Minggu, 15 Januari 2017

TARIAN KOSMIK

Sangat mencerahkan untuk bisa menyaksikan ibu baik yang cerdas ini menyampaikan hasil tampungan dan olahan di kepalanya dalam perjalanannya berusaha meruntutkan pencapaian-pencapaian manusia sampai tiba saatnya dia harus mandiri memposisikan diri terhadap seluruh perjuangannya yang sama seperti perjuangan banyak manusia, untuk mengisi hasrat yang sudah dititipkan dengan jawaban-jawaban penjelasan mengenai kehidupan. Ialah Karlina Supelli dengan jalan pencarian panjangnya melalui jalur sains.  Seorang kosmolog yang juga ahli dalam bidang filsafat serta turut andil dalam gerakan aktivis kemanusiaan yang terlibat perlawanan terhadap rezim militer Orde Baru.

Dalam ceramahnya yang disampaikan pada 18 Juni 2016 yang diselenggarakan oleh Teater Salihara (mohon menyingkirkan sejenak label tentang salihara dan terik manfaat apa yang mereka lakukan) dengan tema “Kosmos dan Masalah Kebebasan Tuhan” (nonton: youtube) , ia mengahiri kebingungannya yang sangat manusiawi dengan argumen bahwa ia cemburu dengan para seniman seperti sastrawan yang lebih bebas dalam melihat dan melaksanakan dunia, sementara sains begitu ketatnya mendasari diri yang akhirnya dikatakan bahwa sebenarnya sains sendiri memberi pesona keindahan yang berbeda dan itu membuat banyak ilmuwan menjadi nyaman untuk tetap melanjutkan perjuangannya melakoni hidup di jalan itu. Karena kosmologi pun menurutnya, mungkin bungkam pada suatu titik dimana ada fakta yang tidak dapat diabaikan yang membawa kerinduan naluriah. Karena sama dengan yang dijelaskan Hawking dalam The Grand Design bahwa seluruh gambaran teori pada akhirnya hanyalah spekulasi yang luarbiasa rentannya menjabarkan realitas asli (baca: realitas).

Karlina Supelli mengakhirinya dengan sedikit puitis, untuk setidaknya menyampaikan pengetahuannya yang secara implisit mengajak serta kehidupannya yang dia sadari tak akan terlepas dengan seluruh berkah berupa perasaan sebagai seorang manusia bahwa “antara Kosmos dan Tuhan barangkali ada jeda yang tiada habis senyapnya. Dan yang paling melegakan, setidaknya bagi saya yang telah habis terbentur-bentur, jatuh berkali-kali, paling tidak berhadapan dengan bahasa sabda yang pasti dan hukum-hukum sains yang nampak pasti seperti itu, berandai-andai menolong saya menemukan ruang umpama. Maka kita mengembangkan imajinasi, dan imajinasi itu bebas”. 

Memang rumit berhadapan dengan dualisme. Barat dan timur, sains dan agama, makan ini atau itu, mencintai kamu atau dia. Maka dengan mengandaikan Tuhannya berada di pojok tak tersentuh bersembunyi membuat Karlina Supelli justru mampu membebaskan dunia yang akhirnya membebaskan Tuhan.

Fritjof Capra, juga telah mengambil sikap yang hampir sama. Setelah pergolakannya yang menghasilkan karya tulisan berupa “The Tao Of Physics” upaya menyingkap kesejajaran antara fisika modern dan mistisme timur. Dengan 6 gagasan akhir Paradigma baru yang sangat mencerahkan lewat sistem swa-organisasi. Yaitu

1. Menghubungkan bagian menjadi keseluruhan dan berakhir lebih simetris. Artinya semua bidang dpahami melalui dinamika dari keseluruhan. Seperti tidak menganggap ilmu yang satu berbeda dari yang lain.
2. Pergesaran berpikir dalam konteks struktur menuju berfikir dalam konteks proses. Artinya bahwa setiap struktur yang kita amati adalah suatu manifestasi dari proses yang mendasarinya.
3. Pergeseran dari sains objektif ke sains epistemic. Bahwa epistemology-pemahaman akan proses berpengetahuan harus disertakan secara eksplisit tentang fenomena alam.
4.  Mengganti fondasi pengetahuan yang dianggap kukuh dimasa depan menjadi perumpamaan jaringan. Maka dengan begitu deskripsi kita baik itu konsep, model, dan teori akan menyusun suatu jaringan yang saling terhubung yang merepresentasikan fenomena yang teramati. karena konsep kita hanya sekedar konsep yang coba dilekatkan pada realitas sebenarnya.
5. Pergeseran dari kebenaran menuju deskripsi-deskripsi aproksimasi (kira-kira). Karena semua terhubung, kita harus memahami semua, tapi bagaimana bisa? Kita sangat terbatas, mustahil. hanya mengira-ngira realitas
6. Pergeseran metode dan nilai dari sikap mendominasi dan kendali atas alam termasuk umat manusia dalam ilmiah menjadi sikap kerjasama dan antikekerasan terhadap manusia, alam, dan cara kita berpengetahuan. Dalam hal ini sejarah mempersonifikasikan pada Francis Bacon yang dengan kelewat bersemangat dan seringkali bernuansa kejam untuk menundukkan alam yang sifatnya liar untuk bisa melayani dan memperbudak. Dengan menyiksa alam untuk maksa memberikan rahasia-rahasianya.

Akhirnya pun fisika, sebagai imam bagi bentuk sains yang lainnya, kehilangan peran dan berdampak pada sains lain semisal psikologi yang  memakan waktu cukup panjang mencari jati dirinya bahkan sampai saat ini. Desakan umat manusia hari ini untuk menyadari bahwa kita sudah melewati batas akan alam. Dan kita sudah terlalu jauh memanipulasi kesadaran murni dengan perkembangan materialistic.

Capra sudah menyampaikan pentingnya berposisi dalam menjalankan peran masing-masing. Di karya selanjutnya ia kemudian ia menemukan pertentangan kapitalisme global dam perencanaan eco-design yang berwawasan ekologis. Perjalanan keduanya menjadi tabrakan. Ia merasa harus mengubah sistem nilai yang mendasari ekonomi global sebelum terlambat. Dan dengan jelas, jernih  dan  praktis bukunya The Hidden Connections memperlihatkan pada kita bagaimana caranya.

Sama halnya pentingnya kita menemukan diri. Mencari gambaran ritme tarian diri masing-masing untuk sesegera mungkin mampu menghayati dan bergerak dalam proses hidup masing-masing. Dengan begitu, saya pikir setiap saat dalam langkah berkehidupan akan menjadi sebuah doa, harapan, dan perjuangan dengan garis finish yang sama kita rasakan, dimana ujung dari semua ini menjadi hal misterius terbesar yang mendorong kita untuk tetap memperjuangkan hal itu. lagi pula hal apalagi yang menarik bagi manusia jika pencariannya telah usai? Jika segala sesuatu telah menjadi kepastian? Dimana lagi letak estetika hidup? Ketegangan, jatuh cinta, cemburu, gusar, bahagia? padahal dengan instrumen manusia yang ada, membuat hal yang baik  mengalir disetiap partikel kehidupan, pun yang tidak baik untuk dirasakan yang semua akan saling hadir dalam panggung eksistensi bermanusia di proses pencariannya. Maka menemukan diri adalah langkah yang sangat bijak untuk memposisikan diri dalam perannya di dunia.

