Rabu, 02 Desember 2015

OM SASTRA


Ketika merenung, sepertinya seluruh bacaan berubah menjadi simbol-simbol penuntun ke sebuah muara yang begitu besar. Selalu tersedia petunjuk arah ketika berada di persimpangan. Pertemuan dengan orang, huruf-huruf dalam kertas, atau minimal sayup-sayup mata dan hembusan udara begitu tegas.

Aku benar-benar bingung bagaimana menyampaikan semua ini kepada bapak. Dan ketika terbersit, orang-orang akan menganggap aneh, minimal sombong atau sok.


Lalu dimana aku mampu bersandar? Sementara Aku tetaplah bagian terkecil dari zarah-zarah ciptaan. Siapa yang mampu menyalahkan Pramoedya ananta toer yang kembali dalam rangkaian kata. Toh kertas lebih mampu merasakan tekanan penanya dibanding orang sekitarnya.



Selasa, 01 Desember 2015

SELIMUT HANGAT


Aku merasakan sebuah hubungan intim dengan ilmu pengetahuan. Aku bisa diajak bermain di sebuah air terjun sejuk dengan penuh kebahagiaan ketika bersama buku. Ia mampu hadir menjadi sosok yang melebihi orang-orang disekitarku. Melebihi perempuan yang kucintai. Dia begitu dekat, seperti keakraban terindah bersama keluarga kecil ku. Bapak, ibu, saudara, dan dia.

Ada apa aku ini? Mengapa perabaanku dalam seretan langkah tidak menunjukkan omayoritas orang disekitarku merasakan hal yang sama. Ketika kubaca sejarah, kelahiran teori, perjalanan ilmu, atau kisah perjuangan pelakunya, seperti ada yang memelukku begitu hangat dalam kehidupan. Aku merasa penuh gairah eksistensi hidup dibumi.

Pada titik-titik tertentu, ketika terjebak pada jalanan ini, akan kurebahkan diriku dibawah pohon rindang besar, lalu kubentangkan selimut terhangatku berupa goresan pikiran, mahakarya sejarah kemanusiaan. Aku tidak sesepi itu

Setelah yakin, Aku gemetar.
Pak saya sangat takut
Bahkan hanya untuk sekedar mengetuk pintu sains
Ilmu pengetahuan seperti anak Tuhan


Minggu, 29 November 2015

SEMENTARA


Ternyata Aku harus lebih dewasa menafsirkan lingkungan. Semua mampu berpendapat apa saja, dan merasuki gerbang keputusan. Apa yang mampu kuandalkan selain diajak angin lalu memotret jejak di lumpur penghisap? Kadang-kadang ku asingkan diri walaupun sebatas perasaan di jembatan gantung tempat orang-orang putus asa dan bunuh diri.

Kemudian tawa kecil datang, menarik kumpulan cahaya, lalu melukis wajah dan tubuhku dengan semaunya. Sementara kepalaku di borgol dan dadaku di ikat kencang. Mereka berbicara, sampai kepalaku mengangguk, dan melepaskan perlahan. Membiarkan saya terbang kesana kemari tak berarah.

Aku tersesat....

Setelah kucurahkan semua, Apa yang kudapat? Hanyalah pernak-pernik dan runtuhan bekas bangunan bersejarah. Kukumpulkan semua dan berharap, setidaknya pondasi-pondasi harapan bisa kubangun sendiri.

Dengan teropong, banyak kulihat dari kejauhan rintihan kecil. Mereka memaksa mengirimkan desain bangunan harapan. Padahal diri sendiri masih mengais sisa sisa semangat dalam imajinasi. Terlambat !!! Badai dan angin topan dari belakangku sudah mendekat. Tidak ada kesempatan. Dengan tangan penuh darah, kususun semuanya.


Semoga apa saja keabstrakan di saat nanti, kuharap bangunanku bisa menahan angin kencang itu dari mereka. Aku sedang... sementara....

