Kamis, 12 November 2015

RANGKUMAN "A BRIEF HISTORY OF TIME" Part 1



Siapa yang tidak mengenal sosok Stephen Hawking. ia adalah tokoh besar fisika di zaman ini, walaupun mengidap sebuah penyakit yang melumpuhkan seluruh fungsi motorik tubuhnya, namun nalarnya yang tetap berfungsi berhasil mendekatkan kita pada sebuha pertanyaan besar umat manusia melalui pendakatan fisika

Maaf Om Stephen Hawking bukan maksud mau merangkum buku ini karena itu akan sangat luarbiasa sulit bagi saya. Tapi hanya mencoba menangkap insight sebanyak-banyaknya dalam mahakarya buku ini. Salam dari satu butir debu di padang pasir.

Di awal buku ini, Mr.Hawking tidak pernah sombong dengan pendekatan fisika. Ia tetap meyatakan peran filsafat dan tokoh-tokohnya yang saling bahu membahu membuat pemahaman sejauh ini sampai sekarang.

Kita mendapati diri kita dalam dunia yang membingungkan. Dimana sejak manusia awal hingga kini, kita selalu akan masuk kepusaran pertanyaan “Apa?” dan pada titik lebih jauh lagi “Mengapa?”. Kita selalu ingin mengerti apa yang kita lihat disekitar kita dan bertanya. Pertanyaan penting dalam fisika ialah: apa hakikat alam semesta? Seperti apa tempat kita? Darimana datangnya tempat itu ? dari mana kita berasal? Mengapa seperti ini? Mengapa kita ada dan apa tujuan serta tugas kita?

buku ini menjabarkan sejauh mana Fisika berkembang untuk pertanyaan diatas yang terdiri dari 11 BAB penjelasan, dan 1 BAB kesimpulan



BAB I GAMBARAN ALAM SEMESTA

Fisika sejauh ini sudah sangat dalam membahas fenomena dunia bahkan semesta kita, namun masih jauh dan belum mampu menjawab pertanyaan diatas. Teori teori yang lahir belum mampu menjelaskan semuanya, namun hanya sebagian. Om Hawking mengatakan bahwa mimpinya dan mimpi fisika adalah menemukan teori tunggal yang mampu menjelaskan semuanya. Artinya teori akhir itu dapat menjawab pertanyaan kita. Penemuan teori lengkap/ teori tunggal itu bisa jadi membantu kelestarian spesies kita. Bahkan mungkin tak memengaruhi gaya hidup kita. Tapi sejak fajar peradaban, manusia tak pernah puas melihat peritiwa-peristiwa yang tak saling terhubung dan tak terjelaskan. Kita menginginkan pemahaman atas keteraturan yang mendasari dunia. Hari ini kita masih ingin tahu mengapa kita ada disini dan dari mana kita datang. Hasrat terdalam umat manusia untuk mencari pengetahuan adalah alasan kuat untuk melanjutkan pencarian. Dan tujuan kita adalah penjelasan lengkap atas alam semesta yang kita diami.

Menurut kosmologi awal dan agama Yahudi/Kristen/Islam, alam semesta bermula pada satu saat tertentu. Argumen yang mendukung adanya awal mula alam semesta adalah perasaan bahwa diperlukannya “penyebab pertama” (First Cause) untuk menjelaskan keberadaan alam semesta. Dipihak lain Aristoteles dan sebagian besar filsuf Yunani lain tak menyukai gagasan penciptaan karena terlalu berbau campur tangan Ilahi. Mereka percaya bahwa umat manusia dan dunia disekitarnya sudah selalu ada dan bakal terus ada selama-lamanya. Orang lain yang setuju dengan argumen itu memberi jawaban bahwa telah terjadi banjir besar atau bencana lain yang berkali-kali mengembalikan manusia ke keadaan awal. Mungkin seperti cerita Nabi Nuh dengan perahunya yang melegenda. St. Agustinus ketika ditanya “apa yang Tuhan lakukan sebelum Dia menciptakan alam semesta?” Agustinus menjawab “Dia mempersiapkan neraka untuk orang-orang yang bertanya seperti itu”. Ia menambahkan bahwa waktu adalah bagian alam semesta yang Tuhan ciptakan, dan waktu tidak ada sebelum permulaan alam semesta.

Beberapa orang merasa bahwa sains seharusnya hanya membahas bagian permulaan. Mereka menganggap persialan keadaan awal adalah urusan metafisika atau agama artinya Tuhan yang Mahakuasa dapat memulai alam semesta dengan cara apapun yang Dia mau. Boleh jadi demikian, tapi kalau begitu Dia dapat membuat alam semesta berkembang semau Dia. Namun tampaknya Dia memilih alam semesta berkembang secara sangat teratur mengikuti hukum-hukum tertentu. Berarti masuk akal juga kalau diduga bahwa ada hukum-hukum yang mengatur keadaan awal.

Tapi pada 1992, Edwin Hubble mendapat pengamatan penting bahwa galaksi-galaksi yang lain bergerak menjauhi kita. Dengan kata lain alam semesta ini mengembang. Artinya pada masa lalu segala benda kiranya berada lebih dekat satu sama lain. Malah tampaknya ada suatu waktu sekitar dua puluh miliar tahun bisa jadi ada keadaan kerapatan tak terhingga dan memberi kesan adanya “Ledakan Besar”. Namun dapat dibayangkan juga Tuhan menciptakan alam semesta pada saat ledakan besar atauh bahkan sesudahnya sedemikian rupa sehingga terkesan seolah ada ledakan besar.
Untuk menjabarkan semuanya, manusia membuat teori sesuai model pengamatan kita. TEORI hanya ada dalam akal budi kita dan tak punya realitas lain. Suatu teori dianggap bagus jika memenuhi dua syarat yaitu teori harus secara akurat menjabarkan sekelompok besar pengamatan dan teori itu harus membuat prediksi tertentu mengenai hasil pengamatan pada masa depan. Semua teori bersifat sementara, dalam arti hanya hipotesis yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya.

