. Keos yang bertabrakan pada apapun atau hanya sekedar bergesekan tetap akan menimbulkan bekas lalu berubah menjadi hubungan dan komunikasi intra diri. Imaji apapun yang kita susun, tak akan pernah mampu lepas dari dirinya dalam membaca seluruhnya. Tidak akan ada pengadilan rasa pada titik ini, namun hanya ada pilihan tetap hidup atau mati.  


Sampai berjumpa lagi, Makasih

 
biz.