Anwar – RASA


Tak di sengaja diri ini kembali dipertemukan pada gesekan dalam perjalanan. Rasa benar-benar dipermainkan malam ini. Saya mampu jatuh cinta, mampu benci, mampu resah, mampu jengkel, mampu sedih, mampu ceria dalam sekejap pada gerakan sekitar. “Omah Komunitas – Inspirasi” mengadakan apa yang mereka sebut ‘Soft-Launching’ cafe ataupun wadah sebagai ruang baru mendeklarasikan rasa. Sepertinya

Adalah prosa, teater, monolog, puisi, musik, dan tarikan nafas dari raut wajah yang tercipta pada setiap sosok yang hadir mampu menjatuhkan ku dalam permainan seni. Sementara setiap beban ini masih terus saja membusuk didalam, biarkan hidup tetap hidup.

Pertemuanku kali ini menjadi hal baru dengan Mas Anwar. Ia sosok pelaku seni hidup. Aku tidak paham bagaimana semua berjalan. Manusia benar-benar diambang kesempurnaan makhluk. “Memang benar adanya manusia dengan Kecerdasan Rasa” katanya. Pelaku seni akan terus berjumpa pada asah kepekaan rasa setiap saat. Mereka akan cenderung menjadi perasa yang baik dan cepat. Secepat apapun dalam rasa.

Walaupun rasa itu akan menjadi konsepsi manusia keseluruhan. Namun, melihat hal-hal menjadi begitu dalam dan mempengaruhi diri akan menjadi kunci dalam gerbang sempit. Keos yang bertabrakan pada apapun atau hanya sekedar bergesekan tetap akan menimbulkan bekas lalu berubah menjadi hubungan dan komunikasi intra diri. Imaji apapun yang kita susun, tak akan pernah mampu lepas dari dirinya dalam membaca seluruhnya. Tidak akan ada pengadilan rasa pada titik ini, namun hanya ada pilihan tetap hidup atau mati.  


Sampai berjumpa lagi, Makasih

Selasa, 24 November 2015

Maaf


Teman-teman,  saya sangat minta maaf akan perubahan drastis yang terjadi pada saya belakangan ini. Sangat benar bahwa ini bukanlah hal yang saya sengaja ataupun rencanakan, namun arah langkahku begitu jelas mengarahkan diriku pada abstrak kehidupan. Saya sangat mengamini gagasan mengenai pencarian jati diri, identitas diri yang sebenarnya. Dan ketika pencarianku mendapat titik terang, dunia seolah menolakku. Namun kehangatan akan ketentraman jiwa begitu deras menyelimuti ragaku. Seolah ada tameng besar dengan pengawal raksasa berada di dalam diriku, ketika perlahan kurangkul diriku yang sbenarnya.

Sudah kutegaskan pada tulisanku sebelumnya, bahwa saya akan sangat berhati-hati dalam menilai manusia, memberi kesimpulan pada manusia. Bahwa kita semua tidak akan mampu membayar seluruh pengalaman orang lain dan jalan pemikirannya pada jalan panjang umurnya untuk menyimpulkan mereka pada sisi luar empiris di titik waktu singkat dalam hidupnya. Dan semoga teman-teman tidak melihat saya pula dalam pandangan itu. Sebaliknya kita dituntun pada hal baik yang begitu jelas, pemahaman akan keterbatasan fisik pula harus menjadi pertimbangan nyata.

Saya pertaruhkan diri untuk membayar hasil pergolakan fikiran, berupa tindakan nyata. Hal-hal ini menurut saya besar, makanya waktu begitu sempit untuk mempersiapkan bekal diri menghadapinya. Apa susahnya saling memahami? Namun hukum-hukum itu mulai saya pahami, bahwa hal-hal baik tidak selamanya dipantulkan pada rasa yang sama.


Perjalanan ini perjalanan baik. Dan saya ingin membaginya pada kalian. Semoga kalian juga mampu membagi rasa dari perjalanan kalian kepada saya. Dan hal itu cukup rumit untuk kita jalankan pada sistem kuat di lingkaran kita. Makanya hadirnya “Diskusi Pelataran” menjadi wadah baru, lingkaran baru untuk kita saling menopang. Saya juga yakin tidak semua dari kita akan turut berpartisipasi, karena setiap orang saya yakini mampu dan punya arah tersendiri. Namun bagi kalian yang merasa punya sentuhan rasa akan sesuatu yang besar pada masa depan kita, masa depan “Diskusi Pelataran”. Maka saya dan tim yang lain tak hentinya menyuarakan ajakan untuk berpartisipasi. Kita akan bertemu kembali membahas semua, Rabu 25 Nov 2015 di pelataran BM kampus jam selesai kuliah.  