Hari ini para ilmuwan menjabarkan alam semesta berdasarkan dua teori dasar. Pertama, Teori Relativitas yang menjabarkan struktur skala besar alam semesta hingga skala satu juta juta (dua puluh empat nol sesudahnya) mil yang mampu diamati. Kedua, Mekanika Kuantum yang membahas fenomena diskala luarbiasa kecil hingga satu per sejuta juta inci. Namun sayangnya kedua teori ini diketahui tak konsisten satu sama lain (artinya tak mungkin benar keduanya). Makanya pencarian hari ini menemukan teori tunggal.

BAB 2 RUANG DAN WAKTU

Sebelum Galileo dan Newton, orang percaya kepada gagasan Aristoteles bahwa keadaan alami suatu benda adalah diam dan hanya bergerak kalau didorong suatu gaya. Jadi benda lebih berat memiliki gaya tarik lebih besar ke bumi dibanding benda yang lebih ringan. Aristoteles berpendapat bahwa semua hukum yang mengatur alam semesta bisa dipelajari dengan pemikiran saja. Namun setelah Galileo melakukan percobaan, dia menunjukkan bahwa tiap benda mengalami pertambahan kecepatan (percepatan) yang sama, tak peduli seberapapun beratnya. Contohnya bola yang dijatuhkan dari gedung tinggi akan mengalami kecepatan sekitar 1meter/detik, 2m/dtk, 3m/dtk dst. Tentu saja bola besi ini akan jatuh lebih cepat dari pada bul, tapi itu karena jatuhnya bulu diperlambat oleh tahanan udara.

Gagasan Newton dinyatakan tersurat dalam Principia Mathematica yang terbit pada 1687. HN1 :  “Jika resultan gaya pada suatu benda sama dengan nol, maka benda yang diam akan tetap diam dan benda yang bergerak akan tetap bergerak dengan kecepatan tetap”. Artinya benda yang diam akan mempertahankan kediamannya, benda bergerak akan mempertahankan kecepatannya. Contoh yang paling baik adalah saat mengendarai motor. Pada waktu kita diam diatas motor kemudian seketika menaikkan gas dengan cepat, maka badan akan cenderung mempertahankan kediamannya, sebagai akibatnya badan akan seolah terdorong kebelakang. Sebaliknya, ketika motor dalam kecepatan tinggi dan secara tiba-tiba di rem, motor dan badan tidak akan seketika itu berhenti namun seolah terdorong kedepan karena badan dan motor berusaha mempertahankan kecepatan geraknya. .  jika tidak ada gaya total yang bekerja pada sebuah benda, maka benda tersebut akan tetap diam, atau jika sedang bergerak, akan bergerak lurus beraturan (kecepatan konstan). HN2 : "Percepatan sebuah benda berbanding lurus dengan gaya total yang bekerja padanya dan berbanding terbalik dengan massanya. Arah percepatan sama dengan arah gaya total yang bekerja padanya.". Ketika benda dipengaruhi gaya maka benda akan mengalami percepatan atau perubahan kecepatan sebanding dengan gaya yang memengaruhi. Sederhananya , Suatu gaya total yang diberikan pada sebuah benda mungkin menyebabkan lajunya bertambah. Akan tetapi, jika gaya total nya itu mempunyai arah yang berlawanan dengan gerak benda, gaya tersebut akan memperkecil laju benda. Jika arah gaya total yang bekerja berbeda arah dengan arah gerak benda, maka arah kecepatannya akan berubah (dan mungkin besarnya juga). Karena perubahan laju atau kecepatan merupakan percepatan, berarti dapat dikatakan bahwa gaya total dapat menyebabkan percepatan. HN3 : "Ketika suatu benda memberikan gaya pada benda kedua, benda kedua tersebut memberikan gaya yang sama besar tetapi berlawanan arah terhadap benda pertama." Maksudnya Hukum ke tiga newton ini kadang dinyatakan sebagai hukum aksi-reaksi, “untuk setiap aksi ada reaksi yang sama dan berlawanan arah”. sangat penting untuk mengingat bahwa gaya “aksi” dan gaya “reaksi” bekerja pada benda yang berbeda.

Jika kita bermain pingpong diatas kereta, bolanya mematuhi hukum newton sama seperti bermain di meja disamping rel. Jadi tidak ada cara untuk mengetahui apakah yang bergerak itu kereta api atau bumi. Ketiadaan acuan diam yang mutlak berarti kita tak bisa memastikan apakah dua peristiwa yang terjadi pada waktu berbeda terjadi di posisi yang sama dalam ruang. Contoh, anggaplah bola pingpong di kereta api melambung naik lalu turun, memantul di meja dua kali dititik yang sama dengan jarak dua detik antara kedua pantulan. Bagi orang di pinggir rel kereta, keduapantulan tampak terpisah jarak sekitar 40meter, karena kerta api sudah berjalan sejauh itu antara dua pantulan. Sedangkan posisi di dalam rel menganggap bola tetap memantul dalam posisi ruang yang sama. Namun tak ada alasan posisi yang satu harus dianggap lebih tepat dijadikan acuan daripada yang lain. Newton khawatir dengan ketiadaan posisi mutlak, atau yang disebut ruang mutlak (absolute space), karena tidak cocok dengan gagasannya mengenai Tuhan yang mutlak. Dia malah menolak menerima ketiadaan ruang mutlak walau hukumnya sendiri mengatakan demikian. Di sisi yang lain, Aristoteles dan Newton sama sama percaya akan adanya waktu mutlak. Artinya mereka percaya bahwa kita bisa mengukur jangka waktu antara dua peristiwa dengan tepat, dan jangka waktu itu akan selalu sama, tidak peduli siapa mengukurnya, asalkan menggunakan arloji yang bagus.

Kenyataan cahaya bergerak dengan kecepatan tertentu yang amat tinggi pertama kali ditemukan pada 1676 oleh ahli astronomi Denmark, Christensen Roemer. Setelah mengamati gerak planet Jupiter, Bumi juga bulan, ia menyimpulkan bahwa cahaya bergerak pada kecepatan tertentu. Tapi pengukuran Roemer terhadap variasi jarak bumi ke jupiter kurang akurat. Dia mengemukakan bahwa kecepatan cahaya adalah 140.000 mil/dtk (225.300 km/dtk), berbeda dengan nilai modern kecepatan cahaya saat ini kita ketahui yakni 186.000 mil/dtk (300.000 km/dtk). Namun prestasi Roemer bukan hanya dalam membuktikan cahaya bergerak dengan kecepatan tertentu, melainkan juga dalam mengukur kecepatan itu. Ini memang sangat luarbiasa karena dilakukan sebelas tahun sebelum penerbitan Principia Mathematica karya Newton.