Apakah kita harus semuanya menjadi ilmuwan dan melakoni setiap detail-detail di laboratorium? Kita saling bahu membahu. Menyampaikan temuan masing-masing. Karena segalanya begitu besar, bisa saja di zaman itu Aristoteles, Plato, atau Galileo mampu mengetahui banyak apa yang terjadi dengan kemajuan pengetahuan saat itu, namun sekarang semua sudut bergerak sangat cepat, sangat luas, sangat dalam, dan hampir dipastikan siapapun dia, bagaimanapun kesungguhannya untuk belajar, selalu saja ada yang luput dan tidak ia ketahui.

Misalkan saja Erie Setiawan sebagai pakar musikologi juga telah memposisikan dirinya. Menemukan dirinya untuk melakoni hidup pada jalur musik. Perbedaan epistemology dan keabstrakan musik malah menjadi salah satu jalur terselubung yang membuahkan arah yang sejalan dalam pencerahan kesadaran bermanusia seutuhnya. Dengan pilihannya memasuki alam musik, ia kemudian banyak memberitakan hasil temuan-temuannya yang sangat indah dan mendidik yang selalu di kabarkan beliau lewat ceramah formal, diskusi, dan dalam tulisan-tulisannya.

Tapi sebentar lagi saya harus melakukan banyak keharusan yang tidak sesuai ritme diriku. Kadang-kadang aku keras terhadap apa yang kuanggap penting untuk kulakukan. Karena mudah saja bagiku untuk membentuk alasan agar tidak mengikuti tarian. Tetapi saya menyadari banyak selimut kemalasan disana. Nietzsche membuktikan keteguhannya dan sangat keras untuk hal itu. Lagian itu semua menjadi Swa-organisasi kehidupan kata Capra. Jadi hadapi saja, tidak dihadapi pun toh tetap penjadi penghadapan dengan cara yang berbeda.



Melelahkan memang berjalan sendiri.Setelah ini, Tidak perlu lagi apa isinya, saya butuh berbicara dengan seseorang sekarang.  Aku sudah mempelajari bagaimana bisa menjinakkan serigala dari setiap cambukan bunyi kata-kata angin, busuk, basi. Namun tak terduga, ada saja makna tersembunyi yang bisa kupetik dari perjumpaan. Dan ini yang membuatku sedikit tenang. Tabrakan dalam dansa menjadi hal yang lucu dan sangat wajar. Karena kita sesungguhnya tidak sedang berkompetisi.

Rabu, 11 Januari 2017

TEMUI AKU BESOK JAM DUA BELAS SIANG



Esok hari, setelah kamis ini, Aku ingin menemui mu seperti seseorang muslim mendatangi pertemuan jumatan. Kau hanya boleh mendengarku dengan bayangan dosa yang dibebankan di setiap kata yang sengaja kau suarakan di ruangan itu. Kau boleh saja mengatakan hal ini sebuah egosentris, karena memang setiap orang sepertinya punya hak memposisikan dirinya untuk berpendapat sesuai pengetahuan dan olahan pikirannya terhadap apa yang dia alami. Walaupun hak seperti itu sebenarnya hanyalah buatan kesepakatan kita tentang bagaimana seharusnya sebagian naluri kita tersalur dalam hal bersikap jika kita mau jujur dalam merenungi. Tapi kalau begitu, akupun berhak mengatakan bahwa selama ini telah ku posisikan diriku sebagai seorang musafir yang menghampiri sebuah masjid di sebuah desa kecil tempat warga sekitar menerima ketenangan akan hari-hari yang sulit dijelaskan, walaupun kita kembali merasa bahwa tidak semua harus dijelaskan, karena tidak semua menerima berarti kekalahan oleh ketidakmampuan dimana banyak gairah diselimuti kemalasan. Aku disini, sampai hari ini, mendengarkan mu. Lebih dari kata mendengar.

Tenang saja, omongan kita nanti tidak akan seperti pengkhotbah yang berkepentingan secara sengaja membicarakan segala hal atas kepentingan akhlak mulia bagi ummat beragama. Tapi Itu tidak berarti tidak penting, hanya saja sepertinya terasa lebih sulit. Aku hanya ingin berbicara besok denganmu.

Baiklah, jadi begini, yang akan kuungkapkan besok, secara garis besar kemungkinan seperti ini, bahwa setiap orang bisa saja berubah dalam sekejap pada suatu saat karena sebuah insight yang bisa menyambar dalam hal-hal sederhana ataupun proses yang panjang. Dan perubahan itu, sesuatu yang sulit digambarkan oleh setiap orang karena kompleksitas dunia yang telah di ramu sedemikian rupa oleh Yang Maha Seni. Aku bisa saja tidak bisa menemuimu dengan orang yang sama jika, bahkan hanya beberapa saat tidak mengikuti hidupmu, apalagi terpisahkan dengan ruang yang jauh.

Tapi itu sepertinya kesimpulan keremajaan ku yang terlalu kekanak-kanakan, karena bentukan hal seperti itu tak terelakkan dalam hidup yang aku pilih. Tetapi seperti banyak bentukan lain, memang otak kita sering bekerja untuk mengkotak-kotakkan realitas. Bentukanku ini pun harus tetap dijadikan sebuah sudut memandang. Aku, sepertinya hari ini, dengan jujur, hanya meyakini untuk membuat banyak ruang berdiri di berbagai sudut tetapi tidak melupakan membuat pula jalur untuk bisa melihat lebih dekat atau menjauh serta lebih tinggi dan rendah untuk bisa melihat kedalaman, keterkaitan, dan hubunganku dengannya.

Namun tenang saja, alismu jangan terlalu cepat kau kerutkan (aku berharap besok tidak seperti itu). Karena hal seperti itu terlalu banyak bermain dengan akal. Sementara kita ras manusia memiliki hal hal sederhana yang selalu tidak mampu dirasionalisasikan. Yang banyak mengikat hubungan manusia dengan kebeningan. Cinta yang baik hati itu dengan mudah terikat kebanyak hal seperti teman, keluarga, benda, kita, dan segalanya yang bisa dirasakan. Kita pun akhirnya bisa bertemu besok dengan diri yang telanjang akan kemurnian masing masing.

Jadi yang perlu kita temukan hanyalah, apakah memang kau dan aku tidak saling menjadi halangan atas kehidupan yang tetap harus dijalani di realitas hari ?. Dan karena hambatan pun tidak selamanya buruk. Maka temui aku besok jam 12 siang, saat matahari terik di atas kepala, dan aku akan melihat matamu. Karena sering kali jawaban disana lebih banyak dari ucapanmu bahkan saat ia menutup.




Kamis, 11 Februari 2016

Belajar untuk biasa saja terhadap cinta

Aku mulai memasuki dimensi rasamu, semua aneh tapi terlihat tulus. Namun sejujurnya aku mampu mengungkapkan bahwa kamu tak akan bisa menggambarkan kedalaman, keluasan, dan kebingunggan cintaku yang absurd.

Pikiranku seperti ditutupi kabut yang dipaksa berjalan jongkok di riuh kerumunan orang yang tidak pernah mau perduli. Aku banyak menemukan kata cinta dangkal ketika kupaksa membisikkan di samping telingamu bahwa yang kubawa saat ini bukan hanya sekedar kebingungan akan rasaku. Padahal pintu-pintu itu banyak terbuka sendiri namun begitu enggan rasanya menyapa jauh bahkan sekedar mengintip.