Senin, 16 November 2015

HARMONIS TUJUH BELAS Nov


Adakah saya berani mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu? Atau rangkaian kata semoga? Atau memberi mu sesuatu dalam keterbatasanku? Lebih jauh dari makna semua, jika kuberi kau hal yang biasa itu menjelaskan kau tidak berarti spesial bagiku.

Lihatlah lampu di kamarmu, matahari di siang, dan bulan pada malam. Saya tidak harus mengucapkan apa-apa selain diam dan melupakannya. Bahwa sesuatu yang sangat bermakna dan bermanfaat itu terlalu sederhana dibalas dengan kata dan tindakan yang terbatas. Terlalu lama jika kutunggu satu hari dalam tiap tahun untuk mengingat apa yang telah tertanam, Kau, Aku.

Namun dalam diam, ternyata ada terselip dosa kecil yang mengganggu. Komunikasi-komunikasi sederhana mungkin lebih mampu membuat kita selangkah lebih dekat pada hal yang entah. Kebencian jarak selalu membuat rindu jadi makin harmonis, rindu jadi makin bijak, rindu jadi makin melekatkan.


Lalu apa yang pantas? Maha Terima Kasih berhasil kau rebut




TETAPLAH


Selalu saja saya, atau mungkin sebagian besar dari kita terjebak dalam penilaian-penilaian tumpul. Bagaimana mungkin kita menilai suatu hal dalam amatan sepintas, apalagi menilai manusia. Manusia adalah makhluk terumit yang terlanjur diciptakan. Gagasan dan teori apapun bisa ditempelkan padanya. Dan uniknya dari kacamata manapun kita melihat, manusia mampu memenuhi semuanya, dan mampu untuk tidak memenuhi semuanya. Atau manusia pada dasarnya kerumitan itu sendiri? Lantas kita selalu memberikan kesimpulan kepada manusia lain pada setitik waktu dalam hidupnya. Ayolah.... 24 jam sehari, 365 hari setahun, berapa banyak orang yang dia temui, berapa banyak inspirasi yang didapat, bagaimana gesekan lingkungan yang dihadapi? Dan setelah bercengkrama pada sebuah titik kecil di waktu umurnya kau mengatakan baik, buruk, pintar, bodoh, hebat, biasa. kasian

Siapa manusia paling sunyi di dunia ini? Merekalah orang-orang yang memutuskan dirinya untuk menjadi manusia yang sebenarnya. Manusia yang memutuskan untuk berfikir. Namun sayangnya, kedalaman dalam berfikir selalu ditumpulkan oleh lingkungan. Manusia yang berfikir dalam berarti sudah siap atau mau tak mau siap untuk mengalami banyak kekecewaan, karena menjadi minor. Lihat saja puisi-puisi mengalir dari pesajak seperti Rendra, Saut, Gusmus, Chairil Anwar, lihat saja pemikir-pemikir besar menyatakan diri seperti Galileo, Descartes, Marx, Nietzche, lihat saja penemu-penemu besar merasakan seperti Einstein, Edison dan masih banyak manusia lain, yang menganggap dunia ini penuh dengan kesepian. Kalian yang merasakan sepi akan kesendirian? Kalian tidak sendiri
Namun tetaplah bermanusia, tetaplah gunakan topeng-topeng itu. Diluar sana terlalu kejam, terlalu sadis. Tetaplah melakukan, tetaplah memberi. Diluar sana membutuhkan. Apa sebenarnya yang dicari dalam hidup ini? Itu tidak sesimpel makan, minum, beranak, senyum, dan mati. Semua saling membutuhkan. Namun seringkali tanggung jawab hanya muncul diwilayah kesadaran. Namun sejauh mana kesadaran mampu dibatasi?


Tetaplah sepi, tetaplah sadar, tetaplah hidup


 
biz.