Salah satu tokoh besar yang sangat membantu pencarian fisika dalam memahami alam semesta adalah Einstein. Peryataannya yang paling terkenal ialah persamaan E = mc2  (dimana E adalah energi, m adalah massa, dan c adalah kecepatan cahaya). Serta hukum bahwa tidak ada yang bisa bergerak lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Hanya cahaya atau gelombang lain yang tak punya massa intrinsik yang bisa bergerak pada kecepatan cahaya. Jika Newton mengatakan waktu dari cahaya ketika menempuh perjalanan akan pasti oleh pengamat manapun (karena waktu bersifat mutlak), sedangkan jarak yang ditempuh bagi pengamat bisa berbeda-beda karena (memang ruang tidak bersifat mutlak). Di pihak lain, dalam relativitas Einstein, tak sepakat dalam hal jarak yang ditempuh cahaya, sehingga mereka pun jadi tak sepakat dalam waktu yang diperlukan menempuh perjalanan. Sederhananya ialah Waktu didapat dari jarak yang ditempuh – yang tak disepakati para pengamat – dibagi kecepatan cahaya yang sepakati para pengamat). Dengan kata lain, Teori Relativitas mengakhiri gagasan waktu mutlak!. Kelihatannya tiap pengamat punya pengukuran waktu sendiri yang tidak mesti mencatat waktu yang sama. Berarti pula tak ada pengukuran pengamat tertentu yang lebih benar daripada pengukuran pengamat lain. Dalam pengertian ini, suatu peristiwa adalah sesuatu yang terjadi di satu titik dalam ruang, pada saat tertentu dalam waktu. Dalam teori relativitas, kita sekarang mendefinisikan jarak dengan waktu dan kecepatan cahaya, sehingga secara otomoatis tiap pengamat akan mengukur bahwa cahaya memiliki kecepatan yang selalu sama yaitu satu meter = 0,000000003335640952 dtk. Kecepatan cahaya akhirnya digunakan menjadi satuan ukuran baru yang lebih praktis dan dinamakan Detik Cahaya. Detik cahaya didefinisikan sebagai jarak yang ditempuh cahaya dalam satu detik.

Jika seberkas cahaya dipancarkan pada waktu tertentu di suatu titik pada ruang, setelah satu per sejuta detik, cahaya akan menyebar membentuk bola dan jari-jarinya 300m. Sesudah dua per sejuta detik, jari jari bola itu 600m, dan seterusnya. Cahaya itu jadi seperti gelombang yang menyebar di permukaan kolam ketika ada batu dicemplungkan yang terus membesar seiring waktu

Jika matahari berhenti bersinar sekarang juga, kita bakal baru tahu sesudah delapan menit waktu yang diperlukan cahaya matahari untuk mencapai kita. Kita tak tahu apa yang terjadi pada saat ini ditempat-tempat yang terletak lebih jauh di alam semesta. Cahaya yang kita lihat dari galaksi-galaksi yang sangat jauh hingga jutaan tahun lalu. Dan dalam kasus benda paling jauh yang pernah berhasil kita lihat adalah cahaya yang berangkat sekitar delapan miliar tahun lalu. Jadi, ketika kita memandang alam semesta, berarti kita sedang memandang masa lalu.  

Fakta bahwa ruang bersifat melengkung berarti cahaya tak lagi bergerak menyusuri garis lurus. Jadi, relativitas umum memprediksi bahwa cahaya bisa dilengkungkan oleh medan gravitasi. Prediksi lain dari relativitas umum adalah bahwa waktu harus tampak melambat dekat benda masif seperti bumi karena ada hubungan antara energi cahaya dan frekuensinya (gelombang cahaya perdetik). Selagi cahaya bergerak ke atas dalam medan gravitasi bumi, cahaya kehilangan energi sehingga frekuensinya turun. Bagi orang yang berada di tempat sangat tinggi, kelihatannya semua yang ada dibawah terjadi lebih lambat. Prediksi itu diuji tahun 1962, dan didapati arloji di dasar yang lebih dekat dengan bumi berjalan lebih lambat, cocok dengan relativitas umum. Anggap saja ada kembaran, yang satu hidup di puncak gunung sementara kembarannya hidup di permukaan laut. Yang pertama akan menua lebih dahulu. Dalam kasus ini, perbedaan umurnya kecil sekali. Beda halnya jika salah seorang kembaran bepergian jauh dengan pesawat antariksa dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Ketika dia kembali, dia bakal jauh lebih muda daripada tetap tinggal di bumi.

BAB 3 ALAM SEMESTA MENGEMBANG

Sekarang kita tahu bahwa galaksi kita adalah satu dari beberapa ratus ribu galaksi yang bisa dilihat menggunakan teropong modern, dan tiap galaksi berisi beberapa ratus ribu juta bintang. Kita hidup di satu galaksi yang panjang garis tengahnya sekitar seratus ribu tahun cahaya dan berotasi pelan-pelan. Jelaslah bahwa kita sudah jauh dari gagasan Aristoteles dan ptolomeus yang memikirkan bahwa bumi adalah pusat alam semesta.

Kita tak bisa melihat ukuran atau bentuk bintang. Namun untuk sebagian besar bintang, hanya satu ciri yang bisa kita amati, yaitu warna cahaya. Newton menemukan prisma yang dapat memecah cahaya menjadi warna-warna penyusun (spektrum) seperti pada pelangi. Dan didapati spektrum cahaya bintang berbeda-beda. Artinya, kita bisa tahu suatu bintang dari spektrum cahayanya. Kita juga telah tahu bahwa tiap unsur kimia menyerap warna-warna tertentu yang sangat khas, dengan mencocokkan pola penyerapan dengan warna spektrum tertentu pada bintang, kita bisa mengetahui unsur-unsur apa saja yang ada di atmosfer bintang.