Seketika nyawaku seperti berada di dalam robot besar sebagai pengendali. Namun cintaku berjalan otomatis, ia tidak dikendalikan. Sepertinya ada  sistem refleks yang terjadi jika si robot mengalami kerusakan fisik ataukah pengendali yang mulai lemah untuk mencinta.

Bahasaku kepada mu sepertinya memakai jubah hitam yang malu dan takut memperlihatkan dirinya. Keterbatasan itu menguakkan sebuah jawaban, bahwa hal dibalik itu mengandung sebuah makna misterius. Semuanya menjadi kaku dan bimbang dalam pertemuan bayang. Setelah menyelami mu, aku banyak paham tentang banyak hal yang melekat disetiap dirimu yang menghidup.

Jangan sangka aku berdiam tolol di kursi tempat banyak orang bunuh diri. Causal-causal kompleks lah yang menghantarkan segala yang kuharapkan tidak ber-ada disini. Jika aku lari dari pertempuran konyol ini,  sama saja membunuh diri dari ketiadaan.

Paham ku benar benar tunduk atas tahta kemanusiaan. Pijar-pijar tawaran akan waktu banyak diredupkan oleh hujan yang menangis di gedung tua kota mati. Ia benar benar rapuh dalam serpihan cermin gelap yang tidak mau perduli susahnya ia menjalani perannya.

Terus setelah ku pause waktu sejenak, aku menoleh kebelakang, menggandeng diriku sendiri yang tak berdaya yang melihat seksama ternyata aku hanya mengupas satu buah buku di perpustakaan dunia tempat manusia bermanusia.

Baiklah, setelah semua kupahami dan kulampiaskan, Pada akhirnya dan selalu, aku akan mengalah pada arus samudera di dunia kerinduan hampa.
Belajar untuk biasa saja terhadap cinta


Sabtu, 02 Januari 2016

Masihkan?






Sudah selayaknyalah manusia-manusia memasuki sebuah zeitgeist yang rumit dalam jalur panjang peradaban. Manusia harus dituntun menuju kesadaran bahwa kita telah hampi berada di ujung perjalanan panjang umur bumi. Sudah sepantasnya Psikologi dan ilmu sosial lainnya mampu menjembatani bidang keilmuan dan masyarakat melahirkan pandangan baru, kesadaran baru bahwa kita tidak boleh terjebak kepada hal-hal kedengkian, kerakusan, kemunafikan. Anak-anak generasi baru harus  penuh dengan imajinasi perdamaian dan pembangunan kembali konsep realitas baru. Mereka harus diminimalisirkan oleh pandangan mengecewakan yang sudah mulai menjauh dari jalur kebajikan yang hakiki.

Mayoritas manusia dan sistemnya semakin dan rasanya tetap tidak masuk akal.  Lalu tugas kita adalah memperkuat diri, lalu merancang strategi menuju pertempuran. Pertempuran yang absurd dan ambigu, pertempuran melawan diri sendiri dari kemalasan, kebodohan, keterpenjaraan, kesenangan semu, menuju kesadaran penuh atas seluruhnya. Kemudian memperkuat komunikasi dan ikatan batin yang sebenarnya, membuat kelompok kecil yang memikirkan kedepannya, terlepas dari semua perbedaan. Perjuangan akan ras manusia yang sudah terlalu jauh dalam kebebasannya hidup di bola kecil diantara milliaran benda angkasa yang tak terhitung.

Apa yang patut di banggakan? Pada titik itu, kesadaran kemanusiaan terdalam akan menuntun penuh dalam pemilahan kehidupan, pandangan, dan sikap dalam berkehidupan. Berhentilah hidup di arena penuh spekulasi memuakkan.

Lalu jalin komunikasi yang baik....
Tidak.... maksudnya komunikasi yang sebenarnya, komunikasi yang melibatkan sisi sisi kemanusiaan terdalam.


Minggu, 20 Desember 2015

Apakah realitas itu? Part 1




Pertama-tama, kita harus benar-benar membedakan diri kita sebagai manusia, sebagai individu yang berdiri sendiri dengan eksternal diri. Anggaplah kita semua belum tercipta sebelumnya, dan mari kita melihat dari pandangan objektif revolusi yang terjadi.

Alam atau bumi kita atau eksternal manusia adalah bentukan murni seratus persen. Tuhan menciptakan alam dengan hukum-hukum dan cara kerjanya yang kita anggap sebagai bentuk kesempurnaan. Berbagai siklus, simbiosis mutualisme, dan proses-proses alam terjadi.

Dilain sisi Tuhan kita anggap melelang ‘Nafsu’ kepada makhluknya. Dan saat itu terjadi, hanya manusia yang menyanggupi menerimanya. Mengapa manusia disebut sebagai makhluk paling sempurna? Karena pemberian nafsu dan akal/nalar yang sangat luarbiasa dan memungkinkan kita mempertanyakan pencipta kita, meragukan apa saja, mengimajinasikan apa saja. Nafsu dan akal bisa menjadi transportasi manusia untuk menuju tingkatan lebih beriman dari Malaikat atau lebih berdosa dari setan.

Setelah kita paham akan kemurnian alam dan kebebasan yang mendekati kesempurnaan dari manusia, keduanya lalu digabungkan, ditempatkan bersamaan dalam suatu ruang dan saling berproses didalamnya. Kita kemudian diberikan senjata berupa indra/sensori, dan perasaan sebagai pengelolanya, dan akhirnya nalar serta akal yang memutuskan. Kita melihat sebuah lembah bunga mawar, kemudian merasakan sebuah keindahan dan kesejukan, dan memutuskan untuk duduk melihatnya serta tidak merusak mereka. Dilain kasus kita mungkin melihat singa yang memburu kijang dan memangsanya, kemudian merasakan sebuah ketegangan, kecemasan, ketakutan, lalu lari bersembunyi.

Jadi Perasaan adalah sebuang ruang yang menjadi olahan apa yang indra rasakan. Perasaan mampu mengubah suasana pribadi manusia menjadi apa yang dinginkan, baik sadar ataupun tidak.  Ketika kita mengolah perasaan dalam sebuah kesenangan, akan tercitra dunia yang murni menjadi sebuah keindahan, perilaku yang didasarkan nalar dan nafsu menjadi ikut bahagia. Namun perasaan yang mengelola perasaan kecewa, sedih atau menderita akan menarik citra alam atau kondisi eksternal manusia menjadi bentukan yang suram, penuh ketidakbahagiaan. Nafsu dan nalar juga ikut-ikutan memutuskan apa yang perasaan gambarkan.

Perasaan mampu menggambarkan citra eksternal dan memandang dunia dalam bentuk apa saja. Jika kita sedih, mungkin kita akan menganggap dunia yang tidak adil terhadap kita, semuanya menjengkelkan, malas untuk melakukan hal yang baik-baik, rapuh untuk tetap berjuang, merasa tidak berharga, melihat sesuatu menjadi tak bermakna.

Maka mari kita sadari betul apa yang perasaan rasakan, karena eksternal tetap akan pada realitasnya yang murni dan tak pernah ada rasa apapun didalamnya. Ia akan tetap demikian sampai sebuah tindakan dilakukan secara fisik. Tetaplah berproses dengan perasaan apapun. Karena perasaan juga merupakan sebuah mahakarya, ia memainkan peran penting, sebagai insting yang sangat kuat sebagai makhluk. Perasaan adalah pewarna dalam gambaran memahami semua.