Apa yang di sebut Efek Doppler, mengungkapkan bahwa panjang gelombang cahaya terbesar ada di ujung merah spektrum sedangkan panjang gelombang terkecil di ujung biru. Jika sumber cahaya menjauhi kita, panjang gelombang yang akan kita terima akan lebih besar. Begitu pula sebaliknya jika mendekat gelombang akan mengecil. Berarti dalam kasus cahaya bintang, bintang-bintang yang menjauhi kita spektrumnya akan bergeser menuju merah (ingsutan merah) dan yang mendekat ke kita spektrumnya beringsut ke biru.

Dan sungguh mengejutkan ketika penelitian menemukan bahwa sebagian besar galaksi mengalami ingsutan merah. Dengan kata lain, galaksi lain bergerak menjauh dari kita. Yang lebih mengejutkan bahwa ingsutan merah galaksi lain ternyata tidak acak, namun sebanding dengan jarak dari galaksi kita. Dan berarti galaksi lain menjauh dengan kecepatan yang terus meningkat. Alam semesta ini tidak statis, tetapi terus mengembang.


Timbullah pertanyaan, akankah alam semesta kelak berhenti mengembang dan mulai menyusut? Ataukah akam semesta akan mengembang terus? Bukti yang ada sekarang memberi kesan bahwa alam semesta barangkali akan mengembang selamanya, tapi yang bisa kita pastikan, kalaupun alam semesta menyusut kembali ke nol akan memankan waktu sekitar sepuluh miliar tahun lagi. Hal itu tidak akan membuat kita khawatir karena disaat itu umat manusia sudah lama punah bersama matahari kita dalam tatasurya.



LANJUT Part 2


Rabu, 11 November 2015

MOHON


Akhirnya dari serangkaian keputusan besarku. Aku mulai menemukan diriku yang sebenarnya, menemukan identitasku, menemukan jati diriku. Walaupun keterasingan disini makin meningkat, namun kembalinya diri sebenarnya terasa lebih menenangkan.

Di dalam kampus begitu sunyi tiap hari. Saya hanya akan mendapati teman-teman semu yang tidak mengenal saya secara penuh. Kadang saya merintih, berdoa, ya Yang Maha, berikanlah saya satu sahabat yang berada didekatku, maka kupastikan diri akan lebih siap menghancurkan setiap tembok penghalang itu. Namun hingga kini kenapa semakin berat? apa saya yang salah? Orang yang mulai nyaman perlahan pergi dengan kesibukan yang tak bisa di ganggu.

Apa membaca itu salah? Jangan ketawa, kampus ku memang betul menjijikkan. Membacalah maka kau akan menjadi semakin asing, menjadi semakin misterius, menjadi semakin rumit, menjadi jauh. Sepertinya ajaran barat yang disisipkan pada sela pembahasan mulai berhasil memudarkan pandangan yang benar menurut agama, kultur, dan budaya kita. Bagaimana mungkin dosen itu begitu semakin tidak masuk akal? Apa dia dosen? Kalau hanya meneruskan apa yang dibuku, berarti pelajaran berjam-jam itu hanya perlu dibaca 5menit. Beberapa dari mereka benar-benar NYATA menumpulkan kreatifitas berfikir. Begitu sangat NYATA, bagi yang mau berfikir.

Pelajaran psikologi sekarang sudah mulai mengikis perlahan kekuatan-kekuatan filosofisnya dalam upaya memahami manusia lebih dalam. Kita berada pada masa tuntutan hal teknis. Psikologi sekarang, di kampus menjijikkan ini, kamu akan dilatih menjadi manusia tanpa fikiran, bersembunyi di balik alat dan teori dimana sebagian kecil diantaranya tidak masuk akal.

Ok maka dari itu saya memutuskan banyak keputusan besar yang terkesan bermalas-malasan, lari dari masalah, pragmatis. Padahal jalan yang mereka lalui bisa jadi tidak benar. saya akan menjual pemahaman pada orang tua. Jika saya tidak begini maka cobalah hentikan otak saya, coba hentikan perasaan saya, coba hentikan stok buku di malang, coba bunuh saya.


Tenang pak bu. Kalian tidak mengetahui di belakang dari jam-jam tidak menyenangkan itu, saya menyusun banyak strategi. Strategi ini sederhana tujuannya, tapi entah kenpa begitu sulit. Yang penting saya bisa mempertahankan kemanusiaan ku, akan kulakukan apapun yang tergores dalam hal-hal baik yang harus diperjuangkan sesuai identitas diri, sesuai jati diri, sesuai manusia. 



Selasa, 10 November 2015

UNGKAPAN UNTUK BAPAK


Bapak boleh menganggap saya ini anak kecil bapak yang mungkin bapak tahu hanyalah saya belajar di kampus, pulang kerja tugas, makan, bergaul, dan dikirimkan rejeki untuk hidup. Tapi ternyata anakmu ini mengalami banyak benturan realita. Konflik-konflik yang hadir bisa dari mana saja, dari fisik, perasaan dan fikiran. Bapak harus tahu bahwa disini saya banyak bertemu dengan orang-orang hebat, banyak belajar dari berbagai sumber mendengar, membaca, diskusi, merenung.

Saya adalah darah dan gen-gen dari bapak dan ibu. Saya banyak dipengaruhi kalian berdua. Gen-gen di dalam sepertinya menuntun saya mengambil banyak hal-hal dari bapak. Saya belajar dari renungan, membaca, musikalitas, kesadaran dan banyak hal dari gen-gen dan pelajaran yang bapak berikan sampai sekarang.

Ternyata sebentar lagi saya akan mengetuk gerbang di umur remaja akhir atau dewasa awal. Dari basic gen yang bapak curahkan ditambah pengalaman disini, saya banyak mendapati kejanggalan dalam hidup, ketidak sesuaian apa yang seharusnya terjadi. Bapak boleh mengatakan itu hanyalah idealisme anak muda, idealisme anak kampus. Tapi kata idealisme sekarang banyak tercoreng, seolah itu adalah fase, sebagai permainan orang tua. Bapak tidak lihat bagaimana tokoh tokoh besar dalam mempertaruhkan hati dan realitanya? Dan pasti bapak tahu. Karena bapak pernah dapat prestasi di berupa piala dari perpustakaan kota makassar sebagai anggota terajin meminjam buku dan itu bagi saya membanggakan. Nama-nama Galileo, Einstein, Soekarno, Gusdur, Gie, Cak nun, dan masih banyak nama besar lainnya yang lahir sebagai manusia yang berani dalam mengungkapkan apa yang semestinya terjadi, berani mempertahankan gagasannya, berani mengambil keputusan besar, dan berani mempertanggung jawabkan semuanya. Maka mereka adalah emas emas dalam sejarah manusia.

Saya belajar banyak dari pembahasan time management, dan realita hidup didunia, disini. Bahwa kalaupun saya tidak masuk kuliah di sela-sela dalam kurung waktu satu semester misalnya, itu karena ada prioritas kegiatan yang sepertinya hati dan fikiran saya memberatkan kepada hal itu. Apakah itu membaca, meresume, latihan musik, bertemu orang ,atau istirahat dari ancaman sakit panjang atau apapun. Namun dengan asumsi pertimbangan itu betul dilakukan dan dipertanggung jawabkan. Misalnya saja adanya jatah bolos kata dosen, atau pelajarannya tidak begitu mengisi (mampu dibaca sendiri), perkiraan dosen yang tidak masuk dan masih banyak aspek sebagai pembanding. Tanggung jawabnya adalah saya siap membaca lebih, belajar lebih, siapkan mental lebih. Karena hidup ini bertarung dengan waktu.

Waktu dihidup ini berjalan sangat cepat, sementara hal-hal yang ingin dilakukan menjadi semakin menyiksa. Dengan segala pertimbangan berat, saya memutuskan untuk tidak lagi mengikuti program beasiswa double degree D3 bahasa Inggris di kampus. Bapak boleh dan pantas untuk kecewa bahkan marah. Namun program itu terasa menyita waktu yang banyak pada jam-jam terbaik untuk melakukan hal lebih penting. Bukan berarti program itu tidak penting. Kalo esensinya bapak berniat supaya saya mampu memahami dan berbahasa inggris, realitanya saya lebih banyak mendapat pelajaran sewaktu belajar di kediri selama tiga bulan dibanding satu setengah tahun berada program kampus itu. Bahkan apa yang membuat saya dapat lolos menerima beasiswa itu berkat bekal yang bapak beri sewaktu di kediri dulu.

Setidaknya dengan itu saya selangkah lebih maju menunjukkan bahwa sebenarnya anakmu ini mampu bersaing. Walaupun tidak mudah, jika mau IP yang tinggi bisa saya dapatkan di kampus sekarang. Tapi itu terjadi jika bapak ingin melihat saya menjadi seorang yang berbeda dengan mengikuti pola pengambilan nilai dari beberapa dosen yang kadang sudah tidak masuk akal, hanya menerima, tidak berfikir jauh, menjual diri pada waktu, memelas pada nilai, bersujud pada sistem, persona kepada orang lain. Menjadi bukan diri ini, menjadi bukan apa yang esensi pelajaran bapak dan psikologi inginkan. Tapi sekali lagi saya meyakinkan bapak sebenarnya saya sanggup bersaing. Tapi ternyata bukan itu.

Jika saya robot, mungkin saya bahkan mampu mengambil triple degree di kampus lain pada hari sabtu dan minggunya. Namun sayangnya saya adalah manusia biasa dengan perasaan dan fisik terbatas. Saya sangat memahami bahwa Orang tua terutama bapak adalah sosok yang mempunyai sifat bijaksana yang tidak dimiliki saya atau seumuranku yang ingin mencoba banyak hal sebagai darah muda. Apalagi pemahaman dari gagasan tokoh Erick Erickson menegaskan bahwa setiap perkembangan manusia (umur tertentu) mempunyai kebutuhannya masing masing. Bapak sekarang sepertinya memasuki dua fase, fase dimana bapak terbebani  tugas yang harus dicapai yaitu dapat mengabdikan diri agar nantinya mencapai keseimbangan terhadap penerusnya (generatifitas) atau cemas tidak melakukan apa-apa (stagnasi). Harapan yang ingin dicapai dalam masa ini adalah bapak ingin terjadinya keseimbangan antara generatifitas dan stagnasi guna mendapatkan nilai positif. Mungkin saat ini pula bapak cemas apa yang bapak telah lakukan atau apa yang telah bapak tawarkan pada generasi selanjutnya? Kepada anak anaknya? Kepada saya? Atau bapak boleh jadi sementara resah mengenai  kepuasan dan kelegaan dalam segala kegiatan dalam hidup bapak? Perasaan aman, utuh, dan terarah?. Saya mencoba mengerti, bahwa bapak melalui tahap yang sulit dilewati karena orang pada masa ini cenderung melakukan introspeksi diri. Mereka akan memikirkan kembali hal-hal yang telah terjadi pada masa sebelumnya, baik itu keberhasilan maupun kegagalan.

Maka dari itu kutekankan kepercayaan kepada bapak bahwa kemunduranku dalam program itu bukan berarti saya mengalah terhadap dunia. Mungkin dengan double titel di belakang namaku mampu membuat bapak bangga, tetapi tidak menyelamatkan diri ini secara mendalam. Keputusan itu justru melahirkan tanggung jawab yang lebih besar. Saya akan menjanjikan kepada bapak kebanggaan kebanggaan lainnya yang bisa membuat bapak lebih bahagia, dan saya beserta diri terdalam juga bangga. Saya rasa kakak sudah banyak membuktikan hal itu, bahwa ia berhasil mengganti harapan kebanggaan dalam harapan bapak menjadi kebanggaan lain yang tak kalah indah. Dan berhasil menyelamatkan diri karena telah melakukan apa yang ia ingin lakukan. Dia berhasil membanggakan diri kakak sekaligus.

Jangan pernah lagi bapak menyampaikan pesan “semoga kau lebih baik dari bapak nantinya”. Biar bagaimana pun bapak adalah sosok yang sudah sangat berhasil menuntun anak-anaknya sampai hari ini. Saya tidak mungkin dapat membalas kebaikan bapak. Apalagi bapak sudah banyak memberi manfaat dan hasil pada zaman bapak kepada orang lain yang tidak mungkin kutemui dan kulakukan pada waktu yang sama.