Sedihmu tidak akan 100% menjelaskan kesedihan sebenarnya, maka kebahagiaan tidak pula.
Sadari, dan tetap berproses





Jumat, 18 Desember 2015

BAYI


Tiba-tiba dan selalu, jantungku mulai bergerak lebih dan berkata aneh. Membaca sejarah selalu berhasil membawaku pada waktu yang berbeda. Begitu nyata. Hasrat, suasana, ketegangan, kesenangan, kesedihan kadang-kadang menjadikan dirinya jembatan untuk menyentuh apa saja yang kau ingin sentuh.

Gagasan tidak hanya menjadi suatu deskriptif indah. Namun menarik sebuah pemicu emosional dalam bungkusan sejarahnya melalui realitas waktu. Begitu banyak manusia melangkahi tempat yang di injak saat ini, kemudian membagi kisahnya serta konflik yang membawa peradaban dan pemahaman sampai ketitik sekarang.


Persetan dengan sains yang selalu sombong dengan realita, namun begitu menjengkelkan karena berhasil membawa anak tangga menuju kemanusiaan. Sepertinya saya mulai gamblang merasakan semuanya. Terlalu kompleks perjalanan sebuah mahakarya fikiran Tuhan. Sepertinya kebebasan yang sebenarnya ialah fikiran, lalu di penjarakan oleh material yang kemudian kita agungkan sebagai realitas. Sementara perjuangan adalah perwujudan kesadaran. lalu apa? terbaglah kemana mana, kemudian sadari.








Jumat, 11 Desember 2015

ASAP


Saya tidak akan mempertanyakan dengan berlebihan tentang inikah yang disebut jatuh cinta? Karena kebenaran rasa ku begitu menguak, bahwa sepertinya ia telah merasuk ke bagian kecil dari sudut hatiku. Saya tak menyangka akan seintim ini kepadanya. Ia mampu memikat ku dan menenangkan ku dengan janji janji pelukan mesra. Jangan katakan lagi bahwa dia abstrak. Dia adalah Ilmu Psikologi.

Sosok mahakarya dalam sebuah perjalanan sejarah pelik. Dengan panji-panjinya yang selalu membingungkan, membisikkan sebuah aura kebijaksanaan. Memperkenalkanku pada kehidupan sebenarnya, memperlihatkan sisi-sisi kabur dalam perjalanan. Kalau kita sepakat untuk berjalan dengan tongkat-tongkat arah pada kesesuaian, psikologi telah menjadi bagian dariku.

Lalu semunafik apa realitas aturan berjalan? Goblok. Tidak akan bisa menang. Ia hanya mampu bersembunyi pada alasan generalisasi. Sementara memutuskan untuk berfikir membuat yang lainnya sengsara setengah mati. Dunia ini memang sepertinya berjalan dengan sangat kompleks dan membingungkan. Terlalu banyak manusia bisa selalu kujadikan alasan manjur dalam ketenangan meta. Sambil liar mengkonstruksi apa saja yang terasa.

Pada akhirnya saya tidak akan punya pilihan lain selain berjalan pada garis-garis jurang yang telah tersedia. Bahwa bumiku begitu luas, manusia siapa saja mampu melangkah ke arah mana saja, selama Tuhan tetap masih bisa dijadikan sandaran kuat bagi pribadi yang penuh kesepian. Selama itu akan kuteriakkan bahwa penjara-penjara kecil telah kokoh, sambil perlahan diam menjadi asap.




Sabtu, 05 Desember 2015

DIAM


Saya bingung harus membahasakannya seperti apa? saya begitu tertekan pada mereka yang ramai berkumpul, saya begitu tertekan pada mereka yang nyaman bersantai di tempat tidur, saya begitu tertekan dengan tawa mereka, saya begitu tertekan dengan kebahagiaan mereka. Saya begitu tertekan dengan pembunuhan waktu lewat kebiasaan menjemukan.

Ok baiklah, aya sadar. Rasa itu ternyata hanya ketika setelah saya di bombardir fenomena yang kadang berhasil kutangkap maknanya hingga terkesan begitu lebay. Tidak cukupkah masa di belakang banyak dihabiskan dengan perilaku yang sama? Tidakkah kalian mampu merasakan sebuah tanggung jawab besar perlahan mendekat? Tidakkah kalian cemas? Mungkin saja benar kata orang, muka sudah terlihat kusam dan tua.

Satu sisi jawaban langkah itu jelas adanya, namun sisi lain, fisik dan kepribadianku tidak mampu mewujudkan semua. Rambut dan kacamataku sudah terasa semakin berat. Topeng di wajahku mengamuk sedikit meleleh. Tapi diriku tak berdaya.


Oh iya, saya baru saja kedatangan tamu spesial. Semoga adek hebat yang baru tiba disini cepat mempersiapkan diri. Lihatlah semua, dengar semua, rasakan semua. Semua pelajaran berharga



Rabu, 02 Desember 2015

OM SASTRA


Ketika merenung, sepertinya seluruh bacaan berubah menjadi simbol-simbol penuntun ke sebuah muara yang begitu besar. Selalu tersedia petunjuk arah ketika berada di persimpangan. Pertemuan dengan orang, huruf-huruf dalam kertas, atau minimal sayup-sayup mata dan hembusan udara begitu tegas.

Aku benar-benar bingung bagaimana menyampaikan semua ini kepada bapak. Dan ketika terbersit, orang-orang akan menganggap aneh, minimal sombong atau sok.


Lalu dimana aku mampu bersandar? Sementara Aku tetaplah bagian terkecil dari zarah-zarah ciptaan. Siapa yang mampu menyalahkan Pramoedya ananta toer yang kembali dalam rangkaian kata. Toh kertas lebih mampu merasakan tekanan penanya dibanding orang sekitarnya.



Selasa, 01 Desember 2015

SELIMUT HANGAT


Aku merasakan sebuah hubungan intim dengan ilmu pengetahuan. Aku bisa diajak bermain di sebuah air terjun sejuk dengan penuh kebahagiaan ketika bersama buku. Ia mampu hadir menjadi sosok yang melebihi orang-orang disekitarku. Melebihi perempuan yang kucintai. Dia begitu dekat, seperti keakraban terindah bersama keluarga kecil ku. Bapak, ibu, saudara, dan dia.

Ada apa aku ini? Mengapa perabaanku dalam seretan langkah tidak menunjukkan omayoritas orang disekitarku merasakan hal yang sama. Ketika kubaca sejarah, kelahiran teori, perjalanan ilmu, atau kisah perjuangan pelakunya, seperti ada yang memelukku begitu hangat dalam kehidupan. Aku merasa penuh gairah eksistensi hidup dibumi.

Pada titik-titik tertentu, ketika terjebak pada jalanan ini, akan kurebahkan diriku dibawah pohon rindang besar, lalu kubentangkan selimut terhangatku berupa goresan pikiran, mahakarya sejarah kemanusiaan. Aku tidak sesepi itu

Setelah yakin, Aku gemetar.
Pak saya sangat takut
Bahkan hanya untuk sekedar mengetuk pintu sains
Ilmu pengetahuan seperti anak Tuhan


Minggu, 29 November 2015

SEMENTARA


Ternyata Aku harus lebih dewasa menafsirkan lingkungan. Semua mampu berpendapat apa saja, dan merasuki gerbang keputusan. Apa yang mampu kuandalkan selain diajak angin lalu memotret jejak di lumpur penghisap? Kadang-kadang ku asingkan diri walaupun sebatas perasaan di jembatan gantung tempat orang-orang putus asa dan bunuh diri.