Pak izinkan saya melakukan apa yang ingin kulakukan, dan hal itu tak akan lepas dari impian membanggakan bapak dengan caraku sendiri. Intuisi akan hal baik dan buruk sudah mulai terpahamkan. Melibatkan Tuhan yang bapak ajar, pelajaran yang bapak ajar, pesan yang bapak berikan justru memberi banyak hal yang bapak mungkin TIDAK PERNAH SANGKA. Dan itu sangat berarti. Berdirilah dengan anggun, tegap, dan banggalah pak. Bahwa kau telah berhasil menjadi orang tua super untuk anak-anaknya yang tersadarkan akan arti kehidupan. Saya memahami bahwa walaupun muungkin materi bukan segalanya tetapi hampir segala sesuatu bisa dipengaruhi materi, kecuali dan namun alangkah tentramnya hidup, walaupun jika anakmu nanti hidup dengan materi sederhana namun bahagia lahir dan batin didunia ini. Berhasil sadar dan terpahamkan bahwa tujuan Tuhan pada akhirnya bukan itu.

Adakah ungkapan lebih romantis antara anak dan bapaknya selain ini? Jika ada saya ingin melakukan itu. Karena komunikasi terbuka adalah jalan memahami terbaik sejauh ini yang saya ketahui.Biarkan waktu mengalir oleh kesempatan yang bapak beri dan perjuangkan berupa Ilmu Psikologi, Saxophone, dan Gen mu menjadi hal indah hari ini dan nanti. Karena Tuhan mengatur sedemikian rumit kehidupan dengan kejutan-kejutan tak terduga. Dan saya tak berarti tanpa perjuangan bapak.
Satu lagi jangan berhenti mengirimkan rekaman nyanyian dengan gitar yang selalu kudengar pada jam jam sulit.






Senin, 09 November 2015

Aniaya Diri


Saya selalu benci bertemu orang hebat, berdiskusi sampai pagi, membaca buku, banyak merenung. Atau apapun bentuknya yang selalu bersifat mengisi. Beban mengetahui dan memahami adalah menjadikan kita secara tidak langsung bertanggung jawab dan diatur oleh rambu-rambu perasaan. Sedangkan semakin mencari dan menemukan, semakin diri ini terlihat kecil dan tak berdaya. Menyatakan diri ini belum siap wajar-wajar saja. Karena dalam hal penilaian, untuk bisa lebih tepat, maka sebaiknya dinyatakan pembandingnya. Terlalu banyak orang hebat yang ditemukan indra, sehingga pergerakan menjadi hal yang berat.

Tantangannya adalah masalah-masalah di depan kita yang mampu berwujud menjadi apa saja. Puisi Gus Mus, “Kau ini bagaimana, atau Aku harus bagaimana”, menjadi bahasa paling mewakili ribetnya segala sesuatu realita fisik dalam gejolak internal pribadi dalam hidup bernasional. Saya seperti hina sekali menjadi manusia. Banyak hal menjadi banyak serba salah.

Disisi lain, menyatakan orang yang dianggap salah memang betul bersalah menjadi bimbang. Siapa suruh manusia diberikan suatu kehendak bebas dan kebutuhan naluriah di berbagai tingkatan. Si bersalah tetap saja berupa manusia yang ruwet untuk dijabarkan tindakan kejamnya. Karena sudut pandang terhadap perilaku terlalu banyak. Kesimpulan tumpul seringkali terjadi karena diri ini tidak akan bisa merasakan seluruh perasaan, fikiran, dan aktivitas empiris manusia lainnya. Kita hanya berhak berhipotesis tak berhingga.

Sekarang segala sesuatunya menjadi lebih membingungkan dari sebelumnya. Menjadi lebih buram dari sebelumnya. Dimana rasionalnya pembakaran hutan yang mengakibatkan penyakit, pencemaran udara, meningkatkan rawan kecelakaan, menghambat banyak aktivitas, mrncucurkan banyak air mata, membuat banyak manusia memelas, menyubang polusi besar kerusakan dunia, mengurangi sumber orksigen dunia, mengancam umur bumi, mengancam generasi manusia, membunuh beberapa manusia, hanya untuk kebutuhan sekunder bahkan mungkin tersier perorangan. Terlalu mahal harga yang harus dibayar. Atau contoh hal lainnya yang membuat rasa ini merintih.

Jika masalah-masalah besar ditarik oleh sebab akibatnya, maka banyak masalah lahir karena “Terlalu banyaknya manusia di bumi ini”. Seandainya manusia sedikit, takkan ada perebutan tanah, takkan ada negara, tak akan ada masalah nasionalisme dan birokrasi yang marak ditemukan manusia. Okelah ada kutipan bahwa “Bumi kita sanggup memenuhi seluruh kebutuhan manusia, tapi tidak mampu memenuhi keinginan satu manusia”. Bagaimanapun pro-kontra berupa imaji yang terjadi selalu hampir tidak membuat apa-apa.

Bisa saja setelah bertemu seseorang, saya akan mengatakan “oh kayaknya memang harus dibakar hutannya ya” “oh kayaknya memang harus sistemnya tumpul diatas tajam kebawah agar...”. namun itu hanyalah kehebatan retorika yang selalu tangguh dan mampu bersifat netral dan elastis digeser ke negatif atau positif. Saya yakin secara naluriah, dan semakin dewasanya manusia, baik dan buruk itu mampu dirasa secara intuisi.


Apa semua ini????? Terlalu banyak hal-hal tidak masuk akal dipaksa terpahami. Beban-beban mulai mampu kutangani, namun pada akhirnya saya sampai pada beban terberat yaitu memahamkan bapak ibu. Mungkin kita hanya butuh komunikasi yang lebih yang selalu gagal via suara. Dekat ini akan kucurahkan semua isi diri kepada bapak dan ibu lewat tulisan, dan semoga mereka bisa memahami. Bahwa anaknya disini bukan robot, bukan anak kecil, anaknya disini adalah manusia yang miris terlahir didunia.







Rabu, 04 November 2015

SEANDAINYA



Kegelisahan umat manusia akan kekuatan yang lebih besar darinya sudah ada, mungkin dari manusia pertama versi  kitab, atau sejak generasi manusia dengan kemungkinan nalar yang memadai mulai lahir versi sains. Membahas masalah seperti ini, berarti akan dan siap dibenturkan dengan jutaan sudut pandang, jutaan gagasan. Satu manusia kecil dari milliaran kesadaran manusia yang pernah terlahir di planet indah namun tidak istimewa ini mencoba berteriak “kesadaran apa ini?” ‘’kenapa saya sadar?” “saya terlalu kecil untuk disadarkan!” “dimana ini?” “apa ini?” “bagaimana ini bekerja?” “dulu bagaimana?” “dulu kenapa?” “sekarang bagaimana?” “sekarang mengapa?” “nanti bagaimana?” “nanti kenapa?”. Seolah hidup manusia dari awal hingga kini dirangkai dengan tujuan bersama mencari jawaban absolut akan pertanyaan tadi.

Kita menjadi kasian. Terlahirkan dengan beban kontinu. Terlahirkan dengan keadaan sesat. Terlahir tidak jelas. Apa yang paling jelas dari kesadaran akan hidup? Sementara estafet ini masih dan akan tetap terus berlangsung, sementara kita diberikan kesibukan sampingan akan rentetan kebutuhan yang disebut nyata dan realis. Padahal kesadaran itu menjadi konflik nyata yang kabur. Karena pada dasarnya kita manusia adalah makhluk yang teraniaya oleh dirinya sendiri, oleh kesadaran itu sendiri.
Kita sesungguhnya tidak sanggup, tidak berdaya. Muncullah dewa-dewi, muncullah mukjizat, muncullah sosok, muncullah misteri, lalu Tuhan menampakkan setitik dirinya. Akulah yang.....Akulah yang.... Akulah yang... Oh ternyata Dialah..... Oh ternyata Dialah..... Oh ternyata Dialah...... kesadaran menerima. Namun kesadaran membantah....... Sains.... sains... sains..... manusia... manusia.. mausia.... kesadaran menerima. Namun kesadaran sadar lagi, ia tapi Dia..... ia tapi Dia..... ia tapi Dia..... kesadaran sadar. Kesadaran bingung. Kesadaran sangat tidak sadar. Kesadaran terlalu sadar!!!!

Seandainya ibrahim dipertemukan dengan Thales, seandainya Yesus dipertemukan dengan Aristoteles dan Plato, seandainya Muhammad dipertemukan dengan Descartes, seandainya Deedat dipertemukan dengan Paus, seandainya Zakir Naik dipertemukan dengan Einstein dan Stephen Hawking.



Sadarlah!!! Bentar sore kamu kuliah. Jangan tidak masuk lagi. Jangan terlalu sadar, nanti tidak realis katanya. Sadarlah!!! 

Selasa, 03 November 2015

Si Bapak Dokter Pintar


Kisah nyata ini begitu saja terbersit ketika masih melamun mengimajinasikan betapa cerdasnya pemikir-pemikir dulu seperti Galileo, Aristoteles, Newton dll. Kasusnya mudah saja Aristoteles saat itu beranggapan bahwa keadaan alami suatu benda adalah diam dan benda hanya bergerak kalau didorong suatu gaya atau impuls. Jadi benda berat akan jatuh lebih cepat daripada benda ringan, karena benda berat memiliki gaya tarik (berat benda = gaya penyebab) lebih besar menuju bumi. Inilah gagasan yang menjembatani kajian-kajian ketuhanan, bahwa segalanya (akibat) pasti diawali suatu penyebab. Kita biasa mengatakannya hukum “Sebab-Akibat” atau “Stimulus-Respon” (Kausalitas). Akibat itu bisa terjadi langsung dan tidak langsung. Contohnya kita melempar bola pingpong ke dinding (sebab) maka bola langsung terpantul sesuai energi lemparan dikurang tahanan udara dan gaya gravitasi (akibat). Begitu dinding menyentuh tembok seketika pula bola pantul, itu disebut akibat langsung. Sementara ketika bediri dalam sebuah ruangan besar yang kosong dan berteriak, maka setelah teriakan kita muncul kembali pantulan suara yang disebut gema. Gema ini adalah contoh akibat tidak langsung. Sebab akibat ini tetap berada pada perhitungan ruang dan waktu. Maka Aristoteles mengatakan kita hari ini dan segalanya adalah akibat dari sebab yang saling mengikat satu sama lain. S-A’S-A’S-A...... dan begitu seterusnya. Dan sebab pertama adalah Dialah Tuhan.

Aristoteles mengatakan bahwa semua hukum yang mengatur alam semesta bisa dipelajari dengan pemikiran saja (pembuktian dengan pengamatan tak diperlukan). Itu bisa jadi benar, namun pengukuran Galileo menunjukkan bahwa tiap benda mengalami pertambahan kecepatan (percepatan) yang sama. Penemuan Galileo ini mengilhamkan sesuatu kepada Newton yang kita sebut Hukum Newton. Gagasan Newton dinyatakan tersurat dalam Principia Mathematica yang terbit pada 1687.
HN1 :  “Jika resultan gaya pada suatu benda sama dengan nol, maka benda yang diam akan tetap diam dan benda yang bergerak akan tetap bergerak dengan kecepatan tetap”. Artinya benda yang diam akan mempertahankan kediamannya, benda bergerak akan mempertahankan kecepatannya. Contoh yang paling baik adalah saat mengendarai motor. Pada waktu kita diam diatas motor kemudian seketika menaikkan gas dengan cepat, maka badan akan cenderung mempertahankan kediamannya, sebagai akibatnya badan akan seolah terdorong kebelakang. Sebaliknya, ketika motor dalam kecepatan tinggi dan secara tiba-tiba di rem, motor dan badan tidak akan seketika itu berhenti namun seolah terdorong kedepan karena badan dan motor berusaha mempertahankan kecepatan geraknya.  jika tidak ada gaya total yang bekerja pada sebuah benda, maka benda tersebut akan tetap diam, atau jika sedang bergerak, akan bergerak lurus beraturan (kecepatan konstan).

HN2 : "Percepatan sebuah benda berbanding lurus dengan gaya total yang bekerja padanya dan berbanding terbalik dengan massanya. Arah percepatan sama dengan arah gaya total yang bekerja padanya.". Ketika benda dipengaruhi gaya maka benda akan mengalami percepatan atau perubahan kecepatan sebanding dengan gaya yang memengaruhi. Sederhananya , Suatu gaya total yang diberikan pada sebuah benda mungkin menyebabkan lajunya bertambah. Akan tetapi, jika gaya total nya itu mempunyai arah yang berlawanan dengan gerak benda, gaya tersebut akan memperkecil laju benda. Jika arah gaya total yang bekerja berbeda arah dengan arah gerak benda, maka arah kecepatannya akan berubah (dan mungkin besarnya juga). Karena perubahan laju atau kecepatan merupakan percepatan, berarti dapat dikatakan bahwa gaya total dapat menyebabkan percepatan.