Kemudian tawa kecil datang, menarik kumpulan cahaya, lalu melukis wajah dan tubuhku dengan semaunya. Sementara kepalaku di borgol dan dadaku di ikat kencang. Mereka berbicara, sampai kepalaku mengangguk, dan melepaskan perlahan. Membiarkan saya terbang kesana kemari tak berarah.

Aku tersesat....

Setelah kucurahkan semua, Apa yang kudapat? Hanyalah pernak-pernik dan runtuhan bekas bangunan bersejarah. Kukumpulkan semua dan berharap, setidaknya pondasi-pondasi harapan bisa kubangun sendiri.

Dengan teropong, banyak kulihat dari kejauhan rintihan kecil. Mereka memaksa mengirimkan desain bangunan harapan. Padahal diri sendiri masih mengais sisa sisa semangat dalam imajinasi. Terlambat !!! Badai dan angin topan dari belakangku sudah mendekat. Tidak ada kesempatan. Dengan tangan penuh darah, kususun semuanya.


Semoga apa saja keabstrakan di saat nanti, kuharap bangunanku bisa menahan angin kencang itu dari mereka. Aku sedang... sementara....

Anwar – RASA


Tak di sengaja diri ini kembali dipertemukan pada gesekan dalam perjalanan. Rasa benar-benar dipermainkan malam ini. Saya mampu jatuh cinta, mampu benci, mampu resah, mampu jengkel, mampu sedih, mampu ceria dalam sekejap pada gerakan sekitar. “Omah Komunitas – Inspirasi” mengadakan apa yang mereka sebut ‘Soft-Launching’ cafe ataupun wadah sebagai ruang baru mendeklarasikan rasa. Sepertinya

Adalah prosa, teater, monolog, puisi, musik, dan tarikan nafas dari raut wajah yang tercipta pada setiap sosok yang hadir mampu menjatuhkan ku dalam permainan seni. Sementara setiap beban ini masih terus saja membusuk didalam, biarkan hidup tetap hidup.

Pertemuanku kali ini menjadi hal baru dengan Mas Anwar. Ia sosok pelaku seni hidup. Aku tidak paham bagaimana semua berjalan. Manusia benar-benar diambang kesempurnaan makhluk. “Memang benar adanya manusia dengan Kecerdasan Rasa” katanya. Pelaku seni akan terus berjumpa pada asah kepekaan rasa setiap saat. Mereka akan cenderung menjadi perasa yang baik dan cepat. Secepat apapun dalam rasa.

Walaupun rasa itu akan menjadi konsepsi manusia keseluruhan. Namun, melihat hal-hal menjadi begitu dalam dan mempengaruhi diri akan menjadi kunci dalam gerbang sempit. Keos yang bertabrakan pada apapun atau hanya sekedar bergesekan tetap akan menimbulkan bekas lalu berubah menjadi hubungan dan komunikasi intra diri. Imaji apapun yang kita susun, tak akan pernah mampu lepas dari dirinya dalam membaca seluruhnya. Tidak akan ada pengadilan rasa pada titik ini, namun hanya ada pilihan tetap hidup atau mati.  


Sampai berjumpa lagi, Makasih

Selasa, 24 November 2015

Maaf


Teman-teman,  saya sangat minta maaf akan perubahan drastis yang terjadi pada saya belakangan ini. Sangat benar bahwa ini bukanlah hal yang saya sengaja ataupun rencanakan, namun arah langkahku begitu jelas mengarahkan diriku pada abstrak kehidupan. Saya sangat mengamini gagasan mengenai pencarian jati diri, identitas diri yang sebenarnya. Dan ketika pencarianku mendapat titik terang, dunia seolah menolakku. Namun kehangatan akan ketentraman jiwa begitu deras menyelimuti ragaku. Seolah ada tameng besar dengan pengawal raksasa berada di dalam diriku, ketika perlahan kurangkul diriku yang sbenarnya.

Sudah kutegaskan pada tulisanku sebelumnya, bahwa saya akan sangat berhati-hati dalam menilai manusia, memberi kesimpulan pada manusia. Bahwa kita semua tidak akan mampu membayar seluruh pengalaman orang lain dan jalan pemikirannya pada jalan panjang umurnya untuk menyimpulkan mereka pada sisi luar empiris di titik waktu singkat dalam hidupnya. Dan semoga teman-teman tidak melihat saya pula dalam pandangan itu. Sebaliknya kita dituntun pada hal baik yang begitu jelas, pemahaman akan keterbatasan fisik pula harus menjadi pertimbangan nyata.

Saya pertaruhkan diri untuk membayar hasil pergolakan fikiran, berupa tindakan nyata. Hal-hal ini menurut saya besar, makanya waktu begitu sempit untuk mempersiapkan bekal diri menghadapinya. Apa susahnya saling memahami? Namun hukum-hukum itu mulai saya pahami, bahwa hal-hal baik tidak selamanya dipantulkan pada rasa yang sama.


Perjalanan ini perjalanan baik. Dan saya ingin membaginya pada kalian. Semoga kalian juga mampu membagi rasa dari perjalanan kalian kepada saya. Dan hal itu cukup rumit untuk kita jalankan pada sistem kuat di lingkaran kita. Makanya hadirnya “Diskusi Pelataran” menjadi wadah baru, lingkaran baru untuk kita saling menopang. Saya juga yakin tidak semua dari kita akan turut berpartisipasi, karena setiap orang saya yakini mampu dan punya arah tersendiri. Namun bagi kalian yang merasa punya sentuhan rasa akan sesuatu yang besar pada masa depan kita, masa depan “Diskusi Pelataran”. Maka saya dan tim yang lain tak hentinya menyuarakan ajakan untuk berpartisipasi. Kita akan bertemu kembali membahas semua, Rabu 25 Nov 2015 di pelataran BM kampus jam selesai kuliah.  









Senin, 16 November 2015

HARMONIS TUJUH BELAS Nov


Adakah saya berani mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu? Atau rangkaian kata semoga? Atau memberi mu sesuatu dalam keterbatasanku? Lebih jauh dari makna semua, jika kuberi kau hal yang biasa itu menjelaskan kau tidak berarti spesial bagiku.

Lihatlah lampu di kamarmu, matahari di siang, dan bulan pada malam. Saya tidak harus mengucapkan apa-apa selain diam dan melupakannya. Bahwa sesuatu yang sangat bermakna dan bermanfaat itu terlalu sederhana dibalas dengan kata dan tindakan yang terbatas. Terlalu lama jika kutunggu satu hari dalam tiap tahun untuk mengingat apa yang telah tertanam, Kau, Aku.

Namun dalam diam, ternyata ada terselip dosa kecil yang mengganggu. Komunikasi-komunikasi sederhana mungkin lebih mampu membuat kita selangkah lebih dekat pada hal yang entah. Kebencian jarak selalu membuat rindu jadi makin harmonis, rindu jadi makin bijak, rindu jadi makin melekatkan.


Lalu apa yang pantas? Maha Terima Kasih berhasil kau rebut




TETAPLAH


Selalu saja saya, atau mungkin sebagian besar dari kita terjebak dalam penilaian-penilaian tumpul. Bagaimana mungkin kita menilai suatu hal dalam amatan sepintas, apalagi menilai manusia. Manusia adalah makhluk terumit yang terlanjur diciptakan. Gagasan dan teori apapun bisa ditempelkan padanya. Dan uniknya dari kacamata manapun kita melihat, manusia mampu memenuhi semuanya, dan mampu untuk tidak memenuhi semuanya. Atau manusia pada dasarnya kerumitan itu sendiri? Lantas kita selalu memberikan kesimpulan kepada manusia lain pada setitik waktu dalam hidupnya. Ayolah.... 24 jam sehari, 365 hari setahun, berapa banyak orang yang dia temui, berapa banyak inspirasi yang didapat, bagaimana gesekan lingkungan yang dihadapi? Dan setelah bercengkrama pada sebuah titik kecil di waktu umurnya kau mengatakan baik, buruk, pintar, bodoh, hebat, biasa. kasian

Siapa manusia paling sunyi di dunia ini? Merekalah orang-orang yang memutuskan dirinya untuk menjadi manusia yang sebenarnya. Manusia yang memutuskan untuk berfikir. Namun sayangnya, kedalaman dalam berfikir selalu ditumpulkan oleh lingkungan. Manusia yang berfikir dalam berarti sudah siap atau mau tak mau siap untuk mengalami banyak kekecewaan, karena menjadi minor. Lihat saja puisi-puisi mengalir dari pesajak seperti Rendra, Saut, Gusmus, Chairil Anwar, lihat saja pemikir-pemikir besar menyatakan diri seperti Galileo, Descartes, Marx, Nietzche, lihat saja penemu-penemu besar merasakan seperti Einstein, Edison dan masih banyak manusia lain, yang menganggap dunia ini penuh dengan kesepian. Kalian yang merasakan sepi akan kesendirian? Kalian tidak sendiri
Namun tetaplah bermanusia, tetaplah gunakan topeng-topeng itu. Diluar sana terlalu kejam, terlalu sadis. Tetaplah melakukan, tetaplah memberi. Diluar sana membutuhkan. Apa sebenarnya yang dicari dalam hidup ini? Itu tidak sesimpel makan, minum, beranak, senyum, dan mati. Semua saling membutuhkan. Namun seringkali tanggung jawab hanya muncul diwilayah kesadaran. Namun sejauh mana kesadaran mampu dibatasi?


Tetaplah sepi, tetaplah sadar, tetaplah hidup


Minggu, 15 November 2015

TERLALU


Saya mau tulis apa malam ini? Kenapa saya menulis lagi? Atau kenapa harus menulis? Atau ada apa dengan tulisan? Atau apa hubungan saya dan tulisan yang makin kesini makin akrab? Tidak tahu, begitu saja rasanya ingin menulis.

Seperti biasa, hampir bisa dipastikan bahwa arah ini akan menuju ruang sedih. Entah apa yang merasuki darah dari gen-gen hidup penyusunku. Begitu mudah dilayukan pada suasana apa saja. Rasanya sama saja, kemarin, kemarin dari kemarin, hari ini, kemungkinan besar besok, dan besok dari besok. Haruska saya menulis lagi untuk hal yang itu-itu saja? Sementara esensi dari beberapa tulisan sebelumnya mungkin segaris benang.

Apa yang terjadi sebenarnya? Semakin saya merasa menemukan, semakin semua menjadi sedih. Apa ini benar saya? Sedih? Abstrak sekali. Ayolah.... terlalu banyak yang mau dilakukan si tubuh dibanding rasa mayor ini. Menyiksa. Seperti hati yang hanya diberi satu iklim, mendung grimis.

Tuhan memberi kita hal terlalu spesial. Kesadaran dan nalar bisa menjadi apa saja. Pada akhirnya tulisan-tulisan ini hampir tidak berarti apa-apa kecuali sejarah pada waktu khayal. Apa yang sebaiknya saya lakukan selain tidur, makan dan bernafas? Tetap hidup sepertinya. Hidup yang benar benar hidup. Terlalu banyak yang mau difikirkan, terlalu banyak tuntutan. Hidup mungkin memang terlalu banyak keterlaluan, maka selama semua bisa terlalui, semua akan berlalu.


Oh iya, akhir ini media disesaki berita negara Prancis. Apapun bentuknya, subjektif ku yang kurang sehat menganggap itu hal biasa. Perasaan manusia sudah akrab dengan perang dan kematian? Yang satu dihebohkan dibanding yang lain, sekali lagi terlalu banyak misteri. Manusia dimanapun yang lagi bersedih, peluk hangat akan terbang dari hati ini menyelimuti kalian. Kuputuskan untuk tidak mengganti foto profil di Facebook dengan tiga warna transparan bukan berarti saya tidak peduli, tapi tindakan kesimpulan telah berkutat jauh dalam kepala. Dan semoga kampus ku besok tidak menambah derita manusia-manusia yang merasa sudah terlalu terkerdilkan.


Sabtu, 14 November 2015

PERJALAN LINTAS BUDAYA


Saya berada dititik kebingungan ketika ditanyakan, apa yang telah saya lakukan sebagai kaum muda dalam melestarikan kebudayaan daerah? Sementara bahasanya saja saya mulai jarang gunakan, kita mulai jarang gunakan, khususnya di perkotaaan. Ada realita yang kurang tepat pada mayoritas masyarakat di kota Makassar, dimana berbahasa daerah dianggap hal yang kampungan. Bahasa nenek yang mulai memudar.

Kita boleh katakan acara “Budaya ta” yang diadakan oleh organisasi IKAMI SulSel Cab.Malang adalah bentuk kegiatan dalam upaya melestarikan dan memperkenalkan budaya Sulawesi Selatan. Tapi sosok besar dalam esensi itu adalah mereka, para pemusik, yang di datangkan langsung dari Sulawesi. Mereka adalah tokoh-tokoh pejuang yang sebenarnya.

Perkenalkan saudara saya, k’Palem, k’Awha, k’Lumut, k’Sulo, k’Upong. Mereka adalah kelompok musik daerah yang mengatas namakan diri sebagai “Pa’rasanganta Project”. Mereka telah kaya akan jam terbang dalam hal melestarikan musik daerah di Sulawesi. Alat berupa gendang, parappasa, pui-pui, suling bambu, katto-katto merupakan senjata utama mereka. Namun tak melupakan sisi perkembangan zaman dan selalu mengkombain alat khas itu dengan alat lain seperti jimbe, biola, gitar, dll.

Idealis kelompok menuntun mereka pada karya-karya dan penampilan yang penuh penghayatan. Mereka bahkan berani menolak di ajak bermain ketika didalamnya terselip kepentingan-kepentingan politik yang bisa saja merusak kemurnian mereka dalam berkarya. Tak hanya hebat dalam bermain musik, mereka juga hebat dalam hal wawasan umum. Itu menjadi hal yang sangat menyenangkan dalam perbincangan kami di sela-sela malam kota Malang.

Suatu saat ketika saya balik lagi ke kota tercinta, Makassar, jangan lupakan saya. Saya banyak butuh bimbingan, saya banyak butuh teman, saya banyak butuh suasana sesuai di makassar, dan sepertinya kakak kakak punya semua itu. Perbincangan kita mengenai perbandingan iklim seni di Makassar yang tak terpetakan dengan baik karena berbagai sudut pandang, terkhusus karena mayoritas sosok tua kurang begitu memandang seni sebagai hal yang indah dan patut di perjuangkan, sedikit jauh jika dibanding kota  Malang.

Namun perjuangan ini tidak berhenti disini, memang berat, namun selama melakukan walaupun kecil setidaknya kita bisa membuat sebuah perubahan. Beberapa dari kaum muda memang sudah seharusnya ada yang memikirkan hal ini. Mengingat seni adalah bentukan lain dari hati yang melampiaskan perasaan dan fikiran, maka seni adalah bagian dari manusia.