HN3 : "Ketika suatu benda memberikan gaya pada benda kedua, benda kedua tersebut memberikan gaya yang sama besar tetapi berlawanan arah terhadap benda pertama." Maksudnya Hukum ke tiga Newton ini kadang dinyatakan sebagai hukum aksi-reaksi, “untuk setiap aksi ada reaksi yang sama dan berlawanan arah”. sangat penting untuk mengingat bahwa gaya “aksi” dan gaya “reaksi” bekerja pada benda yang berbeda. Misalnya bola pingpong yang dilempar kedinding menghasilkan reaksi yang berlawanan memantul ke arah sebaliknya dengan gaya yang sama”.

Dari putaran panjang pemahaman diatas, saya mengingat sebuah kejadian ketika saya mengalami sakit demam dan muntah. Saat itu saya berada di umur-umur kelas satu SMA. Karena sakit yang berkepanjangan, bapak saya memutuskan mengajak saya ke dokter yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Tempat itu adalah rumahnya yang sebagian di sulap menjadi tempat prakteknya. Setelah memeriksa, si dokter yang terlihat tua, sehat dan kaya akan pengalaman banyak bercerita tentang dirinya. Bahwa ia terlahir dari keluarga susah dengan banyak saudara, namun berhasil dalam karirnya. Ia sudah belajar banyak hal terkait medis, pernah belajar dan mengajar di berbagai negara. Tak lupa ia menambahkan “jika praktek dirumah, saya selalu memberi harga yang murah bagi pasien disekitar sini, dan pelanggan saya”. Semua itu cukup menakjubkan diri saya mendengarnya.

Namun seketika saya gugup setelah si dokter cerdas itu melemparkan beberapa pernyataan dan pertanyaan kepada saya. “Sudah kelas berapa kamu? Tinggal dimana? Bagaimana kamu disekolah? Pintar tidak? Oke saya mau kasi kamu pertanyaan yang sudah dibahas ketika kamu masih SMP, apa Hukum Newton yang pertama??? Ini pertanyaan biasa”. Hati dan badan saya gugup, belum lagi bapak disebelah yang menatap dengan senyum kecut seolah berbicara “anak saya ini baik dok!! Dia pasti bisa menjawabnya! Itukan pertanyaan yang kata dokter sudah dipelajari sejak anak saya SMP! Ayo anakku yang cerdas, kamu pasti bisa!!”. Akhirnya kepalaku menggeleng atas jawaban ketidaktahuanku. Pandanganku sedikit berubah bias pertanyaan tentang Hukum Newton.

Rangkaian pertanyaan lain yang coba dia lemparkan kepada saya namun semua itu seperti angin lewat tanpa suara. Kepalaku tunduk dengan emosi kecil. Namun anehnya rasa kesal itu berubah menjadi hal positif saat jalan pulang. Kupeluk bapak karena lemas masih menyelimuti tubuhku. Kapan-kapan kalau saya sakit lagi, saya mau di periksa sama pak dokter yang cerdas itu, dalam hati.

Seandainya dengan fikiran seperti sekarang dokter itu bertanya pertanyaan yang sama. Saya akan bertanya balik. “saya tidak tahu jawaban pertanyaan bapak, tapi bapak bisa jawab tidak pertanyaan saya. Setelan standar senar gitar nomor 1 itu nada apa? Atau nada ke empat scale major kalo C=do itu apa? Atau pertanyaan lain yang sekiranya saya tahu tapi dia tidak tahu”. Menurut saya pengetahuan yang tidak berhasil disimpan dan diingat bukan karena kita bodoh, tapi seberapa penting dan seberapa berminat kita mengenai suatu pengetahuan. Saya bisa menyalahkan guru SMP karena pada saat pelajaran Fisika mengenai Hukum Newton, dia langsung memberikan rumus dengan bahasa yang sulit kucerna, atau mengapa dia menyuruh kita memahami hukum newton tanpa memberi contoh yang menarik mengenai kehidupan kita sehari-hari, agar Hukum ini bisa kita pahami karena dianggap penting dan keren.

Lihat saja sejarah berlangsung. Saya atau kita boleh mengatakan saat itu bahwa Aristoteles benar dalam setiap gagasan yang dikeluarkan. Dengan yakinnya dia bahwa “semua hukum yang mengatur alam semesta bisa dipelajari dengan pemikiran saja (pembuktian dengan pengamatan tak diperlukan)” namun realitanya Galileo berhasil mematahkan itu. Walaupun hukum kausalitas Aristoteles bisa dibenarkan, tapi dia gagal menjelaskan keseluruhan karena ketidakmauannya melakukan ujicoba.

Pada akhirnya, ilmu pengetahuan jika ingin mudah dicerna dan dipahami serta diingat. Haruslah menarik, penting bagi kita, dengan penjelasan yang bisa dipahami. Kalau salah satu aspek tidak memenuhi, bukan salah manusia. Manusia itu adalah makhluk tercerdas, tidak bodoh. Dan pak dokter pintar, apa kabar? Apa bapak masih sehat? Saya rindu bapak? Suatu saat kalau saya sakit saya mau bapak saya antar ke sana lagi. Semoga bapak sehat. Saya banyak belajar dari saat itu.

lihatlah Om Aristoteles berhasil merangsang Om Galileo, Om Galileo berhasil merangsang Om Newton. Semua punya peran penting. Semua berjalan indah dalam ruang dan waktu. begitupula bapak dokter dan saya.

Minggu, 25 Oktober 2015

Butiran Dalam Hening

Butiran hangat dalam terpaan yang terabaikan

Turut merasa, jauh dalam lubuk hatinya

Merindukan rintik hujan, juga dinginnya malam

Agar menetap , tak perlu berkelana lagi

Tapi waktu singgah tuk menata jarak,

juga tuk merencana

Dan jika hening mampu terlalui

maka hujan kan datang, dengan indahnya

oleh : nanda
Makassar 24 okt 2015


 
biz.