Salam dari saudara di Malang. Midi, nama saxo saya, katanya tidak sabar mau main bareng. Midi juga sedih tidak sempat foto bareng sama kalian. hahaha... 





Kamis, 12 November 2015

RANGKUMAN "A BRIEF HISTORY OF TIME" Part 3




BAB 9 PANAH WAKTU

Awalnya kita menganggap waktu itu mutlak secara khas. Namun teori itu telah kita tinggalkan. Jadi waktu menjadi konsep lebih pribadi dan relatif terhadap pengamat yang mengukurnya. Ketika kita ingin mempersatukan gravitasi dan mekanika kuantum, haruslah dihadirkan gagsan waktu “khayal”. Waktu khayal tak bisa dibedakan dengan arah dalam ruang. Dalam waktu “nyata” terdapat perbedaan besar antara arah maju dan mundur seperti yang kita ketahui bersama. Nmaun dalam waktu “khayal” tak ada perbedaan penting antara arah maju dan mundur.

Darimana perbedaan antara masa lalu dan masa depan itu datang? Mengapa kita mengingat masa lalu tapi tak mengingat masa depan? Kita tak akan bisa mengamati dalam kehidupan sehari-hari seperti film yang dapat diputar maju mundur. Penjelasan yang biasa diberikan mengenai kenapa kita tak melihat pengunduran adalah karena `hal demikian dilarang oleh hukum termodinamika. Hukum kedua termodinamika mengatakan bahwa ketidakteraturan/entropi selalu meningkat seiring waktu. Gelas utuh dalam keadaan sangat teratur, semestara gelas pecah dilanati dalam keadaan tak teratur. Gelas di atas meja pada masa lalu bisa menjadi gelas pecah di lantai pada masa depan, tapi tidak bisa sebaliknya. Jadi ketidakteraturan potongan akan mungkin meningkat seiring waktu jika kondisi awal potongan-potongan adalah sangat teratur. Tapi anggaplah Tuhan memutuskan bahwa alam semesta harus berakhir dalam keadaan sangat teratur dan tak penting dalam keadaan apa alam semesta bermula.

Makhluk-makhluk seperti kita bakal punya panah waktu psikologis yang terbalik. Artinya, mereka bakal mengingat peristiwa-peristiwa masa depan, dan tak mengingat peristiwa masa lalu. Namun menjelaskan otak sangat rumit, sehingga om Hawking hanya membahas panah waktu memori komputer yang sedikit lebih mudah dijabarkan namun tetap pada esensinya. Rasa subjektif arah waktu, panah waktu psikologis, ditentukan dalam otak oleh panah waktu termodinamika. Seperti komputer, kita harus mengingat hal-hal sesuai urutan meningkatnya entropi.

Tapi mengapa harus ada panah waktu termodinamika? Atau mengapa alam semesta harus berada dalam keadaan keteraturan tinggi pada satu ujung waktu, ujung yang kita sebut ujung masa lalu? Mengapa alam semesta tak berada dalam keadaan serba tak teratur setiap waktu? Mungkin memikirkan apa yang terjadi kalau alam semesta mulai menyusut itu hanya urusan akademis, karena alam semesta tak akan mulai menyusut sampi sekurang-kurangnya sepuluh miliar tahun lagi. Tapi ada cara yang lebih cepat untuk mencari tahu apa yang akan terjadi, dengan melompat ke dalam lubang hitam. Keruntuhan bintang yang menyebabkan lubang hitam sangat mirip dengan tahap-tahap akhir keruntuhan seluruh alam semesta. Namun itu hampir tidak mungkin dilakukan.

Awalnya dikira, setelah sejauh ini, orang pada fase penyusutan bakal menjalani hidup secara terbalik. Mereka bakal mati sebelum lahir dan makin muda selagi alam semesta menyusut. Namun tenryata itu keliru. Kondisi tanpa perbatasan menyiratkan bahwa ketidakteraturan bakal terus meningkat selama penyusutan. Arah panah waktu termodinamika dan psikologis tak bakal berbalik ketika alam semesta mulai menyusut kembali, ataupun di lubang hitam.

Alam semesta harus mengembang dengan laju mendekati laju kritis untuk menghindari keruntuhan kembali, sehingga tak akan menyusut untuk waktu yang lama. Pada waktu itu semua bintang telah habis bahan bakarnya dan proton serta neutron dalam bintang sudah meluruh menjadi zat cahaya dan radiasi.

Panah termodinamika yang kuat diperlukan agar kehidupan cerdas bisa beroperasi. Agar bisa hidup, manusia harus makan makanan yang merupakan bentuk energi teratur, dan mengubah makanan menjadi panas yang merupakan bentuk energi tak teratur. Jadi, kehidupan cerdas tak dapat ada di fase penyusutan alam semesta dan kehidupan cerdas hanya terjadi di fase pengembangan.

Hukum-hukum sains tak membedakan antara arah waktu maju dan mundur. Tapi setidaknya ada tiga panah waktu yang membedakan masa lalu dan masa depan. Ketiganya adalah panah termodinamika, arah waktu yang menunjukkan peningkatan ketidakteraturan, panah psikologis adalah arah waktu yang menyebabkan kita ingat masa lalu tapi tak ingat masa depan, dan panah kosmologis yaitu arah waktu yang menunjukkan alam semesta mengembang, bukan menyusut.

Jika pembaca buku ini, katanya, mampu mengingat tiap kata di buku ini, ingatan kita akan merekam sekitar dua juta potong informasi (keteraturan dalam otak akan meningkat sekitar dua juta unit). Namun selagi membaca buku ini, kita akan mengubah setidaknya seribu kalori energi teratur, dalam bentuk makanan menjadi energi tak teratur dalam bentuk panas yang dilepas ke udara sekitar kita melalui konveksi keringat. Itu akan meningkatkan ketidakteraturan alam semesta sekitar dua ouluh juta juta  (dengan sepuluh juta juta juta kali peningkatan keteraturan dalam otak). Dan itu terjadi kalau kita mampu mengingat semua isi buku ini.

BAB 10 LUBANG CACING DAN PERJALANAN MENEMBUS WAKTU

Bisakah kita bepergian ke masa depan atau masa lalu? Menurut relativitas, tak ada yang bisa bergerak lebih cepat dari cahaya. Jika kirim pesawat antariksa ke bintang tetangga terdekat, Alpha Centauri, yang kira-kira empat tahun cahaya jaraknya dari kita, dibutuhkan secepat-cepatnya delapan tahun sampai kita dapat menyambut kembali orang-orang yang pergi kesana untuk menceritakan apa yang ditemukan. Jika ekspedisinya bertujuan menuju pusat galaksi kita, diperlukan setidaknya seratus ribu tahun perjalanan pulang pergi. Itupun jika kita berangkat dengan kecepatan cahaya atau sedikit dibawah itu.

Relativitas memberi jalan keluar untuk itu yang disebut paradoks kembar. Mungkin ruang-waktu bisa dilengkungkan sehingga ada jalan pintas antara A dan B. Salah satu caranya adalah membuat lubang cacing (wormhole) antara A dan B. Seperti dikesankan namanya, lubang cacing adalah tabung tipis ruang-waktu yang bisa menghubungkan dua daerah hampir rata dan berjauhan.

Pada 1935, Einstein dan Nathan Rosen menulis makalah yang menunjukkan bahwa relativitas umum memperkenankan apa yang disebut “jembatan”, tapi sekarang dikenal dengan lubang cacing. Jembatan Einstein-Rosen tak bertahan cukup lama untuk bisa dilewati pesawat antariksa. Pesawat bakal bertemu singularitas selagi lubang cacing menyempit. Tapi diusulkan bahwa peradaban yang maju mungkin bisa menjaga lubang cacing tetap terbuka. Untuk melakukan itu, atau melengkungkan ruang-waktu dengan cara yang lain agar memungkinkan menembus waktu. Bisa ditunjukkan bahwa yang diperlukan adalah daerah ruang-waktu dengan kelengkungan negatif.

Selagi kita masih dan makin maju dalam sains dan teknologi, kita kelak bakal bisa membuat mesin waktu. Tapi jika benar itu bisa terjadi, mengapa belum ada orang yang datang dari masa depan dan memberitahu kita cara membuatnya? Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa kunjungan UFO adalah bukti kita dikunjungi oleh makhluk luar angkasa atau orang dari masa depan. Namun menurut Om Hawking, mengapa para UFO itu hanya menunjukkan diri kepada orang-orang yang tak dianggap saksi yang bisa dipercaya? Jika mereka mencoba memperingati kita akan adanya bahaya besar, mereka kurang efektif.

Anggaplah kita bisa ke masa lalu dan membunuh kakek moyang kita selagi dia masih anak-anak. Ada banyak versi paradoks untuk itu, tapi intinya sama, bahwa bakal ada kontradiksi bila masa lalu bebas diubah. Paradoks pertama ialah Pendekatan sejarah konsisten yang berarti kita tidak dapat menunjukkan bahwa kita sudah kembali ke masa lalu, dan selagi berada disana, kita tak bisa membunuh kakek moyang dan tidak boleh, atau melakukan tindakan apapun yang bertentangan dengan masa kini. Artinya, kita tak punya kehendak bebas untuk berbuat semaunya. Paradoks kedua ialah Hipotesis sejarah alternatif yang intinya ketika para penjelajah waktu kembali ke masa lalu, mereka memasuki sejarah laternatif yang berbeda dari sejarah yang tercatat. Jadi mereka bisa bertindak bebas tanpa dibatasi konsistensi terhadap sejarah sebelumnya. Richard Feynman menyampaikan dalam penjelasannya mengenai teori kuantum bahwa alam semesta tak hanya punya satu sejarah, namun alam semesta mengalami semua sejarah yang mungkin, masing-masing dengan peluang sendiri.

BAB 11 UNFISIKASI FISIKA

Sukar sekali membangun teori terpadu lengkap yang mencakup seluruh alam semesta sekaligus. Pencarian teori itu dikenal dengan sebutan “unfisikasi fisika”. Dalam upaya itu yang dijelaskan sangat rumit dalam bab ini, muncullah usaha-usaha dengan gagasan tambahan seperti adanya supergravitasi, superzarah, teori dawai, dll. Namun teori dawai nampaknya punya masalah besar karena hanya konsisten jika ruang-waktu punya sepuluh atau dua puluh enam dimensi, bukan hanya empat!! Itu sangat luarbiasa sulit dipahami dan dibayangkan. Membayangkat empat dimensi saja sudah ribet.

Orang orang yang mencari teori itu namun belum berhaasil. Tapi saya percaya mungkin tidak ada satu perumusan tunggal teori dasar sebagaimana, seperti Godel tunjukkan, bahwa aritmatika dapat dirumuskan dalam satu set aksioma. Mungkin lebih mirip dengan peta. Kita tak bisa menggunakan satu peta untuk menjabarkan permukaan bumi, diperlukan setidaknya beberapa peta dan cincin agar semua titik di permukaan bisa terpetakan. Tiap peta hanya berlaku di daerah terbatas. Kumpulan peta menyediakan penjelasan lengkap atas permukaan. Seluruh perumusan dapat dianggap satu teori terpadu yang lengkap, walau tak dapat dinyatakan dalam satu set postulat.

Tapi benarkah bisa ada satu teori terpadu? Atau kita hanya mengejar ilusi? Tampaknya ada tiga kemungkinan.
  1.  Benar-benar ada teori terpadu lengkap yang akan kita temukan kelak
  2.  Tak ada teori pamungkas, hanya ada serangkaian teori yang tak habis-habis yang menjelaskan alam semesta semakin lama semakin akurat.
  3. Tak ada teori mengenai alam semesta, peristiwa-peristiwa hanya bisa diprediksi sampai batas tertentu dan terjadi secara acak serta semaunya.

Beberapa orang mendukung kemungkinan ketiga kerena menurut mereka, apabila ada set hukum lengkap, maka kebebasan Tuhan untuk berubah pikiran dan mengintervensi dunia jadi terbatas.. mirip paradoks lama: karena tidak ada yang tidak mungkin, maka bisakah Tuhan membuat batu yang sangat berat sehingga Dia sendiri tak bisa mengangkat batu itu?

Newton, seorang terdidik bisa saja memahami keseluruhan pengetahuan manusia, setidaknya secara garis besar. Tapi sesudah laju perkembangan sains membuat pemahaman seperti itu mustahil dicapai. Karena beberapa hal selalu diubah untuk menjelaskan pengamatan baru. Teori-teori tak pernah diresapi dengan baik atau disederhanakan supaya orang biasa bisa mengerti. Untuk memahaminya, orang terlebih dahulu harus jadi spesialis, dan kalau kita jadi spesialispun kita hanya bisa memahami sebagian kecil teori. Selain itu, laju kemajuan sains sangat cepat dan pesat sehingga yang dipelajari di sekolah atau universitas selalu agak ketinggalan. Hanya segelintir orang yang bisa mengikuti kemajuan garis terdepan pengetahuan, dan mereka harus mencurahkan seluruh waktunya untuk menjadi spesialis di bidang yang sempit.

Kalaupun nanti, jika teori terpadu ditemukan, kiranya tinggal menunggu waktu sampai teori itu dicerna dan disederhanakan seperti relativitas yang membutuhkan beberapa puluh tahun sampai bisa dipahami banyak orang dan di ajarkan disekolah, walaupun hanya garis besar. Maka kemudian kita semua bisa mengerti hukum-hukum yang mengatur alam semesta dan bertanggung jawab atas keberadaan kita.

Sampai sekarang, menurut Om Hawking, sebagian besar ilmuwan terlalu sibuk dengan mengembangkan teori-teori baru yang menjabarkan seperti apa alam semesta sehingga tak sempat bertanya mengapa. Para filsuf, belum sekarang belum mampu menyusul kemajuan teori-teori sains. Walaupun awal sains dan induk pengetahuan adalah bagian filsafat, namun setelah abat sembilan belas dan dua puluhsains menjadi terlalu teknis dan matematis bagi filsuf dan semua orang. Para filsuf pun mulai mempersempit bidang mereka, sampai-sampai Wittgenstein, filsuf paling terkenal abad keduapuluh berkata “satu-satunya tugas yang tersisa bagi filsafat adalah analisis bahasa”. Mengenaskan sekali penurunan ini dibanding tradisi filsafat sejak aristoteles sampai Kant!. Kata om Hawking.


Jika kita menemukan jawaban hukum alam semesta menyeluruh, itulah kemenangan pamungkas nalar manusia, karena itu artinya kita telah mengetahui ISI PIKIRAN TUHAN.



 
